fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Seleksi CPNS Sumbawa Barat

Lapangan Kerja Sempit, Sumbawa Barat Wajib Berbenah

Jumlah angkatan kerja di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) setiap tahun selalu bertambah, sedangkan lapangan kerja tak juga bertambah. Hal ini sungguh dilematis, karena mengakibatkan pengangguran menjadi semakin melimpah.

Bagaimana tidak, setiap tahun selalu ada penduduk yang bersekolah di SMA sederajat dan juga perguruan tinggi yang tamat. Tapi lapangan kerja yang akan menyerap mereka terbatas, bahkan bisa dibilang tidak pernah ada setiap tahunnya.

Ini belum lagi penduduk yang pernah bekerja di suatu perusahaan. Akibat resesi ekonomi dan kondisi pandemi yang berkepanjangan, membuat perusahaan tempat mereka bekerja terpaksa gulung tikar. Dan tentunya mereka-mereka itu kehilangan pekerjaan.

Ketika para pengangguran tersebut diarahkan untuk berwirausaha, persoalan lain kembali muncul. Daya beli yang rendah dan biaya hidup yang tinggi di Sumbawa Barat membuat para pelaku usaha kembang kempis dan ujung-ujungnya gulung tikar.

Sehingga, untuk bekerja di sektor tambang dan menjadi pegawai pemerintah begitu diburu oleh angkatan kerja di Sumbawa Barat.

Kenapa sektor tambang? Iya, karena di KSB ada sebuah tambang tembaga dan emas yang termasuk paling besar di Indonesia. Yaitu, tambang batu hijau namanya. Tambang ini beroperasi sejak tahun 2000 hingga sekarang. 

Tambang batu hijau ini, selama sekian tahun mampu menyerap ribuan angkatan kerja. Mereka terserap di perusahaan induk, yaitu PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), yang kemudian berubah nama menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT). Juga para angkatan kerja terserap di perusahaan sub-kontraktor dan beberapa perusahaan penyedia barang dan jasa.

Namun tidak selamanya sebuah perusahaan tambang akan berjalan mulus. Mineral yang dikeruk bukannya akan bertambah, tetapi tentu akan semakin berkurang dan kemudian habis. Dengan demikian, pasti akan berimbas kepada operasional perusahaan pengelola. 

Kondisi itu telah terjadi di tambang batu hijau beberapa tahun terakhir. Efek dari Undang-undang (UU) Minerba dan cadangan mineral yang dikeruk berkurang, berimbas pada Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sumbawa Barat. 

Amman Mineral secara perlahan mengurangi rekrutmen tenaga kerja dan tentu pula CSR-nya dikurangi. Apalagi pembangunan smelter yang menjadi syarat ikutan di UU Minerba yang semakin jauh panggang dari api. Padahal smelter ini digadang-gadang akan menggerakkan kembali ekonomi daerah.

Dengan fenomena yang terjadi, seharusnya Pemerintah setempat bersegera mencari dan menemukan formula yang tepat untuk mengatasi kesenjangan sosial yang menganga dan ekonomi yang merosot. Tidak boleh berdiam diri, apalagi menutup diri. Komunikasi dan dialog harus terus dibangun dan dijalin dengan seluruh stakeholder yang ada. 

Jikalau formulanya dapat ditemukan, jangan sampai hanya sebatas kertas. Tapi mesti dikonkritkan di lapangan, untuk diuji, kemudian dievaluasi. Bagaimanapun, Kabupaten ini terbentuk dan dibentuk tidak untuk setahun dua tahun. Tetapi akan ada selamanya. Selama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih berdiri tegak, dan merah putih berkibar. Pariri Lema Bariri! **

Don`t copy text!