fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Taliwang, KOBAR – Perambahan hutan lindung atau kawasan hutan yang dilindungi seperti yang terjadi di beberapa daerah, tidak terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) pada tahun 2014, jika dipersentasekan dari luas kawasan hutan, maka yang rusak akibat ulah para pelaku illegal logging tidak mencapai 0,01 persen.

Pada penghujung tahun ini, ada pelaku yang telah dinyatakan bersalah dan telah divonis sebagai pelaku illegal logging, namun dampak kerusakan yang dihasilkan tidak begitu luas, sehingga kawasan hutan yang mencapai 126.261 hektar masih aman, termasuk tidak ada kasus pembakaran kawasan hutan yang terjadi.

Kepala Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan), Ir IGB Sumbawanto MSi yang dikonfirmasi media ini dalam ruang kerjanya kemarin mengatakan, asap pembakaran yang terjadi saat musim kemarau bukan terjadi dalam kawasan hutan, tetapi di luar kawasan hutan, sementara areal itu bukan menjadi kewenangan Dishutbuntan. “Memang ada pembakaran yang dilakukan oleh masyarakat, namun kawasan itu di luar hutan lindung,” tegasnya saat didampingi kasi pengamanan hutan, Idrus SH.

Sumbawanto tidak membantah jika ada upaya perambahan hutan yang coba dilakukan masyarakat yang berada di kecamatan Sekongkang, dimana kawasan yang hendak dirambah itu adalah kawasan yang masuk dalam areal Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), namun dapat segera dicegah, sehingga kelompok masyarakat itu sendiri tidak jadi melakukan pengrusakan hutan untuk dijadikan areal untuk menanam.

“Memang kawasan itu cukup berpotensi untuk dirambah oleh masyarakat, karena sangat dekat dengan pemukiman warga, sementara warga sekitar itu sendiri merasa kesulitan lagi untuk mendapatkan areal tanam, mengingat populasi penduduk terus bertambah, namun setelah diberikan penjelasan bahwa upaya itu masuk kategori pelanggaran pidana, maka masyarakat menghentikan keinginan untuk melakukan perambahan,” lanjutnya.

Amannya kondisi hutan sampai saat ini lebih disebabkan tingginya kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan perambahan hutan, namun Dishutbuntan tetap meningkatkan pemantauan dan pengawasan, karena bisa saja ada kelompok masyarakat yang akan melakukan pengrusakan hutan. “Dengan keterbatasan personil saat ini, kami tetap giat dan intens melakukan patroli pemantauan dan pengawasan kawasan hutan,” timpalnya.

Pada tahun mendatang, hutan di Bumi Pariri Lema Bariri akan semakin aman dari para pelaku perusak hutan, karena ada program pembagian zona pengawasan dan pemanfaatan, dimana perlakuan hutan tidak seperti yang terjadi saat ini, dimana hutan lindung tidak bisa dimanfaatkan. Di KSB sendiri telah terbagi dalam bentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). “Ada proses pemanfaatan hutan yang juga membuka akses masyarakat untuk memanfaatkan keberadaan hutan itu sendiri,” bebernya. (kimt)

Don`t copy text!