fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

222 Guru dan 156 Siswa Positif Covid-19, PeduliLindungi Bakal Diterapkan di Sekolah - Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

222 Guru dan 156 Siswa Positif Covid-19, PeduliLindungi Bakal Diterapkan di Sekolah

Jakarta, KOBAR – Kasus aktif Covid-19 pada satuan pendidikan di beberapa daerah di Indonesia saat ini dilaporkan ada 378 kasus. Kasus aktif tersebut terdiri dari 222 orang guru dan 156 orang siswa yang dinyatakan positif Covid-19.

“Memang di posisi terakhir ini, kasus aktif yang ada di satuan pendidikan itu untuk PTK (pendidik dan tenaga kependidikan) terlapor Covid-19 itu ada 222. Kemudian peserta didik itu 156 yang terlapor Covid-19,” beber Jumeri, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Kemendikbudristek, dalam konferensi pers, Jumat, (24/9).

Ia menuturkan, bahwa dirinya telah melakukan tinjauan langsung ke satuan pendidikan yang terjadi penularan Covid-19. Salah satunya, SMA Negeri I Panjang Panjang , Sumatera Barat, yang terdapat 28 siswa terinfeksi Covid-19.

“Saya baru pulang dari Padang Panjang, melihat SMA Negeri 1 Padang Panjang yang sekolah berasrama yang terjadi penularan Covid-19. Ternyata saat ini tinggal 28 siswa yang positif diisolasi di sekolah,” tuturnya.

Mendikbudristek Tinjau PTM Terbatas

Ia juga mengungkapkan, bahwa kasus Covid-19 juga terjadi di SMP Negeri 3 dan SMP Negeri 4 Purbalingga, Jawa Tengah, dengan total siswa yang terinfeksi Covid-19 ada 28 orang. Jumlah ini diketahui, setelah petugas kesehatan melakukan testing dan tracing.

Menurutnya, dengan masih adanya siswa yang terinfeksi Covid-19 ketika PTM terbatas diterapkan dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat, hal itu dikarenakan saat ini masih dalam situasi pandemi. Untuk itu, pihak sekolah diberikan alternatif untuk tetap melayani pembelajaran jarak jauh (PJJ), maupun pembelajaran blending atau campuran bagi siswa yang belum bisa melakukan PTM terbatas. 

Selanjutnya, guna mengantisipasi sekolah menjadi klaster Covid-19, saat pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTMS) terbatas pada situasi pandemi, Kemendikbudristek dan Kemenkes, kata Jumeri, sedang melakukan uji coba pendataan baru dengan aplikasi PeduliLindungi di satuan pendidikan.

“Jadi kita kita sedang proses diskusi antara kami dari Kemendikbudristek dengan pihak Kemenkes, supaya ada data yang valid, bahwa kalau ada laporan tentang penularan itu bisa terintegrasi,” jelas Jumeri.

Mendikbudristek Tinjau PTM Terbatas

Pertimbangan menggunakan PeduliLindungi, jelasnya, karena saat ini survei pendataan sekolah yang menjadi klaster Covid-19 terkendala validasi. Misalnya, ada sekolah yang melaporkan sebagai klaster Covid-19, karena ada keluarga warga sekolah yang terinfeksi Covid-19 tanpa ada penjelasan tambahan. Dalam hal ini, ada yang terinfeksi Covid-19 sebelum PTM terbatas, tetapi telah dilaporkan sebagai klaster sekolah.

“Nah, inilah yang mispersepsi di lapangan juga yang terjadi. Sehingga ini kita hentikan sementara pendataan ini, diganti dengan mengikuti aplikasi PeduliLindungi yang sudah tervalidasi,” paparnya.

Untuk tahap uji coba aplikasi PeduliLindungi ini, pihaknya juga, kata Jumeri, mempertimbangkan satuan pendidikan yang berada di daerah, termasuk warga sekolah yang tidak memiliki gawai. Untuk itu, Jumeri mengatakan, bahwa pihaknya belum dapat memberi penjelasan secara detail terkait penggunaan aplikasi PeduliLindungi, karena memang sedang dalam proses pengkajian.

“Kami belum bisa menjelaskan hal ini karena kita sedang uji coba. Apakah ini memungkinkan untuk kita terapkan pada sebuah sekolah di Indonesia secara individual. Apakah nanti PeduliLindungi bisa digunakan sekolah untuk mewakili anak-anak itu. Saya tahu anak-anak belum memiliki perangkat gadget, jadi kita sedang dalam tahap uji coba, jadi belum bisa memberikan penjelasan,” tutup Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek. (knda)

Don`t copy text!