fbpx
28/09/2020

PORTAL BERITA KOBAR

www.kobarksb.com

Transformasi Digital Dunia Pendidikan Indonesia

Oleh: Alwi Hilir, S.Kom., M.Pd.

Dunia saat ini sedang menuju transformasi dengan segala  tangtangan yang ada, tidak ada satu negara pun yang akan sanggup untuk menghindari hal tersebut jika ingin terus bertahan dalam menciptakan kesejahteraan masyarakatnya termasuk dalam hal ini Indonesia.Semua bidang akan mengalami hal yang sama dan tidak ada satu bidangpun yang akan mampu menolak hal tersebut termasuk dalam dunia Pendidikan.Pendidikan tidak akan dapat lepas dari perkembangan dunia, termasuk dalam dunia teknologi dan dunia-dunia lain yang mengikutinya karena bagaimanapun dunia Pendidikan harus mengikuti perkembangan yang terjadi khususnya dunia usaha dan dunia industri karena bagaimanapun sebagian besar hasil dari dunia Pendidikan akan masuk ke dalam dunia tersebut, sehingga roda perekonomian sebuah negara dapat terus berputar dengan mengikuti perkembangan yang ada.

Apakah dunia Pendidikan harus melakukan transformasi digital? Secara teknologi tentunya dunia Pendidikan harus bertransformasi ke arah digital karena hal tersebut sudah menjadi tuntutan dari perkembangan dunia saat ini meskipun dalam prakteknya tidak semua materi dapat disampaikan secara digital tetapi paling tidak, dunia digital akan membantu Guru dan peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran terlebih telah munculnya paradigma Pendidikan di Abad 21.

Transformasi digital tidak semata-mata penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran tetapi lebih dari itu, para peserta didik harus mampu berpikir seperti cara berpikir teknologi atau saat ini lebih dikenal dengan computational thinking (cara berpikir komputasi) karena hal ini akan menjadi salah kompetensi yang wajib dimiliki oleh setiap peserta didik pada masa depan mereka. 

Computational Thinking (CT) adalah proses berpikir yang diperlukan dalam memformulasikan masalah dan solusinya, sehingga solusi tersebut dapat menjadi agen pemroses informasi yang efektif dalam menyelesaikan masalah 

Jika ditelaah lebih dalam mengenai definisi tersebut dapat kita lihat bahwa CT merupakan sebuah proses pemikiran yang terlepas dari teknologi serta merupakan metode penyelesaian masalah yang dirancang untuk dapat diselesaikan dan dijalankan oleh manusia, komputer maupun keduanya.

Sebuah perusahaan teknologi terbesar saat ini juga telah menyampaikan bahwa CT merupakan salah satu kompetensi diluar kompetensi yang disampaikan oleh UNESCO yang akan sangat diperlukan oleh seorang peserta didik karena mereka akan menghadapi persoalan-persoalan baru yang mungkin saat ini belum pernah dihadapi oleh generasi saat ini dan itu harus mulai dilatih mulai saat ini.

Perlu kita ingat juga bahwa teknologi pada dasarnya hanya alat bantu dalam melakukan sebuah proses pembelajaran tetapi yang paling penting untuk diimplementasikan adalah bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran berdampak pada change behavior (perubahan perilaku) peserta didik sesuai potensi dan talenta yang telah dimiliki oleh peserta didik dan hal tersebut sesungguhanya tergantung kemampuan dari setiap Guru dalam menyusun design instructional proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut.

Tantangan dunia Pendidikan yang semakin berat juga menambah alasan untuk dunia Pendidikan dimana salah satunya adalah belum maksimalnya sinergitas dunia Pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri.

Transformasi digital telah berdampak pada tren pendidikan. Pendidik dari semua tingkatan kelas akan menyadari manfaat teknologi di ruang kelas. Biasanya, pendidikan adalah salah satu industri terakhir yang membuat perubahan besar, berpegang pada metode dan praktik kuno. Tetapi melalui transformasi digital dan kebangkitan teknologi pendidikan, para guru telah mulai membuat perubahan drastis pada pengajaran, penilaian, bahkan peningkatan fisik ruang kelas mereka, dan pada tingkat yang jauh lebih cepat dari yang diharapkan. Berikut Tren saat ini menjadi berita utama dalam pendidikan karena cara mereka mempengaruhi pembelajaran siswa:

Teknologi Virtual Menyerupai Kenyataan

Lewat sudah hari-hari di mana siswa diharapkan untuk duduk diam di meja mereka. Teknologi pendidikan berhasil membuat pembelajaran kolaboratif dan interaktif. Augmented, virtual, dan mixed reality adalah contoh teknologi transformatif yang meningkatkan pengajaran guru sekaligus menciptakan pelajaran mendalam yang menyenangkan dan menarik bagi siswa. Realitas virtual memiliki kemampuan untuk membawa dunia luar ke ruang kelas dan sebaliknya.! Ini berbicara tentang kemungkinan tak berujung yang diproyeksikan dari teknologi yang mengubah ruang kelas.

Set Perangkat Kelas

Lingkungan online yang meresap dewasa ini menghadirkan berbagai kemungkinan menarik, yang mengharuskan siswa dididik dengan baik tentang keamanan dunia maya dan tanggung jawab individu.

