fbpx
31/05/2020

PORTAL BERITA KOBAR

kobarksb.com

Aktivis ALARM Dukung Kebijakan PTAMNT Untuk Karantina Karyawan di Lombok

Lalu Hizzi

“Sumbawa Barat Tidak Lagi Zero Covid-19”

Mataram, KOBAR – Kebijakan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT), untuk mengkarantina karyawan di Pulau Lombok didukung penuh aktivis LSM NTB. Apalagi setelah Sumbawa Barat tidak lagi berstatus Zero (Nol) Covid-19.

Ketua Aliansi Rakyat Menggugat (ALARM) NTB, Lalu Hizzi, menegaskan, bahwa karantina di Mataram atau Pulau Lombok paling representatif, karena fasilitas medis dan sumber daya di Kota Mataram sangat mendukung.

“Kita harap PTAMNT tidak serta merta membatalkan karantina yang menimbulkan kerugian bagi pengusaha hotel dan pekerja di Pulau Lombok. Karena keputusan manajemen itu akan berdampak luas di pulau Lombok,” kata Lalu Hizzi, kepada awak media, Senin, (20/4), Siang.

Baca Juga :  Mahasiswa Gedor Graha Fitrah, Tuntut Anggaran Subsidi Pendidikan

Ia menegaskan, manajemen PTAMNT diketahui telah membooking sedikitnya 4 hotel di pulau Lombok. Keempat hotel itu diminta memfasilitasi karantina karyawan yang masuk pergantian shift atau Shift Break.

Meski Pulau Lombok masuk zona merah covid-19, akan tetapi menurut Hizzi, ketersediaan sarana dan prasarana medis serta pemantauan lebih mudah. Menurutnya, ada 2 laboratorium swab di Mataram. Pertama, RSU Milik Universitas Mataram (Unram) dan RSUP NTB.

“Menurut kami, tidak ada masalah jika manajemen tetap melakukan karantina di Pulau Lombok, karena fasilitas lengkap tadi, serta mudah diawasi. Yang bermasalah kalau bookingan hotel ini dibatalkan, ini masalah besar. Apalagi Sumbawa Barat sudah tidak lagi menjadi zona hijau,” tegas Hizzi, pentolan aktivis yang tenar akibat memimpin penolakan pergantian nama Bandara Internasional Lombok (BIL) tersebut.

Baca Juga :  Penyebar Hoax Lewat Facebook Diringkus Polda NTB

Sebelumnya, Head Of Coorporate Communication PTAMNT, Kartika Oktaviana, menegaskan, bahwa perusahaan tambang tembaga dan emas itu telah memprogramkan Karantina bagi sedikitnya 1.000 orang karyawan yang masuk field break dan cuti.

Manajemen memilih karantina di Pulau Lombok karena dianggap representatif dan mudah dikontrol. Perusahaan mengakui telah membooking sedikitnya 4 hotel di Pulau Lombok guna menampung 1.000 karyawan. Itu untuk masa karantina 14 hari sesuai dengan standar karantina kesehatan yang berlaku di Indonesia. (kras)

loading...
Bagikan di:

KOMENTAR

Komentar