fbpx
Menakar Calon Gubernur NTB 2013-2018: Who Will Be The Winner?

Menakar Calon Gubernur NTB 2013-2018: Who Will Be The Winner?

Pengantar

Perhelatan politik lokal (local politics) akan bergulir segera di BUMI GORA dan BUMI SEJUTA SAPI dalam waktu tidak terlalu lama lagi. InsyaAllah pada tanggal 13 Mei 2013 masyarakat NTB akan kembali masuk bilik suara untuk menentukan pilihannya untuk Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang baru untuk masa bakti 2013-2018.  Seperti juga kegiatan politik lainnya, even Pemilukada ini tengah menjadi sorotan nasional dan daerah karena hasilnya akan sangat menentukan sejauhmana ritual demokrasi ini bisa menghasilkan pemimpin yang amanah serta mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan masyarakat NTB, melalui kebijakan publik (public policy) dan kebijakan pembiayaan (public finance) dengan program-programnya yang merupakan pilihan publik (public choice).

Seperti yang sudah ditetapkan oleh KPU NTB pada tanggal 26 Maret 2013 yang lalu, empat pasangan calon yang berhak maju dalam Pemilukada NTB 2013 adalah Nomor urut 1: Pasangan Calon Dr. TGB. H.M. Zainul Majdi dan H. Muh. Amin, SH. (TGB), M.Si; Nomor Urut 2 Pasangan Calon Suryadi Jaya Purnama, ST dan Johan Rosihan ST (SJP); Nomor Urut 3 Pasangan Calon Drs. H. Harun Al Rasyid, M.Si.(HARUN) dan Nomor Urut 4 Pasangan Calon Dr. KH. Zulkifli Muhadli, SH., MM dan Prof. Dr. Ir. Muhamad Ichsan, MS (ZUL).

Sesungguhnya potensi semua calon untuk memenangkan perhelatan masih sangat terbuka terlebih lagi masih ada sekitar 2(dua)  minggu waktu yang bisa dioptimalkan (terhitung sejak tulisan ini ditayangkan)  untuk menaikkan elektabilitas mereka masing-masing. Terlepas dari hasil survey yang telah beredar di masyarakat yang menempatkan urutan elektabilitas calon, tulisan ini mencoba menghindari diri dari pengaruh hasil-hasil polling tersebut yang kerap terkesan “pesanan dan tendensius” karena banyak lembaga survey saat ini juga bertindak sebagai konsultan politik para calon dan/atau partai politik. Pembahasan hanya didasarkan pada potensi internal dan eksternal calon yang menjadi kekuatan dan kelemahan masing-masing serta potensinya untuk mendulang suara, khususnya ditinjau dari aspek elektabilitas, kapabilitas, dan akseptabilitas, termasuk faktor x.

Potensi Keterpilihan Atau Elektabilitas

Potensi elektabilitas (electability) sesungguhnya yang sangat menentukan keberhasilan pasangan untuk memenangkan hati masyarakat. Selain dukungan partai politik, yang lebih penting adalah dukungan masyarakat pemilih. Seperti diketahui keempat pasangan calon yang mengikuti Pemilukada NTB 2013 ini adalah semua masuk melalui dukungan partai politik, sementara balon independen (L. Ranggalawe dan  H. Muchlis)  gagal menjadi calon karena tidak cukup mendapat dukungan seperti yang disyaratkan oleh KPU. Kalau dilihat dari peta dukungan partai politik maka dapat dilihat dari pengumuman KPU NTB no: 310/KPU-prov-017/III/2013 bahwa calon  nomor 1 (TGB) memiliki dukungan dari Demokrat, Golkar, PDIP, PAN, PPP, PKB, Gerindra. Kemudian Pasangan nomor 2 (SJP) didukung oleh PKS, PPRN, PBR. Selanjutnya, Calon nomor urut 3 (HARUN) didukung oleh HANURA, PKPI dan 15 partai kecil lainnya, serta calon nomor 4 (ZUL) didukung oleh PBB, PKNU, PKPB, dan PPPI. Dengan demikian, kalau dilihat dari peta dukungan partai politik, maka calon petahana-incumbent atau TGB  adalah yang paling kuat, diikuti HARUN, ZUL, dan SJP

