fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Tahun Ini KSB Harus Dinyatakan Bebas Mercury

Taliwang, KOBAR – Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) harus bisa ditetapkan sebagai daerah yang bebas dari zat kimia berbahaya, termasuk mercury yang diketahui cukup banyak dipergunakan oleh para pelaku penambang liar. Rencana pemerintah pada akhir tahun 2014 ini, pernyataan KSB bebas mercury harus diraih.

Pemerintah KSB melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) saat ini sedang melakukan pendataan secara akurat jumlah pelaku Penambangan Tanpa Ijin (PETI), baik itu pemilik gelondong lengkap dengan jumlah mesin gelondong yang dioperasionalkan, termasuk juga jumlah tong yang aktif sampai saat ini.

Kepala BLH, H Usman HI SPd, MM kepada media ini menegaskan, langkah awal yang dilakukan sekarang adalah mengecek langsung lokasi aktifitas PETI, termasuk tempat pemasangan gelondong dengan tong, karena BLH harus memiliki data valid jumlah dan pemilik dari alat pemisah batuan berharga tersebut, termasuk untuk mendapatkan informasi penting seputar aktifitas pemanfaatan zat kimia.

H Usman mengakui jika data awal sudah ada, tetapi jumlah yang ada tidak sesuai dengan kondisi lapangan, karena informasi tentang jumlah pelaku PETI diterima dari pemerintah kecamatan setempat. “Saya bukan tidak menggunakan data yang diterima dari berbagai pihak, namun lebih pada pengecekan langsung lapangan, agar memiliki data valid yang bisa dipertanggung jawabkan,” timpal H Usman.

Setelah memiliki data, BLH akan berlanjut pada pengambilan sampel air laut dan air tawar, termasuk ikan dan beberapa tumbuhan yang biasa dikonsumsi masyarakat. Sampel itu sendiri akan di uji melalui laboraturium untuk mengetahui tingkat kadar zat kimia yang terkandung. “Setelah dilakukan uji lab baru diketahui, apakah benar air laut, air tawar, ikan-ikan beserta beberapa tumbuhan yang ada sudah tercemar. Jadi hasil uji nanti pasti akan dipublikasi,” janji H Usman.

Masih keterangan H Usman, langkah itu sendiri untuk mengukur atau mengetahui apa program yang harus segera dilaksanakan, sehingga di penghujung tahun ini KSB bisa dinyatakan bebas mercury. “Jika kita tidak memiliki data valid, yang dibuktikan dengan pengujian ilmiah, maka sulit kita mengambil langkah untuk menciptakan KSB bebas mercury nantinya,” lanjut H Usman.

Sampel yang sudah diambil saat ini baru air tawar yang diambil dari beberapa sumur pada sejumlah kecamatan yang ada aktifitas gelondong dan tong, sementara air laut dengan ikan dan sayur mayur belum diambil sampelnya, karena saat ini sedang intens melakukan pendataan jumlah pelaku PETI, “Setelah melakukan pendataan dan BLH sudah menyatakan diri memiliki data valid, maka tahapan selanjutnya mengambil sampel,” terang H Usman.

Selain tahapan itu, BLH juga akan mengambil tindakan tegas dalam mengantisipasi peredaran zat kimia berbahaya, karena mustahil bisa menciptakan KSB bebas mercury, kalau peredaran zat kimia berbahaya itu juga bebas di Bumi Pariri Lema Bariri ini. “Kami akan segera berkomunikasi dengan beberapa pihak terkait, agar bisa secara bersama-sama untuk melakukan penertiban peredaran zat kimia berbahaya, baik itu mercury, sianida atau apapun jenisnya,” ucap H Usman.

Disampaikan H Usman, pelarangan peredaran zat kimia berbahaya bukan untuk melarang masyarakat melakukan aktifitas penambangan, tetapi mengeliminir terjadinya kerusakan lingkungan, terutama akibat penggunaan zat kimia berbahaya. “Kami bukan menghentikan aktifitas penambangan, tetapi lebih pada mengajak untuk prosedural dan tidak merusak lingkungan,” tandas H Usman.

Sudah ada beberapa opsi yang akan dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi peredaran zat kimia, termasuk dengan cara melakukan razia dengan melibatkan semua unsur, termasuk TNI/Polri. “Untuk mencapai target KSB bebas dari mercury harus ada tindakan cepat dan tegas dari pemerintah, terlebih kepada pemilik atau pemasok zat kimia tersebut,” urai H Usman. (kimt)

Don`t copy text!