fbpx
Untung Ada Pegawai Sukarela

Untung Ada Pegawai Sukarela

Untung ada sukarela adalah kalimat pendek yang menyatakan kalau kesediaan mereka mengabdi untuk bangsa dan daerah ini patut diapresiasi. Pasalnya, kalau dihitung-hitung peluh alias pendapatan mereka selama bekerja tidak sebanding dengan waktu yang dikeluarkan. Tidak berlebihan tenaga sukarela, tidak jauh dari adagium “suka” dan “rela”.

Tajuk kali ini mengangkat topik “Untung ada Pegawai Sukarela” sebenarnya ingin menunjukkan bahwa menjadi tenaga sukarela  hanya menang tampil saja dan tidak menguntungkan secara ekonomis, jika ditakar berdasarkan budgeting sehari-hari. Siapa yang mau menjadi tenaga sukarela yang uang transportasinya  habis dibagi dengan biaya sehari-hari. Malah masih nombok. Padahal waktu dihabiskan separuh waktu.

Namun, karena tidak ada pekerjaan lain di daerah ini yang lebih “berwibawa” selain menjadi tenaga di pemerintahan, walupun  buntung terpaksa dilakoni juga.

Kalau tidak percaya, coba hitung-hitung waktu bekerja tenaga sukarela kurang lebih selama 20 hari. Kalau uang transportasi yang diberikan sebesar Rp 400 ribu dibagi 20 hari akan diperoleh angka akhir sebesar Rp 20 ribu saja.

Kalau dihitung-hitung sehari pengeluaran tenaga sukarela dikurangi uang bensin atau uang ojek atau kira-kira sebesar Rp 10 ribu, sisanya tinggal Rp 10 ribu. Lalu kalau dikurangi dengan pengeluaran pulsa Rp 6 ribu maka sisanya tinggal Rp 4 ribu. Bagi tenaga sukarela wanita ditambah pengeluaran lipstik atau pengharum angka Rp 4 ribu tentu tidak cukup. Kalau dikurangi uang makan sekali, akan menjadi minus. Artinya, tenaga sukarela harus mencari dana pendamping untuk memenuhi kebutuhan makan di pagi dan siang hari. Alias bekerja sebagai tenaga sukarela hanya banyak minusnya daripada plusnya, secara ekonomis.

Pendapatan atau uang ganti transportasi tenaga sukarela itu kalau dibandingkan dengan pendapatan tukang batu atau kuli bangunan masih tinggi pendapatan atau uang transportasi mereka yang bekerja di bawah terik matahari.

Upah buruh kasar di Sumbawa Barat kini dipatok pada angka sebesar Rp 30-35 ribu per hari. Jangan sebut  profesi tukang ojek yang fluktuatif.

Kami sengaja menurunkan tulisan ini untuk mendudukkan dan menyentuh hati kita semua agar tidak menganggap remeh keberadaan mereka. Coba sedikit memahami keberadaan mereka. Kalau mereka semua mogok kerja, hampir dipastikan  kinerja pemerintah bakal melemah.

Terus-terang kalau disurvey, mereka yang rela menjadi tenaga sukarela sesungguhnya karena ingin  mengabdi untuk daerahnya.

Jadi, sampai di sini mestinya siapapun di daerah ini untuk berfikir sinergis terhadap keberadaan mereka.  Mestinya, eksekutif dan legislatif mencari format  baru bagi kelayakan mereka sebab mereka sesungguhnya adalah estapeta kepengawaian di Bumi Pariri Lema Bariri. Kalimat terakhir ini mestinya  dipegang dan direnungi, agar siapapun bisa lebih bijaksana mengomentari tenaga sukarela. [*]

Don`t copy text!