Tetapi kalau dilihat dari potensi elektabilitas dan dukungan massa, tidak selamanya sejalan dengan besarnya dukungan partai politik, seperti yang terjadi dengan sosok JOKOWI di DKI Jakarta. Faktor figur calon dan peta dukungan organisasi massa dan keagamaan bisa juga menjadi penentu, terutama di NTB, karena loyalitas masyarakat pada kekuatan ormas dan organisasi keagamaan justru jauh lebih kuat dibandingkan dengan keterikatannya dengan partai politik. Dengan pandangan ini maka potensi elektabilitas calon menjadi sangat cair dan terbuka.

Seperti diketahui bahwa kemenangan TGB pada pemilukada terdahulu didukung oleh PKS dan PBB, yang sesungguhnya memiliki massa yang cukup solid dan terukur, yang dalam pemilukada tahun ini mengusung calonnya sendiri-sendiri, sehingga bisa dipastikan bahwa sebagian besar massa TGB yang dulu pasti akan beralih. Oleh karena itu, kemudian, TGB akan sangat tergantung pada dukungan politik baru dan besar yang mendukungnya sekarang ini, yang hampir seluruhnya merupakan partai politik pesaingnya pada Pemilukada terdahulu. Sementara NW yang menjadi basis utama massa TGB sekarang terbelah, karena sebagian besar akan mungkin memilih pasangan HARUN yaitu MUHYI yang didukung allout oleh NW Anjani. Disinilah titik kritis TGB untuk memenangkan pemilukada tahun ini, perlu upaya yang serius untuk memenangkannya kembali, apalagi figur Harun yang ikut membantunya pada pemilukada yang lalu ikut bertarung kali ini membuat kemungkinan peta dukungan di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu mungkin akan bergeser ke HARUN. Tetapi dengan kuatnya dukungan partai yang banyak dan besar, termasuk PDIP dan PPP dengan masa tradisionalnya, serta juga sentimen dan “fanatisme sasak” bisa menjadi darah baru dan kekuatan tersendiri bagi TGB untuk bisa kembali memenangkan Pemilukada 2013 ini. Kekuatan TGB diperkirakan akan mendominasi di LOTIM, KLU, LOBAR, dan Sumbawa, serta dukungan yang memadai di kabupaten/kota lainnya.

SJP adalah tokoh muda yang enerjik, yang secara pengalaman masih sangat jauh dari ketiga pasangan yang lain. Keduanya adalah politisi murni dan hanya berkiprah di legislatif dan tidak punya pengalaman birokrasi, sehingga tentu saja ini menjadi kelemahan mereka. Dukungan massa PKS yang solid serta mungkin dari generasi muda yang menginginkan perubahan membuat pasangan ini memiliki potensi kekuatan yang menjanjikan. Dengan semangat juang yang tinggi, dan adanya kecendrungan memenangkan banyak pemilukada di daerah lain seperti SUMUT dan JABAR membuat kepencayaan diri SJP menjadi sangat tinggi, tetapi bagaimana kekuatan ril mereka nantinya masih akan harus ditunggu. Kekuatannya diduga akan merata di setiap kabupaten/kota tetapi tidak ada yang dominan.

HARUN adalah kombinasi pasangan yang berpengalaman dan tokoh muda. HARUN punya pengalaman birokrasi yang sangat panjang, Walikota, Wakil Gubernur, Sekda DKI, dan pernah menjadi Gubernur NTB yang boleh dikatakan cukup berhasil. Meski dukungan partai politik relatif lebih kecil dibandingkan dengan TGB, dukungan ormas dan organisasi keagamaan juga dari kalangan lain diduga cukup tinggi. Sisa-sisa “kebaikan” baik di birokrasi dan di masyarakat ketika menjadi gubernur dulu bisa menjadi pundi suara yang tidak kecil. NW Anjani yang menjadi basis dukungan calon wagubnya membuat pasangan ini bisa berbicara banyak di Pulau Lombok khususnya di Lotim dan Loteng, termasuk misalnya adanya sinyal positif Mamiq Ngoh (mantan Bupati Loteng) yang mendukung pasangan ini. Kekuatan pasangan  ini diperkirakan akan mendominasi di Kota Bima, Kab Bima, Kab Dompu, Kota Mataram, Lotim, Loteng, dan KLU.

