fbpx
Dituding Material Tidak Standar, Warga Ancam Blokade Proyek Normalisasi Lebo

Dituding Material Tidak Standar, Warga Ancam Blokade Proyek Normalisasi Lebo

Taliwang, KOBAR – Kualitas pekerjaan normalisasi lebo Taliwang dipersoalkan oleh sejumlah masyarakat, terutama dalam penggunaan material batu, tenaga kerja, pembersihan material pasca dilakukan pembongkaran awal, kondisi fisik talud dan sistem pekerjaan pembangunan pintu air yang dianggap asal-asalan.

Burung, salah seorang tokoh masyarakat sekitar kepada media ini saat di lokasi menunjukkan bahwa batu yang dipergunakan untuk pekerjaan talud tidak representatif, termasuk jenis batu yang dipergunakan untuk pembangunan bendung dan pintu air, sehingga menilai bahwa kualitas pekerjaan itu tidak bagus dan berharap ada sikap tegas pemerintah selaku leading sektor untuk menghentikan pekerjaan dan memerintahkan untuk melakukan pergantian material batu.

Masih keterangan Burung, areal bendung adalah tempat penampungan sementara air, baik yang dari dalam lebo taliwang, maupun air luapan sungai Brang Rea. “Jika jenis batu yang digunakan itu seperti yang terlihat di lapangan, maka jangan heran kalau dalam waktu dekat, pintu air bendung beserta talud tidak akan bertahan lama, jadi diminta kepada pemerintah untuk segera bersikap, jika tidak ingin masyarakat yang akan langsung mengambil tindakan sendiri,” ancamnya.

Pantauan langsung media ini di lokasi memang terlihat kualitas batu yang menjadi tanggung jawab PT. Idee Murni selaku kontraktor pelaksana itu sangat diragukan, termasuk ada beberapa pekerjaan yang terlihat tambal sulam di sepanjang talud yang merupakan bagian dari pekerjaan normalisasi lebo taliwang, belum lagi di lokasi pekerjaan bendungan hanya terlihat 6 orang pekerja yang dinilai tidak profesional dalam pekerjaannya.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pekerjaan tersebut, Amar Nurmansyah ST, MT yang dikonfirmasi mengaku bahwa sebelum mulai dilaksanakan pekerjaan, pihak pelaksana telah menetapkan kuari atau sumber pengambilan material, sehingga material yang akan dipergunakan itu dilakukan pengujian. “Jika masih menggunakan material awal, maka kualitas batu bisa dipertanggung jawabkan, namun kalau material yang diambil dari lokasi lain, maka pelaksana wajib melakukan pengujian kembali sebelum dipergunakan,” timpalnya.

Atas laporan itu, Amar berjanji akan segera terjun lapangan untuk mengecek langsung kondisi batu yang dikritisi masyarakat tersebut. Jika memang benar kualitas diragukan, lantaran diambil dari kuari lain yang belum diuji, maka pekerjaan itu akan dihentikan dan pembangunan yang sudah ada akan diperintahkan untuk dibongkar. “Jika memang kualitas batu itu tidak teruji, apalagi sampai tidak bisa dipergunakan untuk pembangunan talud dan bendung, saya akan langsung perintahkan untuk dibongkar,” janjinya.

Pada kesempatan itu Amar juga mengakui bahwa dirinya pernah meminta rekanan untuk melakukan pembongkaran pada bagian talud yang dianggap terlalu miring, termasuk meminta rekanan untuk melakukan pengerukan kembali terhadap irigasi yang terlihat ada tumpukan bekas pekerjaan dan pembongkaran. “Saya sudah minta bahwa material yang berada dalam badan irigasi untuk dikeluarkan. Masalah itu juga akan disampaikan kepada rekanan,” ungkapnya lagi.

Diingatkan Amar, pekerjaan normalisasi lebo itu dimulai sejak tahun 2009 dengan panjang talud 2,1 kilo sampai pada bendung, kemudian dari bendung ada lagi pekerjaan talud sepanjang 300 meter. Rencana awal biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 29 Miliar, namun terjadi addendum sehingga biaya yang dikeluarkan hanya Rp. 19 miliar. Pekerjaan itu sendiri harus sudah rampung pada tahun ini. (kimt)

Don`t copy text!