fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Krisis Daya Listrik, PTBHJ Sulit Menambah Kincir Angin

Taliwang, KOBAR – Untuk menyelamatkan udang yang dibudidaya dari kematian lantaran kekurangan oksigen, PT Bumi Harapan Jaya (PTBHJ) harus menambah kincir angin, namun perusahaan terkendala dengan daya listrik.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik, perusahaan masih mengandalkan mesin genset, sehingga biaya operasional cukup tinggi, dimana setiap hari dapat menghabiskan solar non subsidi mencapai 10 ribu liter, jadi akan krisis daya kalau harus melakukan penambahan kincir pada setiap tambak yang beroperasi.

Humas PTBHJ, Iman Susila SH kepada media ini selasa 2/12 kemarin mengakui bahwa hampir setiap hari selalu saja terlihat ada udang yang mengambang (mati, red), lantaran kekurangan oksigen. Jumlah yang mati bisa mencapai 100-200 kilogram setiap harinya, sehingga perusahaan akan segera melakukan penambahan jumlah kincir meskipun resikonya terjadi krisis daya.

Masih keterangan Iman, berbagai upaya telah dilakukan perusahaan untuk mendapatkan dukungan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), namun sampai saat ini hanya janji yang disampaikan. Buktinya belum juga terealisasi. “Kami berharap kepada pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) untuk bisa membantu perusahaan mendesak PLN agar segera memberikan daya listrik, sehingga aktifitas tidak terganggu,” harapnya.

Iman juga tidak membantah jika udang yang ditemukan mengambang tidak langsung dikeluarkan, tetapi harus melalui prosedur administrasi, termasuk dibenarkan bahwa udang mati tersebut harus dikubur dan tidak boleh diambil untuk dikonsumsi. “Perusahaan bukan hanya menerapkan sistem ketat administrasi, tetapi juga sistem kerja profesional, dimana perusahaan mendidik tenaga kerja untuk lebih profesional, jadi tidak dibenarkan ada udang yang mati diambil untuk dikonsumsi, apalagi sampai diperjual belikan,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu Iman juga memberikan klarifikasi atas tudingan bahwa produksi rumput laut petani Kertasari menurun lantaran disebabkan limbah buangan PTBHJ. Menurutnya, perusahaan sampai saat ini tidak pernah menghasilkan limbah apapun yang terbuang kelaut, sehingga harus dituding sebagai biang menurunnya produksi rumput laut.

Dibeberkan Iman, perusahaan memang melakukan aktifitas pembuangan air tambak, dimana air tersebut terdapat kotoran udang dan sisa pakan. Sisa pakan sudah pasti mengandung nutrisi, sementara kotoran udang tidak mungkin mengandung kimia, jadi apa dasarnya sehingga menuding bahwa perusahaan telah membuang limbah. “Kami tidak memproduksi apapun, tetapi membudidaya udang, jadi tidak ada penggunaan zat kimia berbahaya,” timpalnya.

Masih penjelasan Iman, untuk membuang air tambak ke laut akan melewati 12 petak yang menjadi irigasi sendimen, dimana pada masing-masing petak terdapat ikan jenis bandeng, mujair dan nila. Keberadaan ikan-ikan itu sebagai penguji terhadap kandungan air, baik yang akan dipergunakan untuk budidaya maupun yang akan terbuang nantinya. “Saya melihat terjadi salah persepsi atau mungkin salah informasi yang diterima, sehingga muncul tudingan tersebut,” tukasnya.

Diakhir penjelasannya, Iman mengaku bahwa saat ini tambak untuk blok A sudah difungsikan seluruhnya dengan jumlah 60 petak, sementara untuk blok B yang berjumlah 80 petak sudah hampir rampung pekerjaan perbaikannya dan dalam waktu dekat sudah mulai dikerjakan untuk 39 tambak yang berada di blok C, sehingga pada awal tahun 2015 mendatang sekitar 179 petak sudah bisa difungsikan. (kimt)

Don`t copy text!