fbpx
Produk Olahan Kelapa Indonesia Laris Manis di Pasar Dunia

Produk Olahan Kelapa Indonesia Laris Manis di Pasar Dunia

“Kelapa Indonesia Nomor 1 di Dunia”

Jakarta, KOBAR – Kementerian Pertanian mencatat, ada 13 ragam komoditas turunan kelapa yang telah tembus pasar dunia dan disukai. Produk turunan kelapa asal Indonesia dilaporkan laris manis di 6 benua. Mulai dari benua Asia, Eropa, Australia, Afrika, Amerika Utara, hingga Amerika Selatan.

Hampir seluruh bagian kelapa asal Indonesia dapat diolah jadi produk kualitas ekspor. Mulai dari daging kelapa, air kelapa, tempurung kelapa, sabut kelapa, sampai batang kelapa juga telah diekspor.

“Tidak hanya produktivitasnya yang tinggi. Kualitas serta terpenuhinya persyaratan teknis negara tujuan, menjadikan produk ini laris di banyak negara,” tutur Ir Ali Jamil MP PhD, Kepala Badan Karantina Pertanian RI, Jum’at, (18/2).

Jamil mengungkapkan, bahwa potensi dari perkebunan, khususnya kelapa sangat menjanjikan. Ia selalu mendorong para pelaku usaha untuk bisa meningkatkan ekspor komoditas perkebunan melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks).

“Jargon Gratieks ini sebagai upaya meningkatkan nilai, dan berupaya mendorong ekspor dalam bentuk berupa produk olahan, agar nilai ekonomisnya lebih tinggi,” kata Ali Jamil.

Menurut data IQFAST, lanjutnya, bahwa selama bulan Januari 2021, khusus buah kelapa telah diekspor sebanyak 1.400 ton dengan nilai ekonomis senilai Rp 4,6 miliar. Dengan negara tujuan ekspor terbesar Vietnam dan Tiongkok. Sedangkan olahan kelapa berupa tepung kelapa dan minyak kelapa, tercatat telah diekspor ke Australia dan Amerika Serikat, sebanyak 193 ton dengan nilai ekonomis Rp 5,4 miliar.

Selain Indonesia, terangnya, 4 negara lain penghasil olahan kelapa di dunia adalah Filipina, India, Brazil dan Srilangka. Namun saat ini, dari catatan Barantan, sepanjang tahun 2020, India telah mengimpor olahan kelapa dari Indonesia sebanyak 59,3 ribu ton, dan Brazil mencapai 1,2 ribu ton.

“Kemudian Srilangka impor 169,6 ribu ton dari Indonesia, dan Filipina sebanyak 65,5 ribu ton. Hal ini dapat diartikan, bahwa kelapa kita saat ini menduduki posisi nomor satu di dunia,” jelas Jamil.

Kedepan, sesuai skema 4 tahun Gratieks, maka peningkatan di tahun 2021 ditetapkan sebanyak 20%, atau ditarget sebesar Rp 552 triliun. Memang bukan hal mudah, katanya. Namun dengan sinergitas bersama para pelaku usaha, membuat ia optimis.

“Dari rilis data BPS, tercatat peningkatan kinerja ekspor pertanian tahun 2020 sebesar 16,61% dibanding tahun 2019. Atau dengan total capaian sebesar Rp 460 triliun. Ekspor produk dalam bentuk olahan, menjadi pilihan terbaik saat ini. Selain bernilai tambah, juga tahan lama dan mudah mengemasnya,” demikian Kepala Badan Karantina Pertanian RI. (knda)

Don`t copy text!