fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Koperasi Bodong dan Praktik Bank Rontok di Sumbawa Barat Akan Ditumpas - Nurdin Rahman Bersama Ketua Baznas KSB

Koperasi Bodong dan Praktik Bank Rontok di Sumbawa Barat Akan Ditumpas

Nurdin Rahman: Kita Akan Gandeng Polisi

Taliwang, KOBAR – Menjamurnya koperasi bodong (ilegal) dan maraknya praktik bank rontok alias penagih hutang door to door serta rentenir di tengah masyarakat, menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Pemerintah melalui Dinas Koperindag menyatakan akan menumpas praktik dan kegiatan tersebut.

“Praktik simpan pinjam yang melanggar aturan dengan mengatasnamakan koperasi harus kita akui memang marak terjadi saat ini. Karena kalau kita mengacu kepada Undang-undang Koperasi, yang seharusnya menjadi nasabah koperasi itu adalah anggota koperasi itu sendiri. Jadi kalau minjam di koperasi harus jadi anggota dulu,” kata Nurdin Rahman, Kepala Dinas Koperindag KSB, kepada awak media ini, Senin, (1/11).

Dalam Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2012, tentang perkoperasian, jelas Nurdin, sudah jelas diatur tentang apa itu koperasi simpan pinjam dan apa itu unit simpan pinjam non koperasi. Dalam pasal 3 UU Koperasi, terangnya, dengan tegas disebutkan bahwa koperasi itu dijalankan berdasarkan atas asas kekeluargaan. 

“Koperasi itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Sekaligus sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan perekonomian nasional yang demokratis dan berkeadilan,” tegas Nurdin.

Sedangkan simpanan menurut UU Koperasi Pasal 1 ayat 13, jelasnya, adalah sejumlah uang yang disimpan oleh anggota kepada Koperasi Simpan Pinjam, dengan memperoleh jasa dari Koperasi Simpan Pinjam sesuai perjanjian. Sedangkan pinjaman menurut pasal 1 ayat 14, kata Nurdin, adalah penyediaan uang oleh Koperasi Simpan Pinjam kepada anggota sebagai peminjam berdasarkan perjanjian, yang mewajibkan peminjam untuk melunasi dalam jangka waktu tertentu dan membayar jasa.

“Nah, ketika koperasi benar-benar dijalankan sesuai aturan, maka tidak akan ada namanya praktik bank rontok atau penagih hutang door to door, apalagi dengan bunga tinggi. Makanya ada setoran pokok namanya untuk anggota koperasi yang wajib dibayar oleh seseorang atau badan hukum Koperasi pada saat yang bersangkutan mengajukan permohonan keanggotaan pada suatu Koperasi. Itu semua berguna untuk menjaga hubungan kekeluargaan antara koperasi dengan anggotanya,” terang Nurdin Rahman.

Untuk membasmi kegiatan simpan pinjam yang melanggar aturan yang berlaku dalam undang-undang, tegas Nurdin, pihaknya akan menggandeng aparat penegak hukum untuk menumpasnya. Adapun untuk menghilangkan praktik rentenir dan simpan pinjam dengan bunga tinggi di tengah masyarakat, pihaknya, kata Nurdin, telah mengarahkan Baznas KSB untuk melebarkan sayap menjadi koperasi syariah.

“Di Baznas itu terkumpul zakat dan infak serta sedekah para ASN KSB secara sistematis dan berkelanjutan. Sehingga Baznas mengelola uang lumayan besar. Oleh karena itu, kami arahkan Baznas untuk membuat koperasi simpan pinjam syariah. Tentunya tanpa bunga. Sehingga para pedagang bakulan dan usaha kecil bisa menjadi anggota koperasi tersebut,” demikian Kepala Dinas Koperindag KSB. (kdon)

Don`t copy text!