ZUL adalah kombinasi ulama, birokrasi, dan akademisi, dan boleh dikatakan sebagai pasangan yang komplit. Pengalaman kiyai Zul memimpin Sumbawa Barat dalam dua periode dengan prestasi yang sangat berhasil membuat masyarakat banyak berharap padanya. Keterkaitan beliau dengan NU, Muhammadiyah, Olahraga (PSSB), dan komunitas sastra misalnya, menjadi kekuatan yang bisa mendulang suara tambahan. Dengan didampingi oleh Prof Ichsan yang akademisi dan mantan Dekan Faterna Unram, membuat pasangan ini memiliki kekuatan tersendiri. Sebagai tokoh ICMI dan ormas lain, dan berasal dari Lotim, keberadaan calon wakil gubernur ini akan bisa mendulang suara yang tidak kecil bagi ZUL. Dukungan Yatofa di Lombok Tengah yang ditengarai memiliki  massa yang besar dan solid merupakan kekuatan tersendiri untuk pasangan ZUL. Cuma saja, kemenangan L. Serinata pada Pemilukada 5 tahun yang lalu di wilayah ini tidak hanya karena dukungan Golkar dan Yatofa, tetapi juga NW Anjani yang massanya banyak di Lombok Tengah. Dengan adanya wakil NW Anjani di paket HARUM, kekuatan ZUL di wilayah ini agak terganggu, meskipun diperkirakan masih cukup tinggi. Kekuatan lain dari pasangan ini adalah bahwa PBB dahulu berafiliasi dengan NW Pancor, dan belum semuanya pindah ke Demokrat, sehingga pasangan ZUL masih bisa mendulang suara dari massa NW yang masih setia dengan PBB.Kekuatan PKNU di kabupaten Dompu yang lumayan besar juga bisa menambah pundi suara Zul di daerah ini. Dengan demikian kekuatannya diperkirakan akan mendominasi di Sumbawa Barat, Sumbawa, Loteng, serta mendapat dukungan yang lumayan di Dompu, Lotim, dan Lobar.

Kapasitas (Capacity) Dan Kapabilitas (Capability)

Kalau dilihat dari kapabilitas dan kapasitas untuk menjadi pemimpin, sesungguhnya semua pasangan mempunyai kemampuan seperti itu. Tetapi kalau dilihat lebih jauh maka tentu saja setiap calon memiliki karakteristik masing-masing yang menjadi kekuatan mereka masing-masing. Kalau dilihat dari tingkat pendidikan maka ZUL dan pasangannya adalah yang paling kuat, diikuti oleh pasangan TGB, HARUN, dan SJP, walaupun bidang ilmu tidak terkait dengan politik dan bukanlah satu-satunya indikator untuk mengukur kapasitas dan kapabilitas calon. Kapasitas mereka juga bisa dilihat dari Visi dan Misi yang mereka usung.  Tetapi kalau dilihat dari sisi ini program-program yang diusung oleh semua calon sepertinya tumpang tindih alias “sama saja”, tapi kalau dilihat kejelasan program-program unggulan, nampaknya ZUL dan TGB lebih jelas dan terperinci dibandingkan dengan yang lainnya.

Dari sisi pengalaman politik, keempat calon relatif memiliki kapasitas yang tidak jauh beda. Ketiga calon merupakan Ketua Umum Partai Politik, yaitu TGB (Demokrat), Kiyai Zul (PBB) dan Suryadi (PKS), walaupun pengalaman mereka memimpin partai masih relatif baru, sedangkan HARUN, walaupun tidak mengetuai partai politik, tetapi sangat berpengalaman menjadi anggota DPR, DPD, dan Gubernur tentu juga memiliki basis politik yang tidak kecil.

