Menenun Harapan dari Negeri di Atas Awan Bersama AMMAN

Menenun Harapan dari Negeri di Atas Awan Bersama AMMAN - mantar aida

Kabut tipis masih menyelimuti Desa Mantar ketika matahari perlahan menyingkap cakrawala. Dari ketinggian 685 meter di atas permukaan laut, desa ini seolah berdiri di antara langit dan bumi. Tak berlebihan jika masyarakat dan para pengunjung menjulukinya sebagai “Negeri di Atas Awan”. Dari sini, matahari terbit memancarkan cahaya keemasan, menyingkap siluet kokoh Gunung Rinjani yang diselimuti awan tipis. Di kejauhan, kapal-kapal yang hilir mudik di lintasan Pototano–Kayangan tampak mungil, melengkapi panorama yang membuat siapa pun tertegun.

Mantar bukan sekadar desa terpencil di Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Ia adalah destinasi wisata unggulan yang telah ditetapkan pemerintah daerah sebagai ikon kebanggaan kabupaten terkaya di Nusa Tenggara Barat. Dengan penduduk lebih dari sepuluh ribu jiwa, desa ini bahkan pernah menjadi tuan rumah olahraga paralayang dunia. Dari ketinggian bukitnya, para atlet terbang bebas menembus awan, menjadikan Mantar semakin dikenal hingga ke mancanegara.

Lewat Gambar dan Permainan, Dinsos KSB Obati Trauma Anak-Anak Terdampak Bencana di Taliwang

Namun, di balik pesona alamnya yang menakjubkan, Mantar menyimpan kisah lain: tentang tradisi yang hampir hilang, tentang tenun yang dulu menjadi identitas, lalu meredup ditelan modernisasi.

Dulu, hampir setiap rumah di Mantar memiliki alat tenun. Kain yang dihasilkan bukan sekadar pakaian, melainkan simbol status sosial, identitas budaya, dan kebanggaan keluarga. Menenun adalah bahasa cinta yang diwariskan dari ibu ke anak, dari generasi ke generasi. Namun, arus modernisasi perlahan menggerus tradisi itu. Generasi muda mulai meninggalkan alat tenun, memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan. Suara gedogan pun nyaris tak terdengar lagi, dan tenun Mantar hampir menjadi cerita masa lalu.

Cetak Tenaga Kerja Kelas Wahid, 32 Pemuda KSB Bakal Digembleng UT School Semarang Berstandar BNSP

Di tengah situasi itu, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) hadir membawa angin segar. Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang berfokus pada pembangunan ekonomi, AMMAN menggandeng Digital Tenun Nusantara untuk menghidupkan kembali tradisi yang hampir padam.

“Kami ingin menjadikan Mantar sebagai pusat tenun, menghidupkan kembali tradisi yang telah menjadi identitas masyarakat di sini,” ujar Aji Suryanto, Sr. Manager Social Impact AMMAN.

Program ini dimulai dengan riset antropologi, menggali sejarah dan makna tenun Mantar agar setiap helai kain yang dihasilkan tetap memiliki ruh budaya. Dari riset itu lahirlah Kelompok Tenun Berseri, wadah bagi enam belas pemudi desa untuk belajar, berlatih, dan berkreasi.

Pelatihan demi pelatihan digelar. Para perajin diajarkan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan gedogan untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi. Motif-motif tradisional yang hampir hilang didokumentasikan secara digital, lalu dipadukan dengan inspirasi baru agar lebih relevan dengan pasar modern. Diversifikasi produk pun dilakukan: dari kain tenun, pakaian, dekorasi rumah, hingga aksesoris.

Didukung Google.org dan ASEAN Foundation, UNDOVA Bersama AMMAN Gembleng Dosen dan Mahasiswa Kuasai AI

Kini, suara gedogan kembali terdengar di Mantar. Setiap helai kain yang lahir dari tangan-tangan perempuan desa itu bukan hanya karya seni, tetapi juga sumber penghidupan. Kelompok Tenun Berseri mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp 120 juta per tahun. Angka itu bukan sekadar capaian ekonomi, melainkan simbol bahwa tradisi bisa menjadi jalan menuju kemandirian.

“Berkat program ini, kami bisa meneruskan tradisi leluhur sekaligus memiliki penghasilan sendiri,” tutur Sri Devi, pemudi berusia 24 tahun yang kini memimpin kelompok.

Sementara itu, Habibah, seorang sesepuh penenun berusia 60 tahun, menatap generasi muda dengan penuh harapan. “Semoga anak cucu kami bisa terus melestarikan tenun Mantar dan membawa nama harum Sumbawa Barat hingga ke mancanegara,” katanya lirih, seolah menitipkan doa pada setiap helai benang yang ditenun.

Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Bupati KSB Tegaskan Kemajuan Tak Boleh Hanya Dinikmati Sebagian Pihak

Kini, Mantar tidak hanya dikenal sebagai “Negeri di Atas Awan” dengan panorama alam yang menakjubkan, tetapi juga sebagai pusat kebangkitan budaya. Desa ini menjadi bukti bahwa pariwisata dan tradisi bisa berjalan beriringan, saling menguatkan, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih mandiri.

