fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

12 Ton Telur Ayam Asal Pulau Lombok Ditolak Masuk Pulau Sumbawa

12 Ton Telur Ayam Asal Pulau Lombok Ditolak Masuk Pulau Sumbawa

Poto Tano, KOBAR – Penyelundupan 12 ton telur ayam tanpa dokumen dari Pulau Lombok untuk tujuan pemasaran di Pulau Sumbawa, dilaporkan berhasil digagalkan tim gabungan Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Sumbawa Wilayah Kerja (Wilker) Pelabuhan Ferry Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

Telur ayam untuk dikonsumsi itu ditolak masuk Pulau Sumbawa, karena produk asal hewan dari Pulau Lombok tersebut, tidak dilengkapi sertifikat kesehatan dari daerah asal.

“Sertifikat Kesehatan dari daerah asal adalah syarat wajib. Karena kami harus memastikan dan memberikan jaminan, bahwa produk asal hewan yang masuk ke Pulau Sumbawa bebas dari hama penyakit hewan dan aman dikonsumsi masyarakat setempat,” kata Erin, Pejabat Karantina Pertanian Sumbawa, Kamis, (7/10).

12 Ton Telur Ayam Asal Pulau Lombok yang Ditolak Masuk Pulau Sumbawa

Untuk masuk wilayah Pulau Sumbawa, jelasnya, semua komoditas tumbuhan atau hewan maupun produk turunannya, harus dilengkapi dokumen kesehatan karantina dari daerah asal. Hal tersebut, katanya, sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019, tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

“Demi menjaga tidak masuk dan tersebarnya hama penyakit di suatu daerah, maka Pejabat Karantina harus tegas melakukan pengawasan dan menegakkan ketentuan perkarantinaan pertanian. Kami berharap masyarakat dapat berpartisipasi aktif dengan patuh lapor karantina, setiap akan melalulintaskan hewan atau tumbuhan dan produk turunannya,” jelasnya.

Truk Pengangkut Telur Ayam dari Pulau Lombok Diperiksa Tim Gabungan Karantina Pertanian Sumbawa

Pihaknya, terang Erin, tidak mau lengah dalam urusan lalu lintas hewan dan tumbuhan serta produk turunannya. Pihaknya tetap terus meningkatkan kewaspadaan dan kerjasama dengan semua pihak terkait, baik TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya. Dan tidak lupa juga, tambahnya, pihaknya terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar mematuhi prosedur perkarantinaan.

“Setelah Pejabat Karantina Pertanian Sumbawa memberikan informasi kepada pemilik media pembawa telur tersebut, dan si pemilik bersedia melengkapi dokumen dalam jangka waktu yang telah ditentukan, yaitu, 2 x 24 jam. Maka kami membuat surat pelepasan KH-14, sebab dokumen yang telah dipersyaratkan telah dipenuhi,” demikian Pejabat Karantina Pertanian Sumbawa. (klar)

Don`t copy text!