Selanjutnya dilihat dari pengalaman birokrasi, tiga pasangan calon yaitu TGB, HARUN, dan ZUL memiliki pengalaman birokrasi yang memadai. TGB sebagai petahana (incumbent) dengan pengalaman menjadi gubernur dalam lima tahun terakhir, yang oleh banyak kalangan dinilai berhasil membangun NTB, tentu saja menjadi kekuatan tersendiri. HARUN bahkan lebih lama pengalamannya sebagai birokrasi termasuk menjadi Gubernur NTB sebelumnya, sehingga dari kapasitasnya dari aspek birokrasi dan kepemimpinan juga mumpuni. Dengan pernah menjadi gubernur di sini, tentu beliau juga memiliki jaringan birokrasi dan hubungan setiap kalangan di NTB, sehingga menjadi modal yang tidak kecil. ZUL juga tentu saja memiliki pengalaman yang luar biasa, dengan keberhasilan beliau menjadi bupati Sumbawa Barat 2 periode tentu memiliki kapasitas kepemimpinan yang tidak bisa diragukan lagi. Keberadaan sebagai kiyai, mantan rektor, pengusaha, dan politikus boleh dikatakan beliau mempunyai pribadi yang lengkap. Satu-satunya pasangan yang tidak memiliki pengalaman birokrasi yaitu SJP. Tetapi pengalaman ini belum tentu menjadi harga mati, karena banyak pemimpin daerah yang tidak memiliki pengalaman birokrasi justru berhasil. Ambil contoh TGB sekarang ini yang sebelumnya sama sekali tidak punya pengalaman birokrasi tetapi toh berhasil memimpin, meskipun untuk hal birokrasi ini beliau banyak dibantu oleh wakilnya,  Badrul Munir (BM).

Jadi setiap pasangan calon sejatinya memiliki karakteristik sendiri yang mengambarkan kapasitas dan kapabilitasnya untuk memimpin pemerintahan NTB lima tahun ke depan, walaupun kalau dilihat lebih kritis tentu ada kurang lebihnya. Toh kapasitas dan kapabilitas calon tidak selamanya linear dengan tingkat keterpilihan calon

Akseptabilitas – Keterterimaan

Akseptabilitas (acceptability) atau kemampuan untuk diterima masyarakat di berbagai golongan dan kalangan yang beragam bisa menjadi kunci dari kemenangan calon. Semakin luas dan banyak pangsa pasar politik calon, maka tentu saja memiliki kemungkinan lebih baik untuk menang.

Kalau dikaji lebih jauh dari keempat pasangan calon yang ada. Calon yang pernah menjadi pemimpin daerah apakah menjadi gubernur atau bupati, tentu saja sudah teruji akseptabilitasnya di wilayah masing-masing walaupun kondisi daerah yang dipimpin agak berbeda. HARUN, misalnya dengan pengalaman memimpin di DKI Jakarta dan Gubernur NTB tentu memiliki akseptabilitas yang memadai dari lintas golongan dan budaya serta mempunyai jaringan dan keterhubungan dengan banyak kalangan baik di tataran nasional maupun daerah. Begitu juga dengan TGB dengan pengalaman menjadi gubernur selama lima tahun terakhir telah intensif berinteraksi dengan berbagai pihak baik di tingkat nasional dan lokal tentu saja memiliki amunisi yang memadai dilihat dari aspek ekseptabilitas. Demikian pula halnya dengan ZUL, dengan pengalaman memimpin Sumbawa Barat dua periode telah menunjukkan kinerja yang menjadi magnet bagi pemilih yang ingin membangun. mungkin dengan kondisi yang lebih rendah keragamannya.SJP dengan tanpa pengalaman birokrasi dan memimpin langsung rakyat yang beragam tentu memiliki tingkat akseptabilitas yang mungkin lebih rendah dan lebih tersegmented dibandingkan dengan calon lain, meskipun sekarang beliau menjadi Ketua Ikatan Alumni (IKA) UNRAM.

