fbpx
2 Orang Warga Negara China Bos Pinjol Diburu Polisi

2 Orang Warga Negara China Bos Pinjol Diburu Polisi

Jakarta, KOBAR – Kabareskrim Polri, Komjen Pol Drs Agus Andrianto SH MH, menerbitkan telegram berisi perintah pada jajarannya untuk menindak pelaku pinjaman online (Pinjol) ilegal. 5 orang penyedia pinjol ilegal telah ditetapkan sebagai tersangka dan 2 orang warga negara China, yang diduga sebagai pengendali pinjol di Indonesia diburu polisi.

“Kabareskrim telah mengirim telegram ke seluruh jajaran Polri di Indonesia, untuk mengungkap perkara pinjaman online ilegal,” kata Kombes Pol Wisnu Hermawan SIK, Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Wadirtipideksus), Bareskrim Polri, Sabtu, (19/6).

Dengan telegram tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat menjawab keresahan masyarakat soal maraknya pinjol ilegal di berbagai daerah. Saat ini, jelasnya, jajaran Dittipideksus Bareskrim Polri terus mendata dan mendalami laporan masyarakat atas teror pinjaman online.

“Tapi masih banyak lagi yang melaporkan terkait pinjol tersebut. Sampai hari ini anggota kami masih proses penyelidikan di berbagai daerah,” tegasnya.

Sebelumnya, Bareskrim Polri dilaporkan telah berhasil mengungkap kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan penipuan melalui aplikasi pinjaman online (pinjol) yang bernama RP Cepat. Pengungkapan ini bermula dari laporan masyarakat terkait adanya aplikasi pinjaman dengan suku bunga tinggi.

Kombes Pol Wisnu Hermawan SIK, menyatakan, bahwa selama aplikasi RP Cepat beroperasi, mereka tidak memiliki legalitas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

2 Orang Warga Negara China Bos Pinjol Diburu Polisi Konferensi Pers Bareskrim Polri
Konferensi Pers Bareskrim Polri

“Kami informasikan kepada masyarakat bahwa aplikasi RP Cepat tidak memiliki izin, secara legalitas perusahaan ini tidak memiliki izin. Ini sesuai dengan hasil penyelidikan langsung kami dan pihak OJK di lapangan,” kata Wisnu, Kamis, (17/6).

Dalam menjalankan operasinya, jelas Wisnu, pihak pengelola aplikasi RP Cepat tersebut tidak memiliki tempat atau alamat perusahaan yang tetap.

“Mereka pindah-pindah, terakhir di Jakarta Barat terungkap perusahaan itu mengontrak rumah. Dari sini terdapat 5 orang ditangkap dan 2 orang yang diduga sebagai pengendali aplikasi masuk DPO, diduga warga negara asing dari China,” tuturnya.

Diketahui, lanjut Wisnu, 2 orang DPO asal China itu, bernama Gao Kun dan Xuan Wei. Keduanya diduga masih berada di Indonesia, dan saat ini tengah dicekal pergi ke luar negeri oleh Dirjen Imigrasi.

Ia menegaskan, bahwa penetapan 5 tersangka dan 2 DPO ini bukan didasari penerapan suku bunga yang tinggi, tetapi juga terkait SMS blasting, serta teror kepada peminjam uang sebelum tenggang waktu yang ditetapkan. Sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Ini kita lihat melalui barang bukti yang ada, berupa SIM Card dan alat-alat lainnya. Mereka juga melakukan SMS blasting kepada para peminjam. Ini jelas sangat meresahkan, meski korban mengalami kerugian yang sangat kecil, namun jumlahnya jika diakumulasikan sangat besar,” pungkas Kombes Pol Wisnu Hermawan SIK. (knda)

Don`t copy text!