Taliwang, KOBARKSB.com – Kesabaran nasabah Bank NTB Syariah telah mencapai titik terendah. Selama hampir satu tahun, layanan vital mobile banking yang menjadi andalan di era digital mengalami kelumpuhan total. Janji “optimasi sistem” yang diumumkan pada awal tahun 2025 kini berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan yang melumpuhkan aktivitas finansial ribuan nasabah dan memicu krisis kepercayaan terhadap manajemen bank daerah tersebut.
Persoalan ini menjadi semakin pelik karena status Bank NTB Syariah sebagai mitra utama pemerintah daerah. Mayoritas Aparatur Sipil Negara (PNS), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), hingga kontraktor proyek pemerintah diwajibkan menggunakan bank ini untuk transaksi gaji dan pencairan dana. Akibatnya, nasabah merasa “tersandera”—tidak bisa beralih ke bank lain dan terpaksa menanggung dampak dari sistem yang gagal berfungsi. Di tengah gencarnya pemerintah mendorong digitalisasi, Bank NTB Syariah justru dinilai mengalami kemunduran drastis, laksana celengan rumahan di era perbankan modern.
“Bank NTB bukannya maju, malah mundur. Ini sudah tidak masuk akal. Ada apa sebenarnya yang terjadi di dalam manajemen mereka?” keluh Zulkarnain, seorang nasabah dan warga Taliwang, saat menyuarakan keresahannya, Kamis (30/10).
Rasa frustrasinya memuncak saat mempertanyakan empati dan kinerja para petinggi bank. “Apa kira-kira perasaan orang-orang di Bank NTB ini? Mereka diam tanpa kabar, tanpa pemberitahuan resmi atas keresahan nasabah yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Mereka duduk menikmati gaji di tengah kesulitan transaksi masyarakat,” tanyanya dengan nada tajam.
Ketiadaan komunikasi dan solusi menjadi benang merah dari setiap keluhan. Khairuddin, nasabah lainnya, merinci daftar panjang kegagalan pihak bank dalam menangani krisis ini.
“Hingga detik ini, belum ada solusi konkret. Belum ada permintaan maaf resmi yang tulus. Belum ada kepastian kapan layanan akan kembali normal. Belum ada tawaran kompensasi atas kerugian kami. Dan yang paling parah, belum ada penjelasan transparan ataupun sikap ‘menyerah’ jika memang tidak mampu,” keluhnya secara sistematis.
Harapan sempat muncul saat terjadi pergantian jajaran direksi beberapa waktu lalu. Namun, pergantian pucuk pimpinan itu nyatanya belum membawa angin segar. Tidak ada terobosan strategis maupun komunikasi publik yang mampu meredam gejolak di kalangan nasabah, menimbulkan pertanyaan serius mengenai tata kelola dan kapabilitas internal bank.
Bagi nasabah seperti Erni, masalah ini adalah penderitaan ganda. “Saya kecewa banget. Ketersediaan ATM Bank NTB ini sudah sangat terbatas, ditambah lagi kondisi M-Banking yang macet total. Apalah daya kita, benar-benar disandera oleh sistem kerja sama bank dengan pemerintah,” katanya resah. Ia menggambarkan bagaimana transaksi sederhana seperti transfer atau cek saldo kini menjadi aktivitas yang memakan waktu dan biaya.
Gelombang kekecewaan ini tumpah ruah di ruang digital. Akun media sosial resmi maupun tidak resmi yang berkaitan dengan Bank NTB Syariah dibanjiri oleh ratusan hingga ribuan komentar pedas dari nasabah yang bernasib sama. Platform ini menjadi wadah pelampiasan kolektif, tempat mereka berbagi cerita frustrasi dan saling menguatkan.
Tuntutan nasabah kini tidak lagi sebatas perbaikan layanan. Mereka secara tegas meminta pertanggungjawaban penuh dari manajemen, yang dimulai dengan transparansi total mengenai akar masalah teknis dan alasan mengapa perbaikan memakan waktu begitu lama. Selanjutnya, mereka menuntut kompensasi kerugian yang layak atas hilangnya waktu, biaya, dan peluang bisnis akibat lumpuhnya layanan. Puncaknya, nasabah menuntut adanya jaminan dan komitmen yang jelas bahwa insiden memalukan ini tidak akan pernah terulang di masa depan.
Nasabah berharap Bank NTB Syariah segera keluar dari sikap bungkamnya dan mengambil langkah nyata. Jika tidak, reputasi yang dibangun selama bertahun-tahun terancam runtuh, digantikan oleh citra institusi yang gagal beradaptasi dan tidak peduli terhadap nasabahnya. (kdon)
About The Author
Trending
- 78
Taliwang, KOBARKSB.com - Sejak terbentuk hingga kini telah menginjak usia 19 tahun, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) diketahui belum memiliki suatu produk pun yang diunggulkan untuk bisa mendongkrak perekonomian masyarakat setempat. "Sungguh terlalu mas, masa hingga saat ini daerah kami belum punya satupun produk unggulan yang bisa kami banggakan di tanah… - 78
Lima hari lalu, 20 Februari 2026, genap 365 hari H. Amar Nurmansyah dan Hj. Hanipah (Nani) memegang tampuk kuasa di Graha Fitrah. Setahun adalah waktu yang cukup bagi publik Sumbawa Barat untuk menakar: apakah kapal besar bernama "KSB Maju" ini sedang berlayar ke arah yang benar, atau justru tersendat karena… - 78
Alas, KOBARKSB.com - Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menunjukkan aksi nyata solidaritas kemanusiaan lintas wilayah dengan menyambangi korban kebakaran di Desa Kalimango, Kecamatan Alas, Rabu (25/03/2026). Dalam kunjungan tersebut, jajaran Pemkab KSB menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp 65.400.000 beserta paket logistik lengkap untuk meringankan beban para korban. Kunjungan ini… - 77
Taliwang, KOBARKSB.com - Mempertegas komitmennya dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah operasionalnya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) kembali memberangkatkan 32 pelajar terbaik dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Kabupaten Sumbawa (KS) untuk mengenyam pendidikan vokasi. Melalui program Beasiswa SMK Unggulan AMMAN 2024, para pelajar berprestasi ini akan… - 77
Taliwang, KOBARKSB.com - Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumbawa Barat menegaskan peran vitalnya dalam mengawal penggunaan anggaran daerah agar tepat sasaran. Melalui Tim Pengamanan Proyek Strategis Daerah (PSD), korps Adhyaksa ini memastikan 14 paket pekerjaan infrastruktur yang didanai APBD Perubahan Tahun Anggaran 2025 telah rampung sepenuhnya dengan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Rangkaian… - 76
Taliwang, KOBARKSB.com - PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dilaporkan akan merehabilitasi 6 ribu hektar hutan di Pulau Lombok. Akan tetapi tak sejengkal pun hutan di Pulau Sumbawa bakal direhab. "Aneh, masa selama 5 tahun hutan di Pulau Lombok yang direhabilitasi. Tapi hutan di Pulau Sumbawa tidak, kan janggal," kata…
Eksplorasi konten lain dari KOBARKSB.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Komentar