Tembakau Gorila Ditetapkan Sebagai Narkoba Jenis Baru

Tembakau Gorila Ditetapkan Sebagai Narkoba Jenis Baru

“Sumbawa Barat Telah Jadi Target Peredaran”

Taliwang, KOBAR – Badan Narkotika Nasional (BNN) telah mengumumkan perang kepada para penjual tembakau Gorila. BNN bahkan memberi imbauan bagi masyarakat yang tahu keberadaan penjual tembakau Gorila agar segera melapor. Tak pelak, Badan Narkotika Nasional  Kabupaten (BNNK) Sumbawa Barat pun tak mau tinggal diam, menyusul  adanya informasi bahwa tembakau Gorila sudah mulai beredar di wilayah setempat.

“Informasi mengenai peredaran tembakau itu di Sumbawa Barat sudah ada kami terima, namun sampai sejauh ini belum ditangkap tangan. Untuk itu, kami masih perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai peredaran dan keberadaannya,” ungkap Kepala BNNK Sumbawa Barat, AKBP Jolmadi SPd.

Meski masih perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut, namun dari informasi awal, tembakau Gorila memiliki kandungan zat kimia jenis tertentu yang sangat berbahaya. Untuk itu, guna mencegah beredarnya tembakau yang masuk dalam kategori narkotika jenis baru tersebut pihaknya memastikan akan mengambil langkah antisipatif.

“Makanya, sebelum barang itu benar-benar masuk ke Sumbawa Barat, kita lakukan pengawasan ketat agar tidak lolos dan masuk ke KSB,” katanya.

Biasanya, jika ada narkotika jenis baru akan membuat para pengguna penasaran sehingga berusaha mendapatkan untuk mencobanya. Terutamanya bagi kalangan remaja baik itu pelajar dan mahasiswa.

“Karena biasanya, para remaja memiliki rasa ingin tahu yang kuat lalu ingin mencobanya. Dan kalau sudah mencobanya, akan kecanduan. Ini yang harus kita cegah,” imbuhnya.

Untuk itu, selain melakukan pengawasan ketat, pihaknya memastikan akan mensosialisasikannya kepada masyarakat dan kalangan pelajar  mengenai bahaya tembakau tersebut,  sehingga masyarakat dapat mengenali ciri-ciri dari narkotika jenis baru tersebut dan tidak terjerumus pada penyalahgunaannya.

“Untuk tahap awal ini,  kita masih terus melakukan pencegahan dan antisipasi peredaran narkotika jenis tembakau Gorila ini, dengan melakukan sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Kita akan datangi sekolah-sekolah, dan masyarakat untuk memberikan pemahaman tentang bahaya dari tembakau ini. Termasuk menyampaikan agar masyarakat dapat memberikan laporan jika menemukan keberadaan dan peredarannya,” cetusnya.

Saat disinggung terkait efek penggunaan tembakau Gorila, Jolmadi mengatakan  efeknya lebih parah dibandingkan penggunaan narkotika jenis ganja ataupun sabu. Pengguna tembakau gorila bisa merasakan dampak yang luar biasa seperti badan gemetaran hingga tidak bisa bergerak.

“Katanya badan bisa tidak bergerak seolah-olah ditimpa Gorila. Cara penggunaanya dihisap seperti ganja,” terangnya.

Seperti diketahui, selama kurang lebih satu tahun lalu, peredaran Tembakau Gorila ini boleh dikatakan bebas. Karena belum ada hukum yang mengaturnya. Namun sejak tanggal 9 Januari 2017 lalu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peraturan baru yakni Permenkes Nomor 2 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika. Dalam peraturan menteri itu, dijelaskan bahwa tembakau gorila masuk dalam daftar Narkotika Golongan 1, dimana zat-zat yang termasuk dalam Golongan 1 ini hanya boleh digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, para pengguna atau pengedar Tembakau Gorila ini dapat dikenai sanksi pidana sesuai UU Narkotika Nomor 35 tahun 2009. (ktas)

Don`t copy text!