fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Maraknya Praktik Nominee Akibatkan Pesisir Pantai Jelengah Dikuasai WNA

Taliwang, KOBAR – Anda pasti tercengang jika saat ini berhasrat untuk membeli tanah di kawasan pesisir pantai di Kabupaten Sumbawa Barat, salah satunya adalah pantai Jelengah. Karena hampir sebagian besar tanah di kawasan wisata yang berlokasi di Dusun Jelengah Desa Beru Kecamatan Jereweh itu telah dikuasai Warga Negara Asing (WNA).

Cara mereka untuk mendapatkan lahan wisata strategis dengan memanfaatkan celah aturan, dimana mereka (WNA, red) dari berbagai negara melakukan tipu-tipu untuk mengusai tanah-tanah yang berpotensi untuk pengembangan wisata dan strategis.

Secara umum ada dua jenis modus “Penyelundupan hukum” dalam penguasaan tanah oleh asing yaitu dengan meminjam nama (nominee) warga lokal untuk membeli tanah atau dengan cara mendirikan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA).

Cara pertama (menggunakan nominee) paling banyak dilakukan oleh para warga negara asing karena dianggap lebih mudah, murah, dan cepat. Karena negara melarang warga negara asing memiliki tanah, maka mereka memanfaatkan warga lokal untuk “dipinjam namanya” ketika membeli tanah. Sertifikat tanah akan diatas namakan warga lokal, namun faktanya pembeli dan penguasa tanah itu adalah orang asing.

Biasanya, mereka “mengikat” warga lokal yang jadi nominee dengan membuat surat pernyataan bahwa meski sertifikat tanah atas nama warga lokal namun uang pembelian tanah itu adalah milik warga asing. Atau dengan cara lain yang lebih halus seperti menjadikannya semacam karyawan yang digaji tiap bulan, ada juga yang menjadikannya pacar.

Sedangkan pencaplokan tanah dengan cara PMA biasanya dilakukan oleh warga negara asing yang memiliki modal dan jaringan lumayan besar. Modusnya, mereka mendirikan PT PMA dan berpura-pura hendak menanamkan investasi bidang properti di kawasan wisata. Pendirian PMA di Indonesia tidak susah, bahkan lebih mudah daripada mendirikan perusahaan lokal, karena kebijakan pemerintah untuk menarik investor asing dengan mempermudah pendirian PMA.

Memang kemudahan itu memancing banyak investor datang, namun sayang – karena tidak ada seleksi ketat – sebagian investor yang datang itu adalah investor bodong. Mereka hanya menjadikan pendirian PMA sebagai kedok untuk mendapat izin dan penguasaan lahan, kemudian menjual izin dan tanah itu ke investor asing lain. Singkat kata, mereka calo tanah berkedok investor.

Dari sisi hukum, praktik penguasaan tanah dengan cara nominee atau PMA aspal itu tidak melanggar hukum. Karena memang belum ada aturan yang tegas melarang praktik itu. Namun itu bisa dikategorikan kejahatan hukum sekaligus mengikis kedaulatan warga lokal atas tanah mereka. Sebab itu di kalangan praktisi hukum, perbuatan itu dikategorikan sebagai “penyelundupan hukum” alias akal-akalan hukum.

Praktik “penyelundupan hukum” itu terjadi secara masif di kawasan wisata di KSB. Tentu para warga negara asing itu tidak bekerja sendiri. Mereka membentuk jaringan termasuk memanfaatkan penasehat hukum untuk mengakali aturan, dan menyuap para pejabat mulai pejabat paing rendah dan ada kemungkinan juga sampai pejabat tinggi yang ada di daerah, termasuk penegak hukum.

Hasil investigasi yang dilakukan media ini di lokasi wisata Jelengah mendapatkan pengakuan dari beberapa pihak yang sedang berada dilokasi, bahwa WNA yang sekarang menguasai kawasan pantai tidak sering berada di Indonesia, bahkan mereka akan datang hanya sekali setahun, tetapi ada juga yang bermukim lama, karena lokasi yang dimiliki ada fasilitas hotel yang dengan sendirinya cukup sering didatangi tamu mancanegara.

Ironisnya, penguasaan lahan oleh belasan WNA di pesisir pantai Jelengah dilakukan secara pribadi atau dengan modus nominee, sehingga pemerintah daerah tidak melakukan tindakan, atau mungkin ada upaya pembiaran, karena berkembang informasi bahwa para WNA itu menyerahkan upeti untuk pengamanan asset dilokasi wisata tersebut. “Pertanyaan besar sekarang, siapa pejabat yang menjadi makelar pengaman asset tersebut, semoga itu tidak ada dan hanya isu”.

Data yang dimiliki media ini, WNA yang saat ini memiliki lahan strategis di pantai Jelengah berasal dari Prancis, Australia, South Africa, Swedia, Swiss dan ada dari Cina. Seluruh lokasi yang dikuasai WNA itu dijaga oleh masyarakat lokal yang memang sengaja digaji khusus untuk membersihkan lahan. (kimt)

Don`t copy text!