20/10/2020

PORTAL BERITA KOBAR

www.kobarksb.com

Gubernur NTB

Bang Zul

Gubernur Zulkieflimansyah Yakin Kopi NTB Bisa Tembus Pasar Dunia

Mataram, KOBAR – Potensi kopi yang dimiliki oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak kalah dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Salah satunya, adalah Kopi Robusta Tambora. Jenis kopi ini telah mendapat Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari DJKI RI, pada tahun 2017. Kopi robusta ini telah ditanam di pegunungan Tambora, sejak masa penjajahan Belanda.

Kopi Tambora memiliki rasa yang berbeda dengan kopi-kopi yang ada di daerah lain di Indonesia. Kopi Tambora memiliki aroma yang khas, dan rasanya jauh lebih asam dari kopi pada umumnya. Itu karena Kopi Tambora ditanam di daerah vulkanik, sehingga tingkat keasamannya jauh lebih tinggi.

Kopi Tambora
Kopi Tambora

Dan masih banyak lagi varietas kopi, sekaligus sentral produksi kopi yang ada di NTB. Seperti; Kopi Rinjani varietas arabika, di Sembalun, Lombok Timur, yang tumbuh di lembah pegunungan Rinjani. Kopi Tepal, juga varietas arabika, di sentra kopi Tepal di pegunungan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa. Dan Kopi Rarak varietas Robusta, yang tumbuh di Desa Rarak Ronges, Kabupaten Sumbawa Barat.

Potensi itu tentu saja menjanjikan bagi kopi NTB, untuk bisa tembus ke pasar dunia. Meski sudah ada kopi NTB yang telah dikenal dunia, tapi kuantitas dan kualitas produksinya masih belum memadai untuk bisa bersaing di pasar dunia. Dan hal itulah yang terus digenjot dan penuhi oleh Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah SE MSc, dengan visi industrialisasinya.

Kopi Tambora
Kopi Tambora

“Kopi kita unik dan punya ciri khas khusus. Dan tentu tidak kalah saing dengan kopi-kopi lain di Indonesia. Sayangnya, volume produksi dan baku mutu kopi kita, masih belum. Untuk itulah, kami terus mengajak pelaku usaha dan pelaku industri di NTB ini, untuk terus berinovasi membuat peralatan pengolahan yang mumpuni,” tutur Gubernur, kepada awak media, di Mataram, Sabtu, (19/9). 

Kata Bang Zul, jika kita bisa membuat sepeda motor listrik dan tembus pasar dunia, kenapa untuk komoditas kopi tidak bisa! Hal ini yang membuat dirinya terus memacu industrialisasi di NTB. Ketika mesin produksi yang ada di NTB telah mumpuni, lanjutnya, maka produksi hasil perkebunan dan pertanian NTB pun bisa terdongkrak.

Kopi Tambora
Kopi Tambora

“Kita gembar gembor produksi sepeda motor listrik itu bukan untuk gaya-gayaan. Tapi sebagai tanda, jika sepeda motor listrik saja kita bisa buat, kenapa mesin-mesin yang lain kita tidak bisa! Dan tentu kita bisa. Contoh, pabrik gula di Dompu yang saya kunjungi kemarin luar biasa. Mesinnya canggih dan bisa mengolah tebu jadi gula dalam jumlah besar. Kenapa kita tidak bisa untuk kopi!,” tandas Zulkieflimansyah.

Untuk diketahui, menurut data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, potensi pengembangan tanaman kopi di NTB mencapai 31.016 hektar. Namun yang sudah dimanfaatkan sekitar 12.500 hektar, dengan tingkat produktivitas lahan mencapai 450-700 kilogram per hektar.

Selain perkebunan kopi peninggalan Belanda di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, di NTB juga cukup banyak masyarakat yang mengembangkan perkebunan kopi. Umumnya, yang dijadikan lokasi kebun kopi mencapai 1.200 meter di atas permukaan laut, namun disesuaikan dengan masing-masing varietas.

Sejatinya, dalam perjalanan sejarah perkopian, NTB telah menghasilkan kopi bercita rasa tinggi, yang tidak kalah dengan kopi dari daerah lain di tanah air. Tinggal bagaimana kedepan, semua pihak saling bahu membahu membangun industri ini di NTB. (kdon)

Baca Juga :  Pemerintah Provinsi NTB Hadapi Virus Corona dengan C3

KOMENTAR

Komentar

Don`t copy text!