Taliwang, KOBARKSB.com – Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tampaknya harus segera mengakhiri euforia sebagai “daerah kaya” dan mulai menghadapi kenyataan pahit. Publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Kabupaten Sumbawa Barat Dalam Angka 2026 mengonfirmasi sebuah penyakit kronis dalam struktur ekonomi daerah. KSB mengalami kecanduan akut pada sektor pertambangan yang membuat ekonomi rakyat menjadi sangat rapuh dan fluktuatif.
Data BPS menunjukkan potret yang sangat mencolok, di mana sektor Pertambangan dan Penggalian mendominasi hingga 69,68 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) KSB tahun 2025. Angka ini menegaskan bahwa hampir seluruh nafas ekonomi KSB dikendalikan oleh aktivitas pengerukan hasil bumi, sementara sektor fundamental lainnya seperti pertanian dan industri non-tambang dibiarkan kerdil.
Melihat tren tahun ke tahun pada Tabel 11.4 (Laju Pertumbuhan PDRB atas Dasar Harga Konstan), ekonomi KSB tampak tidak stabil dan bergerak layaknya permainan “yoyo”. Kondisi ini menunjukkan betapa tidak berdayanya ekonomi daerah jika hanya mengandalkan satu sektor ekstraktif.
- Tahun 2021: Ekonomi KSB sudah menunjukkan sinyal negatif dengan pertumbuhan minus 0,33 persen.
- Tahun 2022: Sempat melonjak drastis ke angka 24,14 persen, dipicu oleh membaiknya harga komoditas tambang pasca-pandemi.
- Tahun 2023: Kebahagiaan itu singkat, ekonomi KSB kembali terjun bebas ke angka minus 10,37 persen seiring dengan kontraksi sektor pertambangan yang anjlok minus 13,82 persen.
- Tahun 2024: Kembali naik ke angka 12,01 persen.
- Tahun 2025: Rapor merah kembali datang dengan pertumbuhan yang terkontraksi minus 3,01 persen.
Anomali ini membuktikan bahwa KSB tidak memiliki kemandirian ekonomi. Ketika produksi tambang atau harga pasar dunia bergejolak, ekonomi KSB langsung “demam” dan masuk ke zona resesi.
Pengamat kebijakan publik KSB, Lukman Hakim, menyebut fluktuasi tajam ini sebagai bukti kegagalan diversifikasi ekonomi. “Data statistik lima tahun terakhir ini adalah lonceng kematian bagi kedaulatan ekonomi kita. Bayangkan, pertumbuhan kita meloncat 24 persen lalu jatuh ke minus 10 persen. Ini ekonomi yang tidak sehat dan sangat spekulatif,” tegas Lukman Hakim kepada kobarksb.com, Sabtu (16/5).
Ketajaman data BPS kian memperlihatkan pincangnya struktur ekonomi. Di saat tambang menguasai 70 persen, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan hanya berkontribusi sebesar 3,95 persen. Padahal, mayoritas penduduk KSB secara sosiologis adalah petani dan nelayan.
“Kita punya triliunan rupiah yang berputar di atas tanah kita, tapi hanya 3,95 persen yang benar-benar berasal dari tangan petani dan nelayan kita. Ini adalah bentuk marginalisasi ekonomi rakyat secara sistematis akibat pemerintah terlalu asyik menikmati royalti tambang,” tambah Lukman.
Meskipun ada kenaikan signifikan pada sektor Industri Pengolahan (Kategori C) yang melompat dari 0,23 persen pada 2024 menjadi 14,55 persen pada 2025—diduga kuat karena dampak operasional smelter—namun secara keseluruhan ekonomi KSB tetap tumbuh negatif (-3,01%). Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi sekalipun belum mampu menambal lubang besar yang ditinggalkan oleh fluktuasi produksi mentah pertambangan.
Masyarakat kini menuntut langkah radikal dari pemerintah daerah. Jika kebijakan ekonomi tetap dibiarkan “jalan di tempat” dan hanya mengandalkan sektor ekstraktif, maka saat cadangan emas dan tembaga habis, KSB akan berubah menjadi kota hantu dengan ekonomi yang lumpuh total. Data BPS 2026 sudah memberikan peringatan dini; pertanyaannya, apakah pemimpin daerah memiliki keberanian untuk berubah? (krij)
About The Author
Trending
- 56
Taliwang, KOBARKSB.com - Perekonomian Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menunjukkan performa yang mengesankan di tahun 2025. Hingga akhir triwulan ketiga, realisasi investasi telah menembus angka Rp 37,5 triliun, atau setara dengan 81,46 persen dari total target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp 46 triliun. Capaian ini tidak hanya menjadi sinyal kuat bahwa… - 45
Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), telah merilis, bahwa angka kemiskinan di KSB meningkat pada tahun 2021. Bahkan persentase penduduk miskin di KSB masih bertahan pada nominal 2 digit. Seharusnya data statistik ini menjadi pukulan telak sekaligus cambuk bagi Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, tanpa perlu berdalih… - 45
Taliwang, KOBARKSB.com - Benang demi benang dirajut tidak hanya untuk melestarikan tradisi, tetapi juga untuk merangkai masa depan ekonomi yang lebih cerah. Dengan semangat inilah, Bidang Perindustrian pada Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menggelar "Pelatihan Turunan Tenun" sebagai langkah strategis untuk membawa produk tenun lokal… - 44
Taliwang, KOBARKSB.com - Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (Pemda KSB), Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), optimis target Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2023 akan terealisasi 100 persen. Diketahui, target PAD KSB berkisar Rp 108 miliar lebih. “Kita optimis target ini terealisasi 100 persen sampai 31 Desember 2023. Sekarang saja, kita… - 42
Taliwang, KOBARKSB.com - Pemandangan kontras mewarnai postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) hingga pertengahan Agustus 2025. Di satu sisi, pemerintah daerah berhasil mencatatkan kinerja pendapatan yang luar biasa, melampaui target pro-rata dan jauh meninggalkan capaian provinsi. Namun di sisi lain, kemampuan untuk membelanjakan dana tersebut… - 42
Taliwang, KOBARKSB.com - Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyediakan 15 stand khusus secara gratis bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam ajang Pameran Pembangunan 2025. Antusiasme pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam pameran tahunan ini terbukti sangat tinggi, dengan lebih dari 30 UMKM…
Eksplorasi konten lain dari KOBARKSB.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



Komentar