fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Kesuburan Pria

Covid-19 Bisa Pengaruhi Kesuburan Pria dan Sebabkan Mandul

Jerman, KOBAR – Sebuah penelitian terbaru yang mengkaji bagaimana virus corona dapat mempengaruhi tubuh diluar gejala standar, menemukan, bahwa virus corona dapat mempengaruhi kualitas sperma dan kesuburan pria. Tentu saja, hal ini akan berpotensi mempengaruhi kemampuan para penyintas Covid-19 untuk memiliki keturunan.

Hasil penelitian dari para peneliti Justus Liebig University, di Jerman ini, menetapkan, bahwa Covid-19 dapat berdampak negatif pada kualitas sperma dan mengurangi kesuburan pria.

Para peneliti di balik penelitian tersebut menyatakan, bahwa temuan mereka menunjukkan virus corona dapat menyebabkan peningkatan kematian sel sperma, peradangan, dan stres oksidatif, yang mengakibatkan kualitas sperma lebih rendah dan berpotensi mengurangi kesuburan.

Konsentrasi, kualitas, mobilitas, dan bentuk sperma terpengaruh secara negatif oleh covid. Para peneliti juga menyimpulkan, bahwa semakin parah penyakit seseorang, maka semakin banyak sperma yang menderita.

“Efek pada sel sperma ini dikaitkan dengan kualitas sperma yang lebih rendah, dan potensi kesuburan yang berkurang,” kata Behzad Hajizadeh Maleki, peneliti utama dan mahasiswa doktoral, di Justus Liebig University, seperti dikutip dari BestLifeOnline.

Meski efek ini, jelasnya, cenderung membaik dari waktu ke waktu. Efek tersebut tetap ada secara signifikan dan abnormal lebih tinggi pada pasien Covid-19.

Sejak awal pandemi, para peneliti berhipotesis tentang efek Covid-19 yang berpotensi merusak reproduksi sperma. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sperma dapat dipengaruhi oleh virus.

Hanya seminggu sebelum studi di atas dirilis, penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Open Biology mengklaim, bahwa Covid dapat menjadi ancaman global terhadap potensi kesuburan pria.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti India, menemukan, berbagai efek negatif virus pada kesuburan pria. Banyak diantaranya yang tumpang tindih dengan penelitian Jerman terbaru. Studi tersebut mengutip kerusakan jaringan, gangguan pada hormon seks dan produksi sperma, peradangan, disfungsi ereksi, dan stres umum yang terkait dengan Covid-19.

“Tidak jarang virus mempengaruhi jumlah sperma untuk beberapa waktu, tetapi umumnya tak perlu dikhawatirkan. Bahkan sakit akibat virus, seperti flu, dapat menurunkan sementara jumlah sperma selama beberapa minggu atau bulan,” kata Channa Jayasena MD, konsultan endokrinologi reproduksi dan andrologi, di Imperial College London.

Laporan terbaru lainnya, yang diterbitkan dalam jurnal Reproduction out of Wuhan, China, tempat virus itu berasal, juga mencatat, bahwa efek merugikan pada kesuburan pria, telah dilaporkan selama infeksi Zika (ZIKV), gondongan (MuV), dan SARS-CoV-1, tapi gambarannya kurang lengkap untuk Covid-19.

Meski demikian, ada beberapa ahli yang skeptis terhadap penelitian yang diterbitkan di Jerman tersebut.

“Saya perlu memberikan catatan yang kuat tentang kehati-hatian dalam interpretasi mereka terhadap data ini,” kata Allan Pacey PhD, seorang profesor andrologi, di Universitas Sheffield, South Yorkshire, Inggris.

Penting juga untuk dicatat, tambahnya, bahwa penelitian ini kecil dan dilakukan dalam waktu singkat. Para peneliti membandingkan sperma hanya dari 105 pria sehat dengan 84 pria yang telah terpapar Covid-19. Sperma peserta dipelajari dengan interval 10 hari selama 60 hari.

“Keterbatasan jangka waktu ini menghalangi kita untuk melihat seberapa lama efek ini pada kesuburan. Misalnya, penulis menyatakan bahwa data mereka menunjukkan bahwa infeksi Covid-19 menyebabkan kerusakan signifikan pada fungsi reproduksi pria, namun itu hanya menunjukkan hubungan,” tutup Allan Pacey PhD. (kdnt)

Don`t copy text!