KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Jangan Asal Klik Link WA-Telegram-SMS, Saldo Rekening Bank Bisa Hilang Sekejap - Bahaya Social Engineering Atau Soceng

Jangan Asal Klik Link WA-Telegram-SMS, Saldo Rekening Bank Bisa Hilang Sekejap

Jakarta, KOBARKSB.com – Hati-hati, jangan asal klik link yang Anda terima di WhatsApp (WA), telegram, atau SMS. Sebab akibatnya bisa fatal. Salah satu diantaranya, saldo rekening bank yang Anda miliki bisa raib begitu saja dalam tempo sekejap.

Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat akan bahaya Social Engineering atau Soceng. Soceng adalah cara untuk mengelabui atau memanipulasi korban agar bisa mendapatkan informasi data pribadi atau akses yang diinginkan.

Biasanya Soceng mempengaruhi pikiran korban melalui berbagai cara dan media yang persuasif dengan cara membuat korban senang atau panik, sehingga korban tanpa sadar akan menjawab atau mengikuti instruksi pelaku.

“Dibalik perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan bagi masyarakat, terdapat banyak oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkannya untuk kejahatan, salah satunya melalui soceng,” kata OJK, dalam siaran pers, Rabu, (22/6).

OJK menjabarkan 4 modus Soceng yang marak terjadi, agar masyarakat waspada dan hati-hati.

Modus Pertama; Info Perubahan Tarif Transfer Bank

Biasanya penipu akan berpura-pura sebagai pegawai bank dan menyampaikan informasi perubahan tarif transfer bank kepada korban. Kemudian penipu meminta korban mengisi link formulir yang meminta data pribadi seperti PIN, OTP, dan password.

Modus Kedua: Penawaran Menjadi Nasabah Prioritas

Dimana para penipu menawarkan iklan upgrade menjadi nasabah prioritas dengan segudang rayuan promosi. Penipu akan meminta korban memberikan data pribadi seperti Nomor Kartu ATM, PIN, OTP, Nomor CVV/CVC, dan password.

Modus Ketiga; Akun Layanan Konsumen Palsu

Biasanya akan ada akun media sosial palsu yang mengatas namakan bank. Akun ini biasanya muncul ketika ada nasabah yang menyampaikan keluhan terkait layanan perbankan.

Kemudian pelaku akan menawarkan bantuan untuk menyelesaikan keluhannya dengan mengarahkan ke website palsu pelaku atau meminta nasabah memberikan data pribadinya.

Modus Keempat; Tawaran Menjadi Agen Laku Pandai

Penipu akan menawarkan jasa menjadi agen laku pandai bank tanpa persyaratan rumit. Penipu akan meminta korban mentransfer sejumlah uang untuk mendapatkan mesin EDC.

Sementara itu, Ruby Alamsyah, Founder Digital Forensic Indonesia, menambahkan, bahwa memang soceng saat ini masih sering terjadi. Para pelaku sudah terorganisir dan melakukan masing-masing tugasnya.

Mereka, kata Ruby, melakukan broadcast informasi palsu ke banyak orang melalui WhatsApp, Telegram, dan SMS. Link tersebut, beber Ruby, disebarkan tanpa target tertentu atau dilakukan secara acak.

“Mereka kirim itu bisa 2 ribu sampai 5 ribu. Mereka tidak butuh semuanya merespons, 1-5% yang respons saja sudah lumayan banyak,” tutur Ruby.

Dari jumlah broadcast tersebut, tukas Ruby, pasti ada saja orang-orang yang terjebak. Sehingga setelah itu terjadi, mereka bisa langsung masuk ke langkah penipuan dan pembobolan.

“Cara kerjanya seperti itu, jadi memang kita harus berhati-hati kalau dapat link dari orang yang tidak kita kenal. Jangan sampai terperangkap dan terbuai dengan informasi-informasi itu,” ujarnya.

Ruby Alamsyah

Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat agar tidak percaya dengan informasi atau rayuan dari orang-orang yang tidak dikenal. Masyarakat juga diminta untuk melatih diri dan membiasakan diri agar tidak melakukan klik link dari orang asing.

“Lebih baik diabaikan pesan-pesan yang tidak jelas pengirimnya. Nomor pengirim bisa langsung blokir dan dihapus. Apalagi saat ini sudah banyak bank yang menyediakan layanan informasi melalui WhatsApp dan berbagai jaringan media sosial,” demikian Founder Digital Forensic Indonesia. (knda)

Don`t copy text!