fbpx
Poto Tano Jadi Perhatian Pembangunan Tahun 2015

Poto Tano Jadi Perhatian Pembangunan Tahun 2015

Taliwang, KOBAR – Ada sejumlah program pembangunan yang akan dilaksanakan pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) di kecamatan Poto Tano dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2015 mendatang, bahkan Bappeda sudah diminta untuk melakukan kajiannya.

Bupati KSB, Dr KH Zulkifli Muhadli, SH, MM mengakui jika ada beberapa program yag akan dilaksanakan di kecamatan Poto Tano, bahkan realisasinya diminta pada awal tahun, agar bisa lebih cepat dimanfaatkan oleh masyarakat, karena program yang akan dilakukan lebih bersentuhan dengan masyarakat Poto Tano maupun KSB secara umum.

Program itu sendiri adalah pembangunan terminal transito yang berada tidak jauh dari lokasi Balai Latihan Kerja (BLK). Terminal itu akan dimanfaatkan oleh seluruh kendaraan umum yang melintas, baik dari Kabupaten Bima maupun dari pulau Lombok. “Ini terminal perlintasan, jadi semua kendaraan umum yang lewat wajib untuk masuk areal terminal transito itu,“ ucap Kyai Zul sapaan akrab Bupati KSB.

Masih keterangan orang nomor wahid di Bumi Pariri Lema Bariri itu, kendaraan umum itu masuk untuk menaikkan atau menurunkan penumpang dari Bima maupun dari Lombok yang hendak menuju daerah KSB, jadi mereka tidak perlu menunggu kendaraan dalam areal pelabuhan Poto Tano. “Aktifitas terminal itu selama 24 jam, karena kendaraan umum yang melintas tidak pernah berhenti,” lanjut Kyai Zul.

Program lain yang juga harus dilaksanakan di kecamatan Poto Tano pada awal tahun 2015 mendatang adalah pembangunan arena pacuan kuda, untuk itu akan dilakukan pembebasan lahan seluas 15 hektar. “bebaskan lahan sesuai kebutuhan dan dilanjutkan dengan pembangunan arena sesuai standarnya,” tegas Kyai Zul.

Kegiatan besar yang harus menjadi catatan dan diharapkan mendapat dukungan dari semua komponen adalah pemugaran atau bedah desa budaya Mantar, baik itu akses jalan maupun penataan areal pemukiman masyarakat, karena konsep awal penataan Desa Mantar sudah disampaikan kepada masyarakat, jadi tinggal ditindaklanjuti.

Diakui juga jika masyarakat Mantar harus diberikan subsidi karena mereka sudah mau berkorban untuk tidak membangun rumah yang modern, dimana mereka hanya boleh membangun rumah panggung. Rumah yang mereka bangun itu harus menyediakan 1 kamar khusus tamu dan berfungsi sebagai penginapan. “Tidak boleh ada pengusaha yang membangun hotel disana. Agar kita bisa mempertahankan desa wisata budaya di Mantar,” timpal Kyai Zul sapaan akrabnya. (kimt)

Don`t copy text!