Di Era Industri 4.0, Apakah Kurikulum Pendidikan Tinggi Kita Sudah Tepat? | kobarksb.com
28/05/2020

PORTAL BERITA KOBAR

kobarksb.com

Di Era Industri 4.0, Apakah Kurikulum Pendidikan Tinggi Kita Sudah Tepat?

Oleh: Diena Frentika, S.Pd.Si., M.Pd.

Jika mendengar kata kurikulum, kadang yang terlintas dalam benak kita adalah kurikulum sekolah seperti CBSA, KBK, hingga K-13, yang saat ini diterapkan dari SD hingga SMA di seluruh Indonesia. Apakah kurikulum seperti itu juga berlaku di pendidikan tinggi?, apakah saat ini perguruan tinggi kita juga menerapkan K-13?, dan apakah kurikulum pendidikan tinggi kita yang ada telah cocok dan memadai untuk era industri 4.0?.

Baiknya kita ketahui dulu apa itu kurikulum K-13 dan apa itu kurikulum pendidikan tinggi. K-13 atau kurikulum 2013, sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia, Nomor 57, 58, 59, 60, dan 61 tahun 2014, menjadi kurikulum pada tingkat pendidikan SMA/MA, SMP/MTs, SD/MI dan SMK/MAK. Kompetensi inti dan kompetensi dasar pada K-13 terdiri dari 4 kompetensi, yaitu; sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

Pendekatan yang diterapkan dalam K-13 adalah saintifik atau pendekatan berbasis keilmuan sebagaimana dikemukakan dalam Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014. Pendekatan saintifik merupakan pengorganisasian pengalaman belajar dengan urutan logis yang meliputi 5 proses pembelajaran, yatu; mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

Baca Juga :  Masyarakat Diminta Waspadai Investasi Bodong

Sedangkan untuk kurikulum pendidikan tinggi, diatur tersendiri di dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), yang terdiri atas 9 jenjang kualifikasi. Jika kurikulum sekolah mengatur kompetensi yang dicapai siswa, maka kurikulum pendidikan tinggi mengatur capaian pembelajaran lulusan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan sikap, keterampilan, kompetensi, pelatihan kerja, dan pengalaman kerja.

Jika satuan standar di sekolah hanya Standar Nasional Pendidikan (SNP), maka di pendidikan tinggi juga meliputi SNP ditambah dengan Standar Nasional Penelitian dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat. Dalam pendidikan tinggi, tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran bersifat kumulatif dan/atau integrative dan perguruan tinggi bisa menyusun pedoman kurikulum sendiri sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI).

Dalam SN-DIKTI, perguruan tinggi sebagai penghasil sumber daya manusia terdidik perlu mengukur lulusannya untuk mengetahui apakah lulusan yang dihasilkan memiliki kemampuan yang setara dengan capaian pembelajaran yang dirumuskan dalam jenjang kualifikasi KKNI. Oleh karena itu Direktur Jenderal Pembelajaran Dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi, menghimbau kepada semua perguruan tinggi dan setiap jenis pendidikan tinggi baik akademik, vokasi, dan profesi agar segera melakukan perubahan kurikulum dan meningkatkan mutu proses pembelajaran sesuai dengan SN-DIKTI.

Baca Juga :  Kisah Jenderal Polisi Jujur Dan Uang Suap Dalam Kotak Roti

Tidak seperti kurikulum sekolah yang siap pakai, kurikulum pendidikan tinggi tetap mengalami perubahan dan perbaikan setiap tahunnya untuk melakukan perbaikan sistem pembelajaran. Sehingga perubahan kurikulum di perguruan tinggi menjadi aktivitas rutin yang harus dilakukan sesuai dengan tuntutan perkembangan IPTEK (scientific vision), kebutuhan masyarakat (stakeholder needs), dam kebutuhan pengguna lulusan (stakeholder needs).

Siklus kurikulum pendidikan tinggi dimulai dari tahapan analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut perbaikan yang dilakukan oleh program studi dan siklus tersebut terus berjalan. Karena pendidikan tinggi terus berupaya untuk menghasilkan lulusan dengan kemampuan kompetitif agar mampu bersaing di era industri 4.0.

Apalagi di jaman modern sekarang sudah banyak dihasilkan produk kecerdasan buatan (artificial intelegent). Sehingga tantangan bidang pendidikan terutama pendidikan tinggi menjadi semakin berat agar tetap bisa bersaing mengalahkan mesin AI. Oleh karena itu, perlu adanya orientasi baru dalam kurikulum pendidikan tinggi dengan adanya revolusi industri 4.0 dan menyongsong industri 5.0.

Pendidikan tinggi perlu terus berbenah untuk mempersiapkan arah perencanaan sistem pendidikan yang lebih kompetitif. Menghasilkan lulusan yang memiliki higher order mental skills. Lulusan yang berjiwa entrepreneurship, terampil bekerja dalam tim, berjiwa kepemimpinan dan kematangan budaya, serta kemampuan siap pakai lainnya, yang membuat lulusan mampu bertahan dalam persaingan dunia kerja.

Baca Juga :  Panjat Pinang, Tradisi Ciptaan Imperialisme!

Oleh karena itu, semua pendidikan tinggi dituntut untuk mempersiapkan lulusannya agar bisa menjadi problem solver, inovatif, kreatif, dengan tetap mempertahankan sifat humanity yang tidak dimiliki mesin. Dengan demikian, tetap akan ada perbedaan yang mencolok antara tenaga manusia dengan tenaga mesin. Membuat lulusan pendidikan tinggi tetap mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi yang semakin masif.

– Penulis Adalah Dosen Universitas Cordova Indonesia, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

loading...
Bagikan di:

KOMENTAR

Komentar