fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Pangan

Kebutuhan Pangan Warga KSB

Kebutuhan Pangan Warga KSB Sangat Bergantung Pada Pasokan dari Luar

Alimin: Kita Hanya Bisa Produksi Beras

Taliwang, KOBAR – Hingga saat ini, setelah sekian tahun menjadi sebuah daerah otonomi baru, kebutuhan pangan warga Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), dilaporkan masih bergantung pada pasokan dari daerah lain. Sehingga ketika pasokan terhenti, maka harga beberapa komoditas pangan di pasaran akan melambung, apalagi jika ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan kondisi tersebut. Terlebih di tengah kondisi pandemi Covid-19 dan selama bulan puasa, hal tersebut sangat rentan terjadi.

“Iya, sampai saat ini kebutuhan pangan kita masih dipasok dari luar KSB. Mengapa demikian? Karena Daerah kita hanya dapat menghasilkan komoditas beras saja,” beber Ir H M Alimin, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Sumbawa Barat, kepada awak media ini, Rabu, (22/4).

Ir. H. M. Alimin

Alimin menjelaskan, bahwa KSB saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri sekitar 30 sampai 40 persen saja, sisanya, 60 sampai 70 persen dipasok dari luar KSB.

“Komoditas seperti cabai, tomat, sayur, bawang putih dan bawang merah, itu semua kita pasok dari daerah lain,” tutur Alimin.

Selain itu, sambung Alimin, daya beli masyarakat akhir-akhir ini menurun. Dan minat masyarakat untuk berbelanja di pasar pun rendah, karena banyaknya pedagang keliling.

“Gejolak juga terjadi karena harga cabe, bawang dan lain-lain naik. Misalnya harganya dari seribu, naik menjadi seribu seratus. Kenaikannya tidak membuat masyarakat mengeluh, justru malah masyarakatnya yang kurang ke pasar,” kata Alamin.

Persoalan ini terjadi dan menjadi pelik, terang Alimin, karena masyarakat Sumbawa Barat lebih dominan menjadi petani padi saja. Sedikit sekali dari petani KSB yang berminat untuk menanam sayur mayur dan palawija, apalagi rempah-rempah.

“Jarang sekali kita temukan warga kita yang menggeluti menanam sayur, seperti yang dilakukan orang-orang di luar KSB. Misalnya, ada suatu Desa yang menanam cabe, semua masyarakatnya menanam cabe. Namun warga KSB tidak demikian. Mungkin mereka belum berpikir untuk orientasi bisnis, dan hanya menjadi petani padi saja. Malahan, masyarakat yang mempunyai orientasi bisnis hanya pendatang. Seperti di Kecamatan Maluk contohnya. Itu dilakukan oleh orang Jawa, dan Kecamatan Sekongkang dilakukan oleh pendatang dari Lombok,” tutup Ir H M Alimin. (kras)

Don`t copy text!