fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Jejak Kasus Perseteruan WNA dengan Nominee yang Berujung Bui

Taliwang, KOBAR – Hasil investigasi dan penelusuran yang dilakukan media ini, jika ada sejumlah PMA yang telah menguasai kawasan wisata yang bakal bernasib sama dengan PT Ubantu yang dulu hendak membangun kota Satelit diatas lahan seluas 1.800 hektar di Jelengah, namun konsep dan perencanaan itu hanya modus yang sampai saat ini belum terealisasi, bahkan pihak asing yang bernama Nichole A Jennings mengklaim sebagai pemilik modal telah menyeret nominee ke dalam penjara. Kasus itu sendiri telah coba ditelusuri media ini.

Adalah seorang Warganegara Australia, bernama Nichole A Jennings dimana sudah sejak 2002 berkiprah di NTB dan memiliki partner lokal. Kala itu Nichole juga berteman dengan pasangan suami-istri warga Australia bernama Mark Petch serta Heidi. Nichole, Mark, dan Heidi bermaksud untuk memulai bisnis penguasaan lahan di pulau Lombok dan Pulau Sumbawa (Jelengah, red) dengan cara nominee (praktik pinjam nama untuk beli tanah) dengan memanfaatkan partner.

Pembelian lahan dilakukan secara bertahap. Awalnya, total lahan yang dibebaskan sekitar 98 are (1 are adalah 100 meter2). Untuk “mengikat” partner, para WNA itu membuat surat pernyataan bahwa uang yang dipergunakan untuk membeli tanah itu adalah uang Nichole dan Heidi. Surat pernyataan itu dibuat di notaris bernama Edi Hermansyah.

Sambil pembelian lahan itu berlangsung, Nichole, Mark, dan Heidi mengajak satu teman mereka lagi yang bernama MC Millan David (orang Australia) untuk ikut bekerjasama. Mereka lantas membentuk perusahaan PMA, bernama PT Vassa. Dalam struktur perusahaan itu dicantumkan nama Nichole, Mark, dan David sebagai pemilik. Heidi tidak dimasukkan.

Perusahaan itu rencananya akan mendirikan hotel di atas tanah yang dibebaskan di Dusun Jelengah itu, Namun PT Vassa tampaknya hanya akal-akalan saja, karena faktanya tidak pernah terwujud dan apalagi beroperasi. Meski begitu Nichole CS masih sering berkunjung ke Sumbawa untuk memantau progress pembelian lahan yang dilakukan partnernya.

Pada 2002, terjadi tragedy Bom Bali. Peristiwa itu tampaknya membuat Nichole, Mark, Heidi, dan David takut datang ke Bali dan NTB. Meski begitu Nichole tiap bulan rutin mengirim uang “jasa” jaga lahan kepada partnernya.

Pada 2004, Nichole berkonflik dengan Heidi dan rekan-rekan bule lainnya, lalu berkerjasama dengan orang lokal yang diajak untuk membuat surat pernyataan baru di hadapan notaris, yang berisi bahwa uang yang digunakan untuk membeli lahan seluas 98 are adalah uang Nichole saja dan akhirnya, Heidi dan kawan-kawannya terdepak.

Sejak saat itu Nichole makin sering ke Jelengah untuk melanjutkan bisnis caplok lahan bersama rekannya tersebut dan pada 2009 Nichole mendirikan perusahaan PMA baru, namanya PT Ubantu. Kali ini target penguasaan lahannya lebih fantastis, dimana Nichole berobsesi untuk menguasai seluruh bagian pantai paling strategis di Jelengah dengan total luas lahan mencapai 1.800 hektar. Untuk mewujudkan itu pada 2009 Nichole lantas berkerjasama dengan John Trimble (nama aslinya adalah John Trimbole). Konon dari John ini uang Nichole berasal. John bukan orang sembarangan, ia adalah orang kaya papan atas Australia sekaligus salah satu raja dunia hiburan esek-esek dan klub malam di Australia. John juga keponakan dari Robert Trimbole, salah satu mantan mafia terbesar di Australia.

Dalam surat persetujuan penanaman modal yang dikeluarkan Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM), pada 3 April 2009 dinyatakan bahwa penyertaan modal dalam PT Ubantu adalah Nichole Jennings sebesar US$ 2 juta dan Ocean Vision Holding Limited (Hongkong) US$ 500 ribu. Alamat kantor Ubantu adalah di Medana, Dusun Jambianom, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Lombok Barat. Namun lagi-lagi, fisik kantor itu sebenarnya tidak pernah ada. Anehnya meski dua kali membentuk PT PMA namun Nichole tidak memiliki kitas, ia hanya berbekal visa turis untuk keluar masuk Indonesia.

Melalui PT Ubantu, Nichole mempromosikan rencana pembuatan kota satelit di Sumbawa (Sekarang KSB), di atas lahan 1.800 hektar yang dia incar sejak awal. Rencana proyek pembuatan kota satelit di Jelengah itu sempat menjadi pembicaraan di Australia, berdasarkan riset, sejumlah media negeri kanguru itu sempat membahas tentang rencana megah tersebut. Bahkan menurut Kepala Bidang Kerjasama dan Penanaman Modal BKPM NTB Irvan Zahidi, proyek Ubantu membangun kota satelit itu sempat masuk peta MP3EI, tapi kemudian kabar berlalu begitu saja.

Kala itu Nichole juga berhasil menggaet Popo Danes, arsitek papan atas asal Bali (pemenang ajang desain ASEAN Energi Award 2008) untuk masuk menjadi tim arsitek. Tidak cukup di situ, Nichole juga menggaet Lawrence Elms, salah satu arsitek paling tenar di Australia, untuk ikut membuat desain konsep kota satelit itu. Lawrence, pemilik Elms Partner, juga bukan orang biasa, ia adalah pengkonsep pembangunan Dubai International Financial Centre (DIFC). Alhasil, banyak pengusaha Australia yang tertarik untuk berinvestasi di proyek itu.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini, berkat kelihaian lobi Nichole, Bupati Kabupaten Sumbawa saat itu kepincut dan mengamini proyek itu. Beberapa kali proyek itu dipresentasikan di pendopo kabupaten. Tidak sekedar memberi izin, pemerintah Kabupaten Sumbawa mengizinkan Ubantu mengkapling 1.800 hektar lahan untuk dibebaskan, bahkan mendorong warga supaya bersedia melepas tanah mereka.

Perjalanan PT Ubantu tidak berjalan mulus bahkan bubar, lantaran antara Nichole dengan mitra lokal pecah kongsi. Kisaran pada pada Agustus-September 2012 Nichole membuat Perusahaan PMA baru bernama PT Kerajaan West Sumbawa, namun kali ini pendirian PMA itu tidak memasukkan nama Nichole sebagai pemilik modalnya, melainkan atas nama Maureen Jackson dan Michele Kay Landers, ibu dan saudaranya.

PT Kerajaan ini yang selanjutnya digunakan Nichole untuk mengambil 300 hektar lahan yang sudah dibebaskan sebelumnya, dan sekaligus untuk meneruskan pembebasan lahan yang tersisa, Nichole menggandeng mitra lokal baru. Lagi-lagi ada perseteruan sehingga pecah kongsi. (kimt)

Don`t copy text!