fbpx
Milenial Jadi Petani Sangat Sedikit, Pemerintah Setempat Dituntut Putar Akal

Milenial Jadi Petani Sangat Sedikit, Pemerintah Setempat Dituntut Putar Akal

Taliwang, KOBAR – Data BPS menunjukkan, bahwa di wilayah pedesaan hanya ada sekitar 4% anak muda berusia 15-23 tahun (Milenial, red), yang tertarik bekerja menjadi petani. Sisanya memilih bekerja di sektor industri, sektor industri kecil-menengah, atau sektor informal kota, karena dipandang lebih potensial untuk menjamin kesejahteraan di masa depan. Minimnya minat milenial untuk terjun langsung ke sektor pertanian, menandakan bahwa pertanian hari ini dinilai sudah tidak menguntungkan lagi. Selain itu, secara status sosial Petani masih dipandang rendah. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah setempat dituntut untuk segera putar akal. Karena jika tidak, masa depan pertanian Indonesia akan terancam.

Regenerasi petani menjadi salah satu faktor kunci untuk kemajuan dan modernisasi pertanian Indonesia. Melalui regenerasi, penggarapan lahan, proses produksi, dan agrobisnis akan dijalankan oleh mayoritas kelompok petani muda atau kaum milenial yang biasanya bekerja lebih produktif dan efisien dengan memanfaatkan teknologi serta selalu kreatif berinovasi. 

“Kunci dari petani dan pertanian berteknologi adalah adanya regenerasi petani. Lalu, untuk menarik anak-anak muda ke pertanian, kita harus menjadikan sektor pertanian itu menjanjikan dan menguntungkan dengan pembukaan akses pasar, inovasi, dan teknologi,” kata Ketua Umum Pemuda Tani HKTI, Rina Sa’adah Adisurya, dalam siaran persnya, Sabtu, (15/8).

rina saadah hkti muda
Rina Sa’adah Adisurya

Rina juga menyebutkan, regenerasi penting untuk mengatasi laju penurunan jumlah petani. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan, bahwa dalam jangka waktu dua tahun (2016-2018), penurunan jumlah petani di Indonesia berjalan cukup signifikan, yaitu sebanyak 4 juta petani. Dimana salah satu penyebabnya adalah masih lambannya proses regenerasi petani. 

“Data Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan), menyebutkan 90% dari total jumlah petani Indonesia sudah memasuki fase kurang produktif. Jadi perlu ada solusi menciptakan regenerasi petani. Saat ini ada 33,4 juta petani di Indonesia. Dari jumlah itu, 2,7 juta petani usia milenial, dan 30,4 juta usia ‘kolonial’. Jadi negara ini sedang bermasalah dalam hal fase umur petani,” tutur Neng Rina, begitu ia akrab disapa.

Rina kemudian menjelaskan, bahwa begitu pentingnya revitalisasi pertanian dengan regenerasi petani. Hal tersebut beralasan, karena jumlah petani muda saat ini berjumlah di bawah angka 3 juta orang, sementara luas lahan pertanian Indonesia mencapai 7,78 juta hektare. Minimnya minat generasi milenial untuk terlibat dan terjun langsung dalam sektor pertanian menandakan bahwa pertanian hari ini dinilai sudah tidak menguntungkan lagi. Selain itu, secara status sosial masih dipandang rendah. 

“Oleh karena itu, kaum muda kehilangan gairah untuk bertani. Situasi ini bisa juga berimplikasi kurang baik terhadap target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Oleh karena itu, sekali lagi perlu ditekankan, bahwa melibatkan generasi muda adalah kuncinya, dan pertanian modern adalah solusi untuk menarik generasi muda agar terlibat dalam bisnis pertanian. Kaum muda di kalangan milenial perlu didorong untuk menjadi petani. 

Sebab jadi petani saat ini adalah termasuk gaul dan perlu melek teknologi, lanjut  Rina. Pemuda Tani HKTI, beber Neng Rina, akan terus berupaya berperan aktif dalam upaya terciptanya regenerasi petani. Kemudian sebagai komponen bangsa, organisasinya juga terpanggil dan bertekad untuk berpartisipasi mendukung pemerintah dalam pembangunan sektor pertanian Indonesia. 

“Presiden Joko Widodo sendiri telah mengarahkan seluruh kementeriannya untuk menyiapkan generasi muda menghadapi era revolusi industri 4.0, termasuk petani milenial. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah setempat harus segera bergerak cepat, dan tidak tinggal diam. Jika ini terlaksana, maka Indonesia ke depan akan makmur. Sebab sektor pertanian adalah sektor prioritas dengan jumlah pintu pasar paling banyak di dunia,” pungkas Ketua Umum Pemuda Tani HKTI. (klar)

Don`t copy text!