Karena pentingnya aspek akseptabilitas lintas budaya dan golongan inilah maka banyak pasangan calon  berusaha mendekati komunitas-komunitas lain selain basisnya untuk memperluas pangsa akseptabilitas ini. Jargon mengayomi semua, NTB milik bersama, atau ikhtiar bersama, atau kesejahteraan bersama mengemuka dari hampir semua pasangan calon. Aspek ini menjadi penting karena keberagaman itu adalah sunatullah dan itu adalah potensi pembangunan yang sangat besar kalau bisa dioptimalkan.

Faktor X – Tidak Terduga

Faktor X , mungkin bisa disebutt sebagai “invisible hand”, diasumsikan sebagai faktor yang tidak terduga yang tidak bisa dianalisis secara empirik dan dengan nalar serta logika, tetapi sering juga menentukan seseorang terpilih atau tidak. Selain Ridho Allah SWT berupa takdir, atau nasib, faktor x ini lebih mengacu pada potensi masalah tertentu, misalnya keluarga, persepsi masyarakat, atau tiba-tiba terkait dengan isu-isu sensitif baik yang memperkuat atau memperlemah posisi calon. Walaupun, untuk kasus Indonesia, kasus negatifpun belum tentu melemahkan calon, dan bahkan bisa meraih simpati, karena dianggap didholimi. Tetapi faktor x ini, disadari atau tidak punya peran yang menentukan. Kalau di luar negeri, faktor x atau yg tidak terduga ini sering sangat menentukan. Alexander Downer, yang ketika itu merupakan Ketua Partai Liberal Australia dan bertindak oposisi pada saat pemerintahan Paul Keating dari Partai Buruh di periode terakhir, tersandung isu “slip of tongue” tentang masalah aborigin, sehingga dukungan publik yang sebelumnya sekitar 70 persen, terbesar dalam sejarah, sehingga pada saat semua menduga bahwa beliau pasti akan terpilih menjadi Pendana Menteri (PM) Australia. Tetapi karena insiden tersebut, suara polling pendapat pemilih anjlok di bawah 30 persen, dan susah dinaikkan lagi sehingga jabatan Ketua Partai yang disandang beliau diambil alih oleh John Howard, yang ternyata kemudian menjadi PM Australia, pengganti Paul Keating. Pengalaman yang sama pernah terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Faktor x ini seperti bom waktu, yang kapanpun terjadi, bahkan satu hari sebelum pemilihan bisa calon kuat menjadi tumbang, atau calon lemah menjadi kuat. Walaupun sejauhmana  faktor x ini berperngaruh terhadap keterpilihan seseorang sulit dideteksi, tetapi sering kali sangat menentukan hasil akhir.

Penutup

Tulisan ini merupakan analisis subyektif saya sesuai dengan apa yang saya amati. Tidak ada tendensi khusus terhadap pasangan tertentu, tetapi hanya memberikan pencerahan kepada pemilih, bahwa menentukan pilihan punya konsekuensi untuk lima tahun yang akan datang. Jika kita salah pilih maka tentu masyarakat akan rugi, karena gagal memilih yang terbaik. Kalau saya harus berpendapat, peluang HARUM, ZUL, dan TGB  sangat terbuka untuk menjadi Gubernur periode ini, tetapi sedikit agak berat untuk SJP, terkecuali ada faktor x yang bermain. Namun demikian, terus terang saja, sesungguhnya keempat pasangan calon ini memiliki track record yang baik, sehingga siapapun yang terpilih InsyaAllah akan baik bagi daerah NTB. Yang paling penting adalah siapapun pemimpinya, masyarakat harus tetap berkarya baik secara individu maupun kolektif untuk menaikkan marwah dari daerah ini, yang masih terpuruk dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

[Dikutip dari pandangan Bapak Addinul Yakin* tentang Pemilukada NTB 2013, Mataram, 29/4/2013]

*) Penulis adalah Dosen senior dan Peneliti senior di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, jurusan ekonomi sumber daya dan tata kelola lingkungan.

Sumber

Don`t copy text!