fbpx
Kemenag Siapkan Rp 5,7 Triliun Untuk Pendidikan Keagamaan Terdampak Covid-19

Kemenag Siapkan Rp 5,7 Triliun Untuk Pendidikan Keagamaan Terdampak Covid-19

Jakarta, KOBAR – Kementerian Agama (Kemenag) turut mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada sektor pendidikan keagamaan, yang juga terkena dampak pandemi COVID-19. Kemenag mengalokasikan dana mencapai Rp 5,7 triliun untuk pemberian beberapa program bantuan. 

“Besaran bantuan yang dialokasikan mencapai Rp 5,7 triliun, atau tepatnya Rp 5.793.467.955.000. Besar sekali anggaran itu, dan kami manfaatkan sangat baik,” beber Menteri Agama Fachrul Razi, dalam siaran persnya, Rabu, (25/11).

Anggaran tersebut, jelas Menag, dialokasikan untuk subsidi penyelenggaraan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di madrasah dan subsidi kuota internet untuk mahasiswa. Kemudian, bantuan operasional untuk pendidikan keagamaan Islam, pondok pesantren, madrasah diniyah takmiliyah dan lembaga pendidikan Alquran. Bantuan daring juga diberikan untuk pondok pesantren dan bantuan untuk guru Raudhatul Athfal, madrasah, dan guru pendidikan agama Islam. 

“Kemenag juga mendapat sebagian alokasi dari anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN). Kegunaannya untuk Bantuan Operasional Pendidikan, antara lain untuk menambah Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan beberapa dialokasikan untuk optimalisasi belanja barang keperluan pendidikan,” tutur Menag. 

Anggaran tersebut, urai Menag, dialokasikan untuk bantuan internet bagi mahasiswa, guru, dan dosen. Besaran untuk pendidikan Islam, yaitu Rp 1,16 triliun, yang diterima oleh 9.958.011 siswa madrasah.  Rp 987,7 miliar untuk 1.123.153 mahasiswa, serta  tambahan alokasi bantuan sebesar Rp 168,5 miliar. 

“Alhamdulillah, dananya sudah turun dan akan segera diturunkan (disalurkan). Saya yakin itu sangat bisa membantu, mahasiswa, murid dan guru,” ujarnya. 

Untuk pendidikan agama Kristen, tambah Menag, dialokasikan anggaran bantuan sebesar Rp 3 miliar, untuk 200 perguruan tinggi keagamaan Kristen swasta (PTKKS). Sementara alokasi bantuan untuk Ditjen Bimas Buddha, juga mendapat anggaran Rp 316 juta, yang diberikan pada 1.581 penerima, yang terdiri dari 1.442 mahasiswa dan 139 dosen.

“Jadi bantuan ini tidak hanya untuk murid atau mahasiswa, tetapi juga untuk guru dan dosen,” kata Menag. 

Ditjen Bimas Hindu Kemenag, ungkapnya, juga mendapat alokasi sebesar Rp 1,65 miliar, yang terdiri dari bantuan untuk guru pratama widya pasraman, adi widya pasraman, madyama widya pasraman, utama widya pasraman dan pendidikan tinggi keagamaan Hindu. 

“Lalu juga terdapat bantuan paket data internet untuk penyelenggaraan Pembelajaran Jarak Jauh, bagi guru agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, di sekolah masing-masing. Terkait bantuan ini, Kemenag juga telah menerbitkan petunjuk melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 0715 Tahun 2020 tentang pedoman penggunaan kuota data internet,” demikian Menag RI. (knda)

Don`t copy text!