Ruang Belajar yang Didesain Ulang

Berjalanlah ke sebagian besar ruang kelas di seluruh negeri dan sepertinya Anda tidak akan menemukan deretan meja yang semuanya mengarah ke bagian depan ruangan. Para pendidik sejak itu menyadari bahwa ruang kelas mereka harus meniru tenaga kerja, yang telah menginspirasi mereka untuk menciptakan ruang ramah-kolaboratif untuk memfasilitasi pembelajaran siswa. Teknologi yang terintegrasi telah mendukung upaya mereka. Kelas abad ke-21 adalah SMARTboard, bukan papan tulis dan polong SMARTdesks, bukan tempat duduk individu. Siswa akan melakukan kunjungan lapangan virtual alih-alih hanya membaca dari sebuah teks; mereka menciptakan media alih-alih hanya melihatnya. Ruang belajar yang dirancang ulang sarat dengan teknologi terintegrasi, yang berarti siswa tidak hanya menggunakan hal-hal ini, tetapi mereka memahami cara menggunakannya untuk mencapai tujuan tertentu. Selain itu, beberapa ruang belajar ini bahkan tidak ada di kelas.

Kecerdasan Buatan

Penggunaan AI dalam pendidikan tinggi telah terbukti bermanfaat. Penggunaan AI termasuk chatbots. Karena chatbots dilengkapi dengan Perkembangan Bahasa Alami, seperti yang ditemukan di Siri, mereka memiliki kemampuan manusia menjawab pertanyaan tentang pekerjaan rumah, membantu siswa melalui proses administrasi seperti bantuan keuangan atau membayar tagihan, dan meringankan beban kerja orang-orang yang biasanya melayani ini peran. Aplikasi AI lainnya dalam pendidikan termasuk mempersonalisasikan pembelajaran (yang dibahas lebih rinci di bawah), mengevaluasi kualitas kurikulum dan konten, dan memfasilitasi bimbingan pribadi dengan menggunakan Sistem Bimbingan Cerdas. Teknologi tidak bertujuan untuk menggantikan guru, hanya untuk melengkapi mereka.

Pembelajaran yang Dipersonalisasi

Dari pilihan sekolah – umum, swasta, piagam, virtual – hingga pilihan yang tersedia untuk bagaimana siswa belajar, pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Blended learning memberikan lebih banyak tanggung jawab kepada siswa, karena melibatkan kurang instruksi langsung dari guru dan lebih banyak metode pembelajaran berbasis penemuan. Blended learning adalah contoh bagaimana siswa dapat mengontrol elemen tertentu dari pembelajaran mereka dengan membuat keputusan tentang hal-hal seperti di mana dan pada kecepatan apa mereka bergerak melalui materi. Pembelajaran adaptif mirip dengan blended di dalamnya, juga, memungkinkan siswa untuk membuat keputusan tentang hal-hal seperti kerangka waktu dan jalur pembelajaran mereka. Teknologi pembelajaran adaptif mengumpulkan informasi tentang perilaku siswa ketika mereka menjawab pertanyaan, dan kemudian menggunakan informasi itu untuk memberikan umpan balik instan untuk menyesuaikan pengalaman belajar yang sesuai. Alat pendidikan dengan urutan adaptif terus-menerus menganalisis data siswa secara real-time dan membuat keputusan sepersekian detik berdasarkan data itu. Secara otomatis mengubah apa yang terjadi selanjutnya secara berurutan, baik itu mengubah konten atau urutan keterampilan yang berbeda, dalam menanggapi bagaimana kinerja siswa seorang siswa. Platform pembelajaran lain, Osmosis, diciptakan oleh dokter untuk dokter dan telah merevolusi cara mahasiswa kedokteran mempelajari: “Menggunakan konsep pendidikan berbasis bukti seperti pertanyaan, kartu flash, dan video, gambar yang berkorelasi dengan jangkar memori, pengulangan jarak adaptif, pembelajaran kolaboratif dan gamifikasi, Osmosis memaksimalkan pembelajaran dan retensi. ”Personalisasi semacam itu mengubah pendidikan menjadi metode pembelajaran“ pilih petualangan Anda sendiri ”, memanfaatkan minat dan keterlibatan siswa.

Gamifikasi

Bermain dan belajar bertabrakan ketika ruang kelas memanfaatkan game sebagai alat pengajaran. Teknologi permainan membuat pelajaran yang sulit menjadi lebih menarik dan interaktif. Seiring kemajuan teknologi, teknologi ini dengan cepat digunakan untuk meningkatkan permainan edukatif dalam setiap disiplin ilmu. “Dunia game virtual ini memberikan peluang unik untuk menerapkan pengetahuan baru dan membuat misi-kritis keputusan, sambil mengidentifikasi hambatan, mempertimbangkan berbagai perspektif dan melatih berbagai respons. ”Karena permainan ini dirancang untuk memberikan umpan balik langsung, siswa secara intrinsik termotivasi untuk terus memainkannya, mengasah keterampilan secara keseluruhan.

Teknologi baru dan model pembelajaran baru menarik dan menawarkan kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh para siswa, tetapi mereka membutuhkan dukungan TI yang konstan. Ketika lembaga pendidikan terus melompat pada kereta musik dan mengadopsi tren transformasi digital ini, kita harus mempertimbangkan paradigma saat ini untuk instruksi teknologi dan bergerak menuju pendekatan berbasis tim. Ketika harapan siswa meningkat, daya tanggap terhadap kebutuhan tersebut juga harus meningkat.

– Penulis adalah Ketua Tim Instruktur Laboratorium SMK Imtaq Darurrahim Jakarta. Dan Anggota Komunitas Sabuara’a Ndai Mbojo NTB.

Baca Juga :  Suka Pantai? Datanglah Ke Sumbawa Barat
Baca Juga :  Pusat Informasi Penanganan Covid-19 di NTB

KOMENTAR

Komentar

Don`t copy text!