Pesona alam, olahraga paralayang dunia, dan tenun Mantar yang kembali bersinar menjadikan desa ini lengkap sebagai destinasi wisata unggulan. Namun, untuk terus berkembang, Mantar membutuhkan dukungan banyak pihak. Pemerintah daerah menyadari keterbatasan anggaran, apalagi di tengah kebijakan efisiensi. Di sinilah peran swasta seperti AMMAN menjadi sangat penting: bukan hanya sebagai penyokong, tetapi sebagai mitra sejati dalam perjalanan panjang menuju kemandirian.

Kisah tenun Mantar adalah kisah tentang bagaimana sebuah tradisi yang hampir punah bisa kembali hidup ketika disentuh dengan kesungguhan. Ini adalah kisah tentang bagaimana pemberdayaan ekonomi tidak harus memutus akar budaya, melainkan justru menguatkannya.

Diwarnai Tangis Haru Orang Tua, 44 Putra-Putri Terbaik KSB Resmi Dikukuhkan Jadi Paskibraka 2026

Sentuhan AMMAN di Sumbawa Barat bukanlah langkah biasa. Ini adalah perjalanan panjang yang menenun kembali harapan, benang demi benang, hingga menjadi kain yang utuh—kain yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menghangatkan kehidupan banyak orang.

Tenun Mantar kini bukan sekadar kain. Ia adalah simbol kebangkitan, identitas yang kembali tegak, dan bukti bahwa tradisi bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya saing. ***

About The Author

Trending

  • 56
    Menyemai Mandiri di Tana Samawa, Cerita 88 Persen Rantai Pasok AMMAN yang Menghidupi WargaOleh: Syuaib Ahkam Suara dering notifikasi transaksi digital berbunyi nyaring dari sebuah ponsel pintar milik pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Sumbawa Besar. Di layarnya, tertera status pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang baru saja tuntas. Sementara ratusan kilometer dari sana, di sebuah ruang pelatihan…
  • 53
    Agar Tenun KSB "Naik Kelas", Diskoperindag Bekali Pengrajin Ciptakan Produk InovatifTaliwang, KOBARKSB.com - Benang demi benang dirajut tidak hanya untuk melestarikan tradisi, tetapi juga untuk merangkai masa depan ekonomi yang lebih cerah. Dengan semangat inilah, Bidang Perindustrian pada Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menggelar "Pelatihan Turunan Tenun" sebagai langkah strategis untuk membawa produk tenun lokal…
  • 52
    Realisasi APBD Sumbawa Barat Tembus 86%, Serapan Anggaran Jadi PR BesarTaliwang, KOBARKSB.com - Pemandangan kontras mewarnai postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) hingga pertengahan Agustus 2025. Di satu sisi, pemerintah daerah berhasil mencatatkan kinerja pendapatan yang luar biasa, melampaui target pro-rata dan jauh meninggalkan capaian provinsi. Namun di sisi lain, kemampuan untuk membelanjakan dana tersebut…
  • 51
    Universitas Cordova Siap Cetak Jurnalis Andal yang Bijak, Inovatif, dan KomunikatifTaliwang, KOBARKSB.com - Universitas Cordova (UNDOVA) kembali menggelar kegiatan Diklat Jurnalistik dan Open Recruitment UKM Pers dengan tema "Lahirkan Profesionalitas Jurnalis yang Bijak, Inovatif, dan Komunikatif.".  Acara yang berlangsung di Aula Baitussyakur ini diinisiasi oleh Tim Undova Media Center Universitas Cordova sebagai upaya untuk mengembangkan potensi mahasiswa di bidang jurnalistik.…
  • 51
    Napas Biru di Selat Alas: Cara AMMAN Menenun Keabadian Ekologis Gili BaluOleh: Hardoni  Bumi selalu mengingat dua hal: apa yang diurai dari rahimnya, dan apa yang disemaikan kembali di permukaannya. Bagi sebuah entitas industri ekstraktif, kesadaran ini kerap kali berhenti sebagai sebaris angka di dalam laporan keberlanjutan tahunan. Namun, di kaki-kaki bukit Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), kesadaran itu mewujud menjadi perkara martabat…
  • 49
    Komplek Makam Datu Seran Dipugar Jadi Kawasan AgrowisataSeteluk, KOBARKSB.com - Setelah sekian lama tak terawat dan kumuh, akhirnya komplek cagar budaya Makam Datu Seran, di Desa Seran, Kecamatan Seteluk, dipugar menjadi suatu kawasan agrowisata. Pekerjaan renovasi dan pemugaran dilaksanakan oleh Pemerintah Desa setempat. Dan hari ini, Rabu, (9/9), komplek cagar budaya dengan wajah baru, diresmikan oleh Bupati…

Eksplorasi konten lain dari KOBARKSB.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini





Pilihan Editor





Don`t copy text!
×
×