fbpx
Newmont Buang Air Asam Tambang Ke Laut

Newmont Buang Air Asam Tambang Ke Laut

Taliwang, KOBAR – Air asam tambang yang tertampung di bendungan santong 3 sudah pada ambang batas ketinggian atau hampir meluap, sehingga PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) mengambil langkah dengan membuang melalui pipa tailing ke dalam laut.

Informasi yang dihimpun media ini, ketinggian air yang mengandung zat kimia berbahaya itu sudah mencapai 105.7 atau hampir meluap, karena batas maksimal ketinggiannya 106. Bahkan informasi yang berkembang, warning peringatan sudah berbunyi tanda kewaspadaan.

Telah terbuang sebagian air asam tambang ke dalam laut dibenarkan kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat (BLH KSB), H Usman HI SPd, MM saat ditemui dalam ruang kerjanya Senin 18/8 kemarin.

Diakui H Usman, sebelum ada proses pembuangan kedalam laut, pihaknya pernah ikut melakukan investigasi dan pemantauan lokasi penampungan air asam tambang tersebut. Saat pemantauan awal, ketinggian mencapai 104.7, sehingga belum dilakukan proses pembuangan.

Pada investigasi lanjutan, ketinggian terus terjadi, karena perusahaan tidak lagi beroperasi, bahkan mencapai ambang batas atau sudah mencapai 105.7, sehingga harus dilakukan upaya pengantisipasiannya. “Langkah antisipasi meluap air asam tambang hanya dengan dibuang, karena perusahaan tidak lagi beroperasi atau tidak lagi memanfaatkan air asam tambang tersebut,” ucap H Usman.

Masih keterangan H Usman, pembahasan dalam mengantisipasi meluap air asam tambang di santong 3 pernah dilakukan bersama antara pemerintah KSB dengan provinsi dan Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH), sehingga keluar rekomendasi atau opsi yang akan dilakukan. Opsi itu adalah, dibuang lewat sungai Tongo, kebalikan ke pite atau dibuang ke laut melalui pipa tailing setelah dilakukan proses proses penetralan.

“Pembuangan sebagian air asam tambang yang dilakukan Newmont setelah dilakukan penetralan, jadi saya yakin yang telah terbuang itu bukan lagi air yang mengandung zat berbahaya, tetapi sudah masuk ambang batas. Bahkan pembuktiannya dilakukan dengan pengecekan melalui laboraturium independen di Bogor,” lanjut H Usman.

Hal penting juga disampaikan H Usman, sebelum berproses pembuangan, perusahaan harus mendapatkan ijin dari Kemen LH. Ijin itu sendiri akan terbit jika mendapat rekomendasi dari Bupati KSB dan Gubernur NTB. “Perusahaan sudah melaksanakan proses tersebut,” tandas H Usman. (Kimt)

Don`t copy text!