fbpx
“No Black Campaign, Utamakan Silaturrahmi”

“No Black Campaign, Utamakan Silaturrahmi”

Calon Gubernur NTB, DR KH zulkifli Muhadli SH MM (Kyai Zul), mendapat sambutan luar biasa selama melaksanakan roadshow silaturahmi di Dana Mbojo (Bima – Dompu). Ada banyak alasan kenapa di semua tempat yang dikunjungi, tokoh yang juga Bupati KSB itu selalu mendapat perhatian luas dan dianggap sebagai ‘harapan baru’ untuk perubahan NTB  ke arah yang lebih baik.

(Catatan Roadshow ZUL ICHSAN oleh: KHAIRIL ZAKARIAH*)

Pemilu Kepala Daerah (Pilkada), termasuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) NTB sejatinya adalah pesta. Pesta demokrasi. Semua rakyat ibarat tamu. Meski tidak semua memiliki hak untuk memilih, namun berhak ikut serta, menikmati, larut dan bergembira dalam pesta itu. Pesta itu akan berujung pada terpilihnya ‘ratu pesta’ yang akan disemati mahkota ‘pemimpin’ untuk lima tahun mendatang. Layaknya sebuah pesta, Pilkada seharusnya menjadi moment bagi seluruh orang yang terlibat di dalamnya (baik yang dipilih maupun yang memilih), untuk ikut berbahagia. Bahagia berarti tidak menodainya dengan sikap yang bisa merusak perasaan bahagia orang lain, atau saling menjatuhkan dan membenci karena bisa merusak suasana pesta itu sendiri.

Bulan lalu, di Kecamatan Madapangga Kabupaten  Bima, ratusan warga yang hadir menjawab serempak, “100 persen..”. DR KH Zulkifli Muhadli SH MM (Kyai Zul) – Calon Gubernur atau salah satu kandidat ‘ratu pesta’ pada Pilgub NTB Mei mendatang, yang sedang berdiri di atas panggung sambil berorasi, langsung menanggapi dengan kalimat, “Saya tidak percaya,”.

“Saya tidak percaya masyarakat Bima akan 100 persen memilih saya. Di sini ada Pak Harun (Harun Al Rasyid – kandidat ‘ratu pesta lainnya’). Beliau Putra Bima dan punya pengalaman sangat luas, tapi saya juga tidak percaya beliau bisa dipilih 100 persen oleh warga Bima. Ada juga TGB dan SJP. Jadi pilihlah Pak Harun, pilih juga TGB dan SJP. Tapi jangan lupa pilih lebih banyak ZUL ICHSAN,” katanya.

Pernyataan dengan intonasi lembut disertai senyum khas itu, sontak membuat bergemuruh lapangan umum di Madapangga dan Gedung Muhammadiyah Kota Bima sehari sesudahnya, serta lapangan Kecamatan Wera, gedung serbaguna di Sape serta lapangan Kempo di Dompu beberapa hari berselang, yang dipenuhi warga. Warga menyambutnya dengan tepuk tangan riuh dan yel-yel kemenangan. Mungkin tidak satupun diantara warga yang hadir itu yang pernah mendengar seorang kandidat, meminta para pemilih untuk memilih kandidat lain yang menjadi rivalnya. Juga tidak pernah ada seorang kandidat yang dengan begitu ikhlas meminta pemilih untuk memilih rivalnya. Hanya Kyai Zul yang bisa melakukan itu.

Lain pula cerita di Gedung Muhammadiyah Kota Bima. Tokoh peraih Best Asian Executive Award 2006 itu, mengupas tentang silaturahmi yang merupakan implementasi dari hablum minannas dan menjadi tolak ukur hablum minallah. Karena itu silaturrahmi menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat.

Berbeda pilihan dalam konteks Pilkada adalah hal yang lumrah. Tetapi perbedaan itu semestinya tidak menjadi jurang pemisah yang berujung pada putusnya silaturahmi dengan keluarga, tetangga, teman atau orang lain. Berbeda pilihan tidak mesti menyebabkan ayah tidak menegur anaknya, atau istri tidak mau menegur suaminya. Berbeda pilihan juga tidak mesti menyebabkan partai memecat kadernya. Padahal sesungguhnya perbedaan itu indah, karena bisa memupuk dinamika positif bagi demokrasi dan memberi pelajaran politik yang baik bagi masyarakat.

“Jangan pilih saya pak, jangan pilih saya bu, jika karena pilihan itu silaturahmi harus putus dengan istri, suami, keluarga, tetangga atau orang lain. Silaturrahmi jauh lebih penting. Cukup dukung saya lewat doa, asal silaturrahmi tetap terjaga,” himbaunya.

Rakyat paham, pemimpin sejati tidak serakah. Tidak menghalalkan segala cara agar dipilih. Tidak menghujat dan menjatuhkan kredibilitas rivalnya dengan tujuan rakyat berbondong-bondong memilihnya, juga tidak merasa rugi meminta rakyat untuk tidak memilihnya daripada putus silaturrahmi. Sesungguhnya rakyat punya hak azasi untuk menentukan sendiri siapa pemimpin yang dianggap layak untuk memimpinnya. Gedung yang dipenuhi ribuan manusia itu kembali bergemuruh. (*)

*) Penulis adalah Ketua Komunitas Pers (KOMPERS) Sumbawa Barat. 

Don`t copy text!