fbpx
PDAM Berkelit dituduh Lamban Tangani Raito

PDAM Berkelit dituduh Lamban Tangani Raito

Taliwang, KOBAR – Tuduhan bahwa PDAM lamban menyediakan data yang diminta Raito Kogyo Company Limited (Raito), perusahaan asal Jepang yang hendak berinvestasi air bersih di bumi pariri lema bariri, ditanggapi serius oleh PDAM KSB. Dengan alasan bahwa data yang diminta merupakan data tekhnis, sehingga Perusahaan Daerah Air Minum milik Kabupaten Sumbawa Barat (PDAM KSB) membutuhkan waktu untuk memenuhi permintaan data tersebut.

Direktur PDAM KSB, Bambang ST yang dikonfirmasi media ini dalam ruang kerja rabu 12/11 kemarin mengatakan, data yang diminta itu adalah, tingkat curah hujan di daerah yang menjadi pusat pengembangan, kekuatan tanah atau tekstur tanah di lokasi, tingkat keseringan gempa, termasuk sistem antisipasi terjadinya gempa.

“Data yang diminta itu cukup tekhnis, sehingga PDAM KSB harus melakukan komunikasi dengan pemerintah provinsi terlebih dahulu untuk mendapatkan data yang diminta. Permohonan data itu sendiri sudah dilayangkan secara resmi, namun sampai saat ini belum ada jawaban, jadi bukan PDAM KSB yang tidak mau memberikan data yang dibutuhkan,” beber Bambang.

Data jumlah penduduk, data luas wilayah termasuk estimasi pengembangan jaringan sudah diserahkan PDAM KSB saat perusahaan itu datang pertama kali atau saat menandatangani Memorandum of Undestading (MoU), sementara data tekhnis itu memang belum bisa diberikan, karena memang PDAM KSB masih kesulitan untuk mendapatkan data. “Untuk mendapatkan data itu butuh waktu dan biaya tidak sedikit, karena kita harus mendatangi tenaga tekhnis,” lanjut Bambang.

Pada kesempatan itu Bambang berharap setelah ada perpanjangan MoU, perusahaan lebih intens membangun komunikasi dan mempersiapkan segala yang berkaitan dengan rencana investasi, termasuk harus memiliki kantor di KSB, sehingga bisa membantu PDAM KSB untuk mendapatkan semua data yang dibutuhkan itu. “Saya sudah sampaikan kepada pihak perusahaan untuk ikut maksimal mendapatkan data sesuai kebutuhan mereka,” ucapnya.

Bambang berharap investasi air bersih ini bisa berjalan sesuai target awal, agar bisa lebih maksimal pelayanan terhadap konsumen saat ini dan yang paling penting seluruh masyarakat Bumi Pariri Lema Bariri bisa terlayani. Jika sampai tahun 2015 Raito tidak memperlihatkan progress, ada kemungkinan MoU yang diperpanjang itu akan dihentikan. “MoU itu diperpanjang sampai tahun 2015, jika tidak ada progres akan diusulkan kepada pimpinan daerah untuk membuka kerjasama dengan perusahaan lain,” ancam Bambang.

Rencananya, pihak Raito akan memberikan bantuan berupa investasi murni dengan tanpa mengedepankan keuntungan. Raito akan memberikan pelayanan air bersih di wilayah Brang Ene. Yang sedianya pada waktu kedatangan pertama, dipilih calon lokasi Brang Rea, namun karena sudah ada pengolahan baru di Brang Rea, jadi dialihkan ke Brang Ene.

Investasi murni dari Raito tersebut akan berlaku selama 20 tahun dengan membangun pengolahan sistem “Slow Sand Filter With Ecology System”. Saat ini, mereka menunggu studi kelayakan yang dibuat oleh PDAM, dan kelengkapan data, baru memulai proses selanjutnya yaitu perencanaan aksi, dimana target pelaksanaan sebelum MoU kedua berakhir pada Oktober 2015 mendatang. (kimt)

Don`t copy text!