fbpx
Industrialisasi di NTB Gagal? Gubernur Zulkieflimansyah Menjawab

Industrialisasi di NTB Gagal? Gubernur Zulkieflimansyah Menjawab

Mataram, KOBAR – Industrialisasi gagal? Mana hasilnya? Teh kelor kan punya orang lain, kok diklaim keberhasilan pemerintah? Adalah sederet pertanyaan yang sering diterima Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah, akhir-akhir ini.

“Industrialisasi gagal? Mana hasilnya? Teh kelor kan punya orang lain, kok diklaim keberhasilan pemerintah? Hal-hal itu adalah beberapa pertanyaan yang sering disampaikan pada saya akhir-akhir ini. Tentu ini menarik sekali, karena ini sebenarnya menunjukkan perhatian yang begitu besar pada Industrialisasi,” kata Gubernur, memulai menjelaskan tentang industrialisasi yang dia maksud, di akun facebook pribadinya, Minggu, (24/1).

Ia pun menjawab keraguan dan pertanyaan tentang industrialisasi yang digagasnya di NTB, secara sederhana dan runut. Dimulai dengan menjelaskan apa definisi industrialisasi yang dia maksud. 

“Oleh karena itu ijinkan kami menjelaskan secara sederhana apa yang kami maksudkan dengan Industrialisasi, agar kita sedikit bisa merasakan geliat sunyi yang kini hadir di sekitar kita,” tukas Zulkieflimansyah.

Jika dahulu Industrialisasi itu, jelasnya, sering diidentikkan dengan hadirnya Industri-industri besar, pabrik-pabrik besar yang penuh polusi dan menyebabkan orang beramai-ramai meninggalkan desa untuk bekerja ke kota. Industrialisasi selalu dipertentangkan dengan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, dan lain-lain.

Ketika didefinisikan demikian, katanya, maka wajar kalau industri berkembang, maka sektor pertanian akan menjadi korban. Karen industrialisasi didefinisikan dan dimaknai sebagai peningkatan proporsi sektor industri terhadap PDB, menggantikan kontribusi sektor pertanian.

“Nah, di NTB ini industrialisasi yang kita maksudkan bukan begitu. Industrialisasi di kita adalah hal-hal kecil saja. Contohnya; Kita dulu jual sayur kelor sekarang itu dirubah jadi teh kelor. Dari teh kelor, karena akumulasi pengalaman, peningkatan kemampuan teknologi, dan lain-lain. Kini bukan hanya bisa memproduksi teh kelor tapi bisa juga kopi kelor, sabun kelor, pasta gigi kelor dan banyak lagi yang lainnya,” terang Gubernur.

Ia juga mengambil contoh dengan komoditas lain, seperti jagung, cabai, tomat, ikan, dan daging. Jika dahulu jagung dijual mentah, dengan Industrialisasi, sekarang jagung diolah jadi jus jagung yang dikalengkan, jadi pelengkap makanan, dan juga yang utama jadi pakan ternak.

“Dulu petani kita jual cabai dan tomat. Nah, dengan industrialisasi, kita ingin agar cabai dan tomat ada harganya dan tidak selalu merugikan petani cabai dan tomat. Untuk itu, harus mulai diolah jadi sambal, jadi saus, dan dikalengkan. Dulu kita punya sate rembiga, ayam taliwang. Nah, dengan industrialisasi, sekarang sate rembiga dan ayam taliwang bisa dikemas bahkan bisa dikalengkan. Dan masih banyak sekali yang lain-lain,” tuturnya.

Ini kelihatan kecil dan sederhana, lanjutnya, tapi sebenarnya rumit, prosesnya lama, pembelajarannya penuh pengorbanan, dan lain-lain. Mengira ini sebagai sebuah proses yang otomatis, sebentar, dan tanpa biaya, kata Gubernur, adalah kesalahan mendasarnya.

“Kelihatan sederhana, tapi ini sesungguhnya bukan pekerjaan kecil dan sederhana. Jalan nya panjang, berliku, mendaki dan penuh dengan ejekan-ejekan. Ini semua masih merupakan langkah awal. Tapi bukankah setiap perjalanan panjang selalu harus dimulai dengan langkah pertama?,” kata Gubernur.

Tapi semua itu kan dilakukan orang lain, kok dianggap keberhasilan pemerintah? Gubernur pun menjawabnya, dengan menerangkan bahwa industrialisasi itu aktor utamanya Industri, perusahaan dan swasta. Bukan Pemerintah. Pemerintah hanya memfasilitasi, membantu, memberi insentif, melindungi, membuat aturan main, melatih, dan lain-lain.

“Industrialisasi kita adalah industrialisasi yang memberdayakan. Sehingga UKM-UKM kita, petani-petani kita, nelayan-nelayan dan peternak-peternak kita satu, saat bisa tersenyum dan sejahtera. Jangan mengira merubah sayur kelor jadi teh kelor itu gampang. Butuh pengalaman, pengorbanan dan penderitaan puluhan tahun, baru jadi teh kelor. Butuh JPS Gemilang oleh pemerintah, baru akumulasi pengalaman dan pembelajaran di teh kelor bisa jadi pabrik yang bisa bikin teh kelor, sabun kelor, pasta gigi kelor, masker kelor dan kelor-kelor lainnya,” demikian Gubernur NTB. (kdon)

Don`t copy text!