19/10/2020

PORTAL BERITA KOBAR

www.kobarksb.com

Foto Profil Media Sosial

Gangguan Mental Bisa Diketahui Dari Foto Profil Media Sosial

Ada banyak tanda yang ditampakkan ketika seseorang depresi atau mengalami gangguan mental. Mereka bisa lebih murung, tidak nafsu makan atau sebaliknya, mudah marah, gampang menangis, atau merasa putus asa. Akan tetapi, di era media sosial dan serba-digital ini, gejala depresi diklaim bisa terlihat dari foto profil seseorang. Bahkan, foto profil kosong di media sosial dikatakan jadi tanda depresi. 

Dilansir NBC News, Elyse Fox, pendiri Sad Girls Club (kelompok pendukung anak perempuan yang mengalami penyakit mental dan depresi di New York), mengaku saat depresi, dia tidak mengunggah foto profil seperti biasa.

Dia lebih memilih untuk memasang foto profil yang lebih kelam dan suram. Berbekal pengalaman itu, Fox bisa menilai orang yang sedang depresi hanya dengan melihat unggahan media sosial atau foto profil-nya.

Studi yang dilakukan di Harvard University dan University of Vermont di Amerika Serikat juga menyebut gejala depresi bisa dilihat dari foto profil seseorang di Instagram. Para peneliti pertama-tama menganalisis ribuan gambar dari 166 pengguna Instagram. Sebanyak 71 di antaranya diketahui memiliki riwayat depresi.

Hasilnya, orang yang depresi mengunggah foto yang lebih biru, lebih gelap, dan lebih abu-abu daripada orang tanpa gangguan mental lain. Orang yang depresi juga menyukai filter Instagram yang bisa mengubah foto menjadi hitam dan putih. 

Foto mereka terlihat lebih menyedihkan. Orang-orang ini juga cenderung mengunggah gambar yang menampilkan hanya sedikit wajah. Belum diketahui pasti apa penyebabnya. Namun, peneliti menyimpulkan mereka lebih suka berada di area yang tidak banyak orang. 

Menanggapi hal ini, psikolog Ikhsan Bella Persada MPsi, cukup setuju dengan apa yang dikatakan peneliti. Menurutnya, foto-foto yang diunggah di media sosial dapat menunjukkan seseorang depresi atau tidak.

“Bisa saja orang mengganti foto profil-nya untuk menunjukkan kondisi dan suasana hatinya saat itu. Misalnya, ada orang yang sering ganti foto di media sosialnya. Bisa jadi, dia merasa senang kalau foto itu cerah dan menarik; atau bisa jadi menunjukkan bahwa dia sedang membagi kesenangannya dengan orang lain,” jelas Ikhsan. 

Namun, Ikhsan kurang setuju kalau orang yang tidak pasang foto profil atau mengubahnya jadi lebih biru pasti sedang depresi. Menurutnya, bisa jadi orang yang menghapus foto profil-nya sedang menutupi atau menyembunyikan sesuatu dari lingkungannya. Mereka pun lebih memilih untuk menarik diri dari media sosial atau lingkungan terdekatnya. 

“Biasanya mereka lebih merasa nyaman ketika identitas wajahnya tidak terlihat orang lain. Jadi, mereka sengaja menghapus foto profil untuk menarik diri sejenak. Foto di medsos akan kembali seperti biasa dalam jangka waktu yang tidak bisa dipastikan,” kata psikolog itu. 

Untuk mengatasi permasalahan depresi, Ikhsan mengatakan, anda harus cari tahu terlebih dahulu apa yang menjadi penyebabnya. Misalnya, tekanan dari lingkungan keluarga, love life, dan keuangan.

Biasanya, ketika bersangkutan langsung dengan sumber masalah, anda jadi lebih mudah tertekan, sakit kepala, cemas, dan bisa alami gangguan panik. Setelah mencari sumber masalahnya, anda bisa bercerita ke orang terdekat agar suasana hati lebih baik. Anda pun bisa lebih tenang dan tidak memendam unek-unek sendiri.

Kalau gejala depresi dirasakan berat dan bercerita dengan orang lain dianggap tak cukup, mintalah bantuan tenaga profesional, seperti psikolog. Biasanya psikolog akan menjadi pendengar dan pemberi saran yang baik, sesuai dengan kondisi mental anda.

“Intinya, penderita depresi sebisa mungkin tidak berdiam diri dalam satu tempat tertutup, atau yang membuat anda merasa sendirian. Jangan pernah malu minta bantuan tenaga profesional,” tutup Ikhsan. **

KOMENTAR

Komentar

Don`t copy text!