Kerja Senyap KLA KSB

Kerja Senyap KLA KSB

Taliwang, KOBAR – Selama 32 tahun, telah terjadi proses dikeramatkannya peristiwa yang relatif kecil (G30S) dan penghapusan peristiwa bersejarah tingkat dunia (pembunuhan massal 1965-1966), sehingga menghalangi empati terhadap korban, seperti keluarga para perempuan dan laki-laki yang hilang. Namun, di Era Reformasi, film-film yang berusaha menampilkan narasi alternatif atas tragedi sejarah modern Indonesia pada pembunuhan massal massal 1965-1966 pun banyak bermunculan. Harapannya tak lain, untuk memberikan empati terhadap korban dan memberi harapan baru atas stigma sosial yang melekat selama ini.

Atas semangat yang dimunculkan lewat film Senyap, Komunitas Literasi Anorawi (KLA) memiliki tanggung jawab pengetahuan untuk mengapresiasi karya ini. Film yang diperuntukkan untuk usia 18 tahun keatas ini menjadi salah satu agenda KLA, sebagai gerakan yang berfokus pada kebudayaan. KLA telah mengadakan nonton perdana dan diskusi terbatas tentang film Senyap di Rumah KLA pada 9 Januari silam. Hal ini cukup membanggakan bagi KLA untuk bisa mendapatkan DVD asli film Senyap langsung dari Komnas HAM. Diskusi terbatas tersebut diwarnai oleh pergulatan pemikiran yang melihat karya dan latar sejarah dari berbagai sisi, baik sejarah, sosial, ataupun psikoanalisis. Bagi KLA, ini adalah gerakan masyarakat sipil yang mencoba melihat wacana dari sisi lain dalam tradisi lisan dan tulisan.

Komunitas yang baru bergiat selama 3 bulan ini dan lahir dari pergumulan anak-anak muda di warung kopi, telah menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya, antara lain mengajak nonton bareng dan diskusi kelompok-kelompok masyarakat di pelosok wilayah Kabupaten Sumbawa Barat, diskusi dengan tokoh seni dan budaya, pendokumentasian melalui tulisan dan video atas berbagai wacana budaya, serta merintis Perpustakaan KLA, yang juga mengharap sumbangan buku dari siapapun, agar bisa diakses oleh semua kalangan.

Kerja-kerja kebudayaan ini diharapkan bisa menjadi ikon KLA dalam proses berkumpul dengan tumpahan keresahan atas berbagai fenomena sosial. Tak bisa dipungkiri, pikiran dan ide yang lahir dari kantong-kantong budaya menjadi salah satu gerakan “perlawanan” dengan cara santun. Kita tidak lagi mengangkat senjata, atau melakukan kerusakan atas fasilitas publik, tapi berjuang lewat pena. Kita tidak bisa semata hanya mengharap perubahan dari negara, tapi perlu gerakan “civil society” yang kuat dan mengakar.

Para pegiat KLA yang ingin menguatkan tradisi literasi di masyarakat melalui media film, buku, dan seni ini, akan menghasilkan kumpulan tulisan dalam bentuk buku dan juga film dokumenter. Platform KLA adalah gerakan Literasi Budaya yang membaca realita dan menuliskan narasi. Sesuai misinya untuk membumikan kebudayaan, KLA mengakomodir segala bentuk produk kebudayaan, mulai dari tulisan (buku), audio visual (film), dan karya-karya seni lainnya seperti teater dan musik, tentunya tak lepas dari “indigineous people” atau kearifan lokal. Dengan langkah-langkah semacam ini, para pegiat KLA meyakini bahwa perubahan dimulai ketika kita bergerak dan bicara. ***

Don`t copy text!