Pol PP Garuk Lapak Penjual Petasan dan Kembang Api

Pol PP Garuk Lapak Penjual Petasan dan Kembang Api

“3 Pedagang Kantongi Izin Polda”

Taliwang, KOBAR – Jajaran Polisi Pamong Praja (Pol-PP) sudah mulai melakukan razia terhadap peredaran petasan atau kembang api yang menyebabkan letusan baik di udara maupun di darat. Razia itu dilakukan pada malam pertama bulan Ramadhan.

Gerak cepat Pol PP dibantu Polres Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), berhasil menutup 7 lapak penjual petasan dan kembang api pada hari pertama razia. Dari tangan ketujuh pemilik lapak itu, sebanyak 780 buah petasan dan kembang api diamankan sebagai barang bukti. “Semua dagangannya kita sita karena selain barang dagangannya dilarang, mereka juga tidak punya izin menjual,” terang Kasatpol-PP KSB, Agus Hadnan SPd, kepada media ini, Kamis (18/6) kemarin.

Sebenarnya kata dia, berdasarkan informasi yang diperolehnya, terdapat 19 titik lapak penjual petasan dan kembang api dalam kota Taliwang. Hanya saja dari razia perdana yang dilakukannya dibantu aparat kepolisian, baru 7 lapak yang berhasil ditemukan di lokasi langsung saat berjualan. “Sepertinya sudah bocor informasi kami akan razia, sehingga yang lainnya tidak menjual di hari kami turun lapangan,” timpalnya.

Meski menjual berbagai mainan pencetus api yang dilarang, tidak semua lapak ternyata illegal. Dari 19 lapak, Satpol-PP menemukan 3 diantaranya mengantongi izin sebagai pengecer dari pihak kepolisian. “Ada yang punya izin dari Polda. Tapi kami tetap mengamankan barang jualannya, karena beberapa diantaranya ada yang tidak masuk dalam spesifikasi list yang tertera dalam izin yang dikantonginya itu,” tegas Agus, seraya meminta kepada para pemilik lapak untuk tidak lagi menjajakan dagangannya.

“Saran kami disimpan saja sampai sehari sebelum lebaran. Karena di malam idul fitri (takbiran, red) ada pengecualian, boleh menyalakan kembang api dan petasan. Tapi selama bulan puasa tidak ada toleransi. Kami akan menindak mereka yang tetap menjual,” sambungnya.

Razia penjual petasan dan kembang api yang dilakukan aparat Satpol-PP itu sebagai salah satu amanat Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 24 Tahun 2015 tentang Kegiatan Masyarakat pada Bulan Ramadan. Agus mengatakan, Perbup itu mengatur segala bentuk kegiatan masyarakat yang dianggap dapat mengganggu ketentraman lingkungan selama bulan puasa sebulan penuh. “Makanya kita juga mengawasi tempat hiburan malam dan warung makan untuk tutup selama Ramadhan. Dan Alhamdulillah sejauh ini tertib, terutama tempat hiburan malam, mereka sudah tutup sejak 3 hari sebelum hari H,” urainya.

Sementara itu terbitnya Perbup 24/2015 itu dinilai banyak pihak sangat positif. Para tokoh agama dan tokoh masyarakat (Toga/Toma) antusias dan merasakan sekali dampak positif dari pemberlakukan Perbup yang sekaligus siap memberikan sanksi bagi masyarakat yang melanggarnya itu. (kimt)

Don`t copy text!