fbpx
2015, KSB Harus Mandiri Benih

2015, KSB Harus Mandiri Benih

Taliwang, KOBAR – Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) meminta pada tahun 2015 mendatang pemerintah melalui Balai Benih Unggul (BBU) sudah mampu menyiapkan kebutuhan benih bagi para petani, sehingga tidak lagi terdengar ada petani yang membeli benih dari luar, apalagi sampai kesulitan untuk mendapatkan benih.

Ketua komisi II DPRD KSB, Aheruddin Sidik SE, ME kepada media ini menuturkan, KSB sebagai daerah yang mayoritas masyarakatnya sebagai petani seharusnya tidak lagi mencari benih dari luar daerah atau seyogyanya justru harus menjadi daerah penghasil benih, karena dengan ketersediaan benih didalam daerah akan mengurangi pengeluaran para petani tersebut.

“Kami dari komisi II sangat berharap kedepan atau mulai tahun 2015 mendatang, petani bukan hanya berproduksi tetapi juga sebagai penyedia benih, terlebih BBU yang merupakan bagian dari pemerintah harus mampu maksimal melaksanakan program peningkatan produksi benih,” ucap politisi muda asal kecamatan Seteluk itu.

Pada kesempatan itu Aher sapaan akrab ketua Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) itu, komisi II akan mensuport (dukung) secara maksimal apa yang menjadi program BBU, jika program itu sendiri dalam rangka meningkatkan produksi benih. “Silakan sodorkan program, pasti kami akan mendukung, jika program yang disampaikan itu logis dan benar-benar akan mendukung petani, terutama dalam ketersediaan benih,” lanjut Aher.

Kepada dinas tekhnis juga diminta untuk memikirkan program peningkatan kapasitas produksi bagi petani penangkar benih, karena memang saat ini BBU masih sulit untuk memenuhi kebutuhan benih para petani. “Kami juga berharap kepada pemerintah memiliki konsep atau program yang lebih diperuntukkan bagi petani penangkar benih, sehingga mereka bisa terus berproduksi untuk menghasilkan benih unggul untuk dipergunakan para petani nantinya,” timpalnya.

Hal penting yang juga harus diantisipasi oleh pemerintah, terutama menjelang musim tanam dalam waktu dekat ini, benih yang dibutuhkan harus sudah tersedia, setidaknya ada jaminan bahwa benih itu beredar luas, sehingga tidak lagi menjadi kendala petani saat musim tanam tiba.

Dari data milik Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan) jumlah benih yang dibutuhkan ada pada kisaran 334 ton lebih dengan estimasi jumlah lahan seluas 11.149 dengan rincian, lahan irigasi seluas 8.279 hektar, lahan tadah hujan seluas 2.805 hektar dan lahan rawa lebak seluas 65 hektar. Jika setiap hektar membutuhkan 3 kilo, maka kebutuhan itu pada pada kisaran 334 ton lebih. (kimt)

Don`t copy text!