fbpx
Penetralan Air Asam Tambang Mulai Diragukan

Penetralan Air Asam Tambang Mulai Diragukan

Taliwang, KOBAR – Beda pernyataan yang disampaikan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat (BLH KSB) dengan humas PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) terkait telah dilakukan proses pembuangan air asam tambang dari Dam Santong 3 ke laut melalui pipa tailing memunculkan keraguan atas penetralan air yang mengandung zat kimia tersebut.

“Awalnya kami yakin perusahaan akan melakukan penetralan air asam tambang sebelum dibuang, namun pernyataan yang disampaikan pihak Humas PT. NNT bahwa perusahaan tidak pernah melakukan proses pembuangan memunculkan keraguan penetralan air asam tambang dari Dam Santong 3 tersebut,” tandas sekretaris Forum Ilmu Sosial (FIS) Transformatif, Zulkarnaen MPd.

Masih keterangan Zulkarnaen, bantahan yang disampaikan Humas perusahaan asal Amerika itu bisa saja sebagai upaya untuk mengelak, kalau nanti terjadi pencemaran lingkungan, lantaran mereka belum atau tidak melakukan penetralan terlebih dahulu atas air asam tambang. “Ada pertanyaan besar kami kenapa justru ada bantahan atas aktifitas pembuangan air asam tambang,” tegasnya.

Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini meminta kepada BLH KSB untuk menyampaikan secara terbuka apa yang menjadi bukti telah ada atau terjadi proses pembuangan air asam tambang ke laut melalui pipa tailing, agar BLH KSB tidak disalahkan atau dituding telah menyampaikan informasi yang salah.

“Kami minta BLH KSB untuk menyampaikan secara terbuka bukti fisik atas prilaku perusahaan membuang air asam tambang dan kepada Newmont juga harus memberikan bukti jika tidak pernah ada aktifitas tersebut, agar masyarakat bisa mengetahui apa sebenarnya terjadi,” pinta Zulkarnaen.

Lanjut Zulkarnaen, beda pernyataan yang terkuak melalui media itu sangat prinsip dan harus ada pembuktian, sehingga diharapkan ada peran langsung DPRD KSB untuk terlibat dan melakukan pengecekan. Jika benar telah ada proses pembuangan air asam tambang, maka bisa dimintai bukti telah dilakukan penetralan, termasuk alasan memberikan keterangan bantahan atas pernyataan BLH KSB. “Kita tunggu apa yang akan dilakukan pihak DPRD KSB terkait hal itu,” urai pemuda asal Fajar Karya kecamatan Brang Ene itu.

Sebagai informasi, BLH KSB telah mengambil sampel air yang terbuang itu untuk dilakukan pengujian di laboraturiam Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusar Pedal) milik Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH). Hasil itu masih ditunggu. (kimt)

Don`t copy text!