fbpx
Kawasan Hutan KSB Dibagi 3 KPH

Kawasan Hutan KSB Dibagi 3 KPH

Taliwang, KOBAR – Seluruh wilayah hutan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, karena sudah terbagi habis dalam bentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dengan rincian terbagi dalam beberapa blok, sehingga bisa ditegaskan bahwa kawasan hutan di KSB saat ini tidak lagi tabu untuk dikelola.

Kepala Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan), Ir IGB Sumbawanto MSi yang ditemui dalam ruang kerjanya rabu 29/10 mengakui jika sudah terbagi habis hutan di Bumi Pariri Lema Bariri. Pembagian itu dalam bentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Sejorong, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Mataiyang dan KPHL Brang Rea.

Pembagian itu sendiri diakui Sumbawanto akan membuka ruang pengelolaan secara langsung terhadap kawasan hutan, hanya saja ada proses penetapan awal dalam bentuk Rencana Pengelolaan (RP), dimana untuk penetapan ijin pengelolaan tidak sampai pada usulan penetapan oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut), tetapi cukup dengan ijin yang diberikan pimpinan daerah.

Sebelum berproses terlalu jauh, tahapan yang harus segera dirampungkan adalah penetapan pembentukan Unit Pengelola Tekhnis (UPT), karena UPT itu sendiri yang akan diberikan tanggung jawab terhadap keberlanjutan dan pemanfaatan atas hutan, bahkan UPT yang akan dibentuk melalui Peraturan Daerah (Perda) bertanggung jawab langsung kepada Bupati. “Masih dalam proses penyusunan sampai pada penetapan Perda terlebih dahulu,” terangnya.

Disampaikan Sumbawanto, saat ini yang sudah terbentuk baru UPT KPHP Sejorong melalui Peraturan Bupati (Perbup), bahkan UPT KPHP Sejorong itu sendiri sudah mendapat bantuan dari pemerintah pusat. Bantuan yang telah diterima itu berupa meubeler perkantoran lengkap dengan fasilitas kantor, mobil operasional, bahkan saat ini sedang dirampungkan pembangunan kantornya. “KPHP Sejorong ditetapkan sebagai KPHP model nantinya,” ungkapnya lagi.

Menyinggung rancangan pengelolaan KPHP Sejorong, saat ini telah terbagi dalam 4 blok, yaitu blok wisata, blok hutan kayu, blok hasil hutan bukan kayu dan blok pengelolaan alokasi tertentu. Penetapan blok itu sendiri sudah menjadi perhatian dari para pemilik modal, bahkan sudah ada yang menawarkan diri untuk pengelolaannya, termasuk ada yang sudah siap menggunakan areal tersebut.

Blok pengelolaan alokasi tertentu saat ini sudah siap dimanfaatkan oleh PT. Pulau Sumbawa Agro (PSA) yang akan dipergunakan untuk penanaman sisal, sementara blok wisata juga sudah ada calon peminat, baik itu PT. Nusanntara Oriental Permai (NOP) maupun PT. Eco Solution Lombok (ESL). “Pokoknya banyak investor yang melirik potensi itu, hanya saja harus diterbitkan dulu rencana pengelolaan secara detail,” tandas Sumbawanto. (kimt)

Don`t copy text!