fbpx
Warga Bosan Terpuruk, Stop Peruncing SARA!

Warga Bosan Terpuruk, Stop Peruncing SARA!

Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan bangsa Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Dan kita semua sudah sepakat dengan motto itu, sehingga kita ukir dengan jelas dalam cengkraman lambang Negara kita garuda pancasila.

Bila Diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti “beraneka ragam” atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Jawa Kuna berarti “macam” dan menjadi pembentuk kata “aneka” dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti “satu”. Kata ika berarti “itu”. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”, yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Hal inilah yang patut disadari lagi oleh seluruh rakyat Indonesia, yang saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. Tidak saja marak konflik antar pemeluk agama, kini juga marak konflik horizontal antar suku atau etnis. Sebut saja Kerusuhan massa terjadi di Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa, 22 Januari lalu. Massa mengamuk dengan cara merusak dan membakar beberapa bangunan dan kendaraan. kerusuhan ini dipicu oleh isu adanya oknum polisi asal etnis tertentu yang memperkosa seorang mahasiswi warga setempat. Isu tersebut membuat warga marah. Padahal isu tersebut masih diragukan kebenarannya. Sungguh sangat memprihatinkan dan sangat disesalkan.

Jangan lagi memperuncing perbedaan suku, etnis dan agama mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk dari perbedaan dan keberagaman. Terutama jelang pemilihan kepala daerah Nusa Tenggara Barat (Pilgub NTB) mendatang. Karena dari pantauan KOBAR, sudah banyak beredar isu-isu yang berbau SARA yang dihembuskan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu. Terutama di jejaring sosial dan beberapa media online.

Tengoklah betapa suksesnya proses pemilihan kepala daerah DKI Jakarta dengan terpilihnya Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur. Setidaknya membuktikan bahwa isu SARA sudah tidak mempan di Jakarta (Ibu Kota Indonesia). Seperti disampaikan peneliti LSI, Burhanuddin Muhtadi. Menurutnya, isu SARA yang kerap dilontarkan pada masa kampanye sama sekali tidak efektif dan tidak berpengaruh diterapkan kepada warga Jakarta sebagai kota besar. “Masyarakat Jakarta pendidikannya tinggi. Jadi politik aliran tidak berlaku. Karena proses Pilkada yang diunggulkan figurnya. Jadi, pemilih adalah raja, bukan aliran dan elit politik,” papar Burhanuddin.

Tidakkah kita sadari bahwa sejarah telah membuktikan bahwa banyak sekali bangsa di dunia ini yang terpuruk bahkan luluh lantak hanya karena dipicu oleh isu SARA. Seperti yang terjadi di beberapa negara bekas uni soviet, afrika, timur tengah, dan lain-lain. Bahkan kita pun pernah terkungkung dalam belenggu penjajahan belanda selama 350 tahun, disebabkan oleh karena kita termakan strategi “adu domba” atau bangsa Belanda menyebutnya “devide et impera”.

Pantaslah, untuk mempersatukan bangsa arab yang konon suka berselisih dan selalu memperuncing SARA dalam kehidupan mereka. Muhammad SAW bersabda: “La farqa baina arabiyyin wa ajamiyyin illa bit taqwa.” Yang artinya: “Tidak ada perbedaan antar orang arab dan orang luar arab melainkan dibedakan oleh Ketaqwaannya kepada Allah SWT.”. Karena memang Muhammad SAW adalah rahmat bagi semesta alam.

Berkenankah kita akan isu SARA yang dihembuskan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mempengaruhi kehidupan sosial politik kita, yang akhirnya membuat kita terpecah belah lalu saling bermusuhan?. Tentu saja tidak!. Oleh karena itu dengan semangat menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati, mari kita junjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika demi suksesnya Pilgub NTB mendatang. Mari kita memilih pemimpin kita tanpa lagi memperdulikan SARA. Melainkan memilih dengan lebih mengutamakan kejujuran seorang figur, kerendahan hati, dan program yang langsung menyentuh rakyat. Dan jangan sampai kita terpuruk hanya karena selalu memperuncing perbedaan sehingga muncul konflik horizontal yang sama-sama tidak kita harapkan. Semoga. [*]

Don`t copy text!