Mahasiswa IPB Kembangkan Singkong Jadi Produk Olahan Pangan Unggulan Sumbawa Barat

Mahasiswa IPB Kembangkan Singkong Jadi Produk Olahan Pangan Unggulan Sumbawa Barat

Brang Ene, KOBAR – Selama ini singkong adalah tanaman yang paling banyak ditanam di kebun-kebun penduduk Pulau Sumbawa. Kenapa? Karena tanaman ini gampang tumbuh dan sesuai dengan struktur tanah dan iklim setempat. Sayangnya, tanaman pangan ini tidaklah menjadi produk unggulan untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi masyarakat. Kebanyakan hanya ditanam untuk konsumsi pribadi, bahkan hanya jadi tanaman liar saja.

Berlokasi di Desa Mura, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), sejumlah mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), ingin merubah pola pikir tentang singkong yang terjadi di masyarakat setempat. Mereka memperkenalkan Tepung MOCAF (Modified Cassava Flour).

Tepung MOCAF

Tepung MOCAF, merupakan tepung singkong yang termodifikasi secara fermentasi dengan asam laktat atau enzim khusus lainnya. Proses pembuatannya cukup sederhana dan mudah untuk dilakukan. Secara singkat proses pembuatan tepung MOCAF yaitu; pengupasan singkong, pencucian, pemotongan singkong menjadi tipis, fermentasi selama kurang lebih 3 hari, pengeringan kurang lebih 2 hari, penepungan dan pengayakan.

Rizki Fauzi, Mahasiswa KKNT IPB, kepada media ini, Kamis, (20/8), menjelaskan, bahwa pemanfaatan singkong menjadi tepung MOCAF ini, dapat menjadi pengganti tepung terigu yang terbuat dari gandum yang harus diimpor dari luar negeri.

“Karakteristik dari tepung MOCAF ini mirip seperti tepung terigu, tetapi memiliki keunggulan karena free gluten, rendah gula, kandungan serat terlarut lebih tinggi daripada tepung gaplek, mengandung kalsium, fosfor, dan serat yang lebih tinggi dari tepung terigu, cocok bagi penderita diabetes, autis dan celiac disease,” urai Rizki. 

Rizki Fauzi saat mempresentasikan tepung MOCAF di hadapan Warga Desa Mura.

Tepung MOCAF, lanjut Rizki, dapat digunakan layaknya tepung terigu, sehingga dapat digunakan untuk pembuatan cookies, brownies, gorengan-gorengan dan lain-lain. Dengan adanya inovasi dari pengembangan komoditas lokal ini, kata Rizki, maka akan dapat membantu meningkatkan perekonomian warga masyarakat Desa Mura. 

Sebagai teman sejawat, Rahmat Ramdani, mahasiswa lainnya, menambahkan, jika tepung MOCAF ini sudah berhasil dikembangkan, selanjutnya, tinggal bagaimana strategi pemasaran produk. Baik dari segi inovasi, harga, kemasan, dan branding.  

Brownies MOCAF

“Harapannya dengan adanya tepung MOCAF ini, masyarakat desa Mura dapat berkreasi dan berinovasi dari tepung MOCAF sehingga menghasilkan produk khas Desa Mura, misalnya cookies, atau brownies MOCAF khas Mura,” tukas Rahmat Ramdani. 

Rahmat juga memaparkan, bahwa strategi branding yang efisien pada jaman yang serba digital ini, adalah dengan menggunakan platform seperti Instagram, Facebook, Whatsapp Group dan sejenisnya. Menurut Rahmat, metode tersebut menjadi solusi pemasaran yang milenial dan efektif dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini.  

Mahasiswa IPB bersama Warga Desa Mura mengolah Tepung MOCAF jadi makanan.

Menanggapi inovasi yang diperkenalkan para mahasiswa IPB itu, Sirajul Munir, Kepala Desa Mura, mengaku bangga, dan siap mendukung penuh inovasi yang dikembangkan oleh para mahasiswa IPB. Selain itu, dia pun berjanji akan terus memperkenalkan hal itu kepada warganya, demi untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi masyarakat Desa Mura.

“Apa yang diperkenalkan oleh adik-adik mahasiswa IPB ini merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat yang penting untuk dilakukan. Mengingat  Desa Mura merupakan desa yang masih kurang untuk diversifikasi pangan, dan sektor UMKM-nya pun masih kurang bergeliat. Semoga dengan ini dapat menjadi katalis untuk kelompok dasawisma Desa Mura, dalam pemanfaatan hasil pekarangan rumah mereka. Dan diharapkan agar diversifikasi pangan di desa kami bisa terwujud,” tandas Kades Mura. (kdon)

Don`t copy text!