fbpx
Pertamina Berhasil Rebut Blok Rokan dari Chevron

Pertamina Berhasil Rebut Blok Rokan dari Chevron

Jakarta, KOBAR – Blok Rokan yang berada di Provinsi Riau, Senin, (9/8), resmi beralih pengelolaannya dari PT Chevron Pacific Indonesia (TPI) ke PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), anak usaha PT Pertamina (Persero). 

“Peralihan pengelolaan blok Rokan ini merupakan tindak lanjut dari keputusan pemerintah pada 6 Agustus 2018. Pada saat itu, penawaran dari Pertamina dinilai lebih baik untuk mengelola salah satu blok minyak dengan produksi terbesar di Indonesia ini,” tutur Arcandra Tahar, Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Selasa, (10/8).

Arcandra Tahar 1
Arcandra Tahar

Lapangan produksi Blok Rokan, jelasnya, terhitung luas, sekitar 6.453 kilometer persegi. Ada dua lapangan utama, yaitu, lapangan Duri yang ditemukan pada Maret 1941, dan lapangan Minas ditemukan pada Desember 1944. 

“Berbeda dengan kegiatan operasi sebelumnya, pengelolaan blok Rokan oleh Pertamina menggunakan sistem fiskal Gross Split. Dengan sistem ini, seluruh biaya operasi menjadi tanggung jawab penuh dari Pertamina. Sebagai konsekuensinya, bagi hasil yang diterima oleh Pertamina menjadi lebih besar,” jelasnya.

Presiden Jokowi Bersama Basuki Tjahaja Purnama Komisaris Utama Pertamina
Presiden Jokowi Bersama Basuki Tjahaja Purnama (Komisaris Utama Pertamina)

Karena harus membiayai operasi sendiri, lanjutnya, kontraktor dengan sistem gross split dituntut untuk semakin efisien dan bertanggung jawab. Karena setiap biaya yang mereka keluarkan akan mengurangi potensi keuntungan yang diperoleh. 

“Aturan dalam Gross Split memungkinkan kontraktor dapat menjalankan bisnisnya dengan baik karena resikonya terjaga. Sebagai contoh, ketika harga minyak turun, kontraktor bisa mendapat tambahan split dari gross revenue. Sebaliknya, ketika harga minyak naik, negara yang akan mendapatkan bagi hasil lebih baik,” terang Arcandra.

Pertamina Berhasil Rebut Blok Rokan dari Chevron 1
Blok Rokan Kembali Ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Kegiatan procurement juga, tambahnya, menjadi lebih efisien karena tidak melewati birokrasi yang panjang. Teknologi terbaik dengan harga yang kompetitif akan menjadi pilihan bagi kontraktor, karena semua biaya mereka yang menanggung. Dan yang lebih penting lagi, katanya, dalam sistem gross split, negara tetap memegang kontrol penuh terhadap kegiatan operasi di blok migas. Termasuk penetapan bagi hasilnya. 

“Dengan menggunakan perhitungan gross revenue sebagai dasar bagi hasil dengan kontraktor, negara bisa mendapatkan hasil yang optimal dan bisa menggunakan dana APBN untuk membiayai kegiatan ekonomi lainnya. Kita berharap pengelolaan blok Rokan bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia. Insya Allah,” tutup Arcandra Tahar. (knda)

Don`t copy text!