Terkendala Akses Jalan, Dermaga Benete Sulit Dikembangkan

Terkendala Akses Jalan, Dermaga Benete Sulit Dikembangkan

Maluk, KOBAR – Pengembangan dermaga benete masih terbentur dengan ruas jalan yang akan dilintasi kendaraan pengangkut barang hasil bongkaran. Selain kondisi jalan yang rusak parah, juga terjadi penolakan masyarakat untuk memanfaatkan akses jalan yang ada untuk digunakan armada pengangkutan barang. Sehingga mau tidak mau, harus ada opsi pembukaan akses jalan lain, kalau memang dermaga ini ingin dikembangkan.

Untuk membuka akses jalan memang membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, tetapi tersedia lahan yang bisa dipergunakan sebagai akses baru, hanya saja areal itu dibawah penguasaan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), sehingga diharapkan ada pemberian ijin pemanfaatan dari perusahaan.

Kepala Syahbandar Benete, M Ilyas kepada media ini menuturkan, keberadaan dermaga Benete seharusnya bisa dimanfaatkan secara totalitas, baik untuk pengangkutan barang sembako dari luar daerah maupun kebutuhan bangunan, karena dengan cara itu bisa menekan harga jual, sebab biaya transportasi laut lebih murah dan dengan sendirinya harga jual atas barang itu sendiri bisa murah.

Diingatkan Ilyas, beberapa waktu lalu pernah terjadi pembongkaran semen yang diangkut dari Lombok. Cara itu dianggap sebagai solusi atas kelangkaan semen. “Dermaga Benete seharusnya bisa dimanfaatkan untuk pembongkaran muatan, jika akses jalan keluar-masuk kendaraan pengangkut tersedia,” ucapnya.

Menyinggung soal lahan milik Newmont, Ilyas mengaku pernah membangun komunikasi untuk bisa dipergunakan dengan sistem pinjam pakai, tetapi prosedur itu akan cepat dan menjadi perhatian perusahaan, jika yang mengajukan pinjam pakai adalah pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). “Sulit untuk menggunakan akses yang ada saat ini, karena masyarakat tidak menerima akses itu dimanfaatkan untuk kegiatan pengangkutan material yang dibongkar dari dermaga, jadi solusinya dibuka akses baru saja,” lanjut Ilyas.

Jika ada kesepahaman dengan membuka akses baru, Ilyas bisa meyakini bahwa harga jual barang yang mahal bisa ditekan, karena salah satu alasan para pengusaha adalah mahalnya biaya transportasi, dimana sampai saat ini aktifitas kedatangan barang di Bumi Pariri Lema Bariri masih menggunakan jalur darat, sementara biaya itu sendiri tidak murah, sedangkan biaya transportasi laut jauh lebih murah, sehingga bisa dipastikan harga juga akan lebih murah dari sekarang ini.

Manager SR Goverment PTNNT, H Kasan Mulyono pada kesempatan itu mengaku jika keinginan untuk memanfaatkan areal milik perusahaan bisa saja dilakukan, namun proses untuk pinjam pakai harus dilalui terlebih dahulu, “Memang benar bahwa jalur alternatif yang hendak dipergunakan adalah lahan dibawah penguasaan perusahaan,” ucapnya. (kimt)

Don`t copy text!