fbpx
DPRD KSB Periode 2019-2024 Dituntut Lebih Bertaring

DPRD KSB Periode 2019-2024 Dituntut Lebih Bertaring

“Jangan Tidur Waktu Sidang Soal Rakyat”

Taliwang, KOBAR – Harapan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) kepada orang-orang yang mewakili mereka di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk periode 5 tahun ke depan begitu besar, meski krisis kepercayaan terhadap politisi di Indonesia tengah melanda. Taring anggota DPRD periode sebelumnya dinilai tidak tajam, sehingga diharapkan untuk periode selanjutnya bisa diasah untuk menjadi tajam.

Para wakil rakyat harus sadar, bahwa rakyat telah berbondong-bondong mendatangi TPS setempat untuk memilih orang yang akan duduk di parlemen dan menjadi wakil mereka. Artinya, orang yang telah terpilih harus memiliki kompetensi dan tanggung jawab yang besar, untuk benar-benar bisa memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini ditindas.

“25 anggota DPRD KSB baru harus lebih bertaring dalam memperjuangkan nasib rakyat, PR besar bagi mereka yakni meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat, serta menjamin tersedianya lapangan kerja bagi usia angkatan kerja,” ucap Akhmad Safruddin SIP MA, Pengamat Sosial Politik, sekaligus Dosen Universitas Cordova, saat ditemui media ini, kemarin.

Tak hanya itu,  Akhmad Safruddin menegaskan, tugas pokok wakil rakyat adalah menyerap semua aspirasi rakyat. Wakil rakyat adalah penyambung lidah rakyat, maka apa yang menjadi keinginan dan keluar dari mulut rakyat, harus selalu terserap oleh mereka. Sebab wakil rakyat merupakan representasi dari keinginan rakyat untuk dirembuk bersama dalam sebuah sidang paripurna, yang akan menghasilkan sebuah keputusan.

“Wakil rakyat tidak hanya gajinya yang besar, tetapi harus menjadi tempat pengaduan rakyat. Wakil rakyat tidak boleh diam dengan apa yang terjadi pada rakyat, apalagi tidur waktu sidang soal rakyat,” cetusnya.

Akan tetapi, semua itu menjadi sangat ironis, tambahnya, ketika kita melihat fakta yang terjadi pada wakil kita. Karena menurut survei Formappi, 94% rakyat tidak terwakili. Artinya, wakil rakyat yang kita pilih, tidak dapat menyerap semua aspirasi rakyat dan hanya mampu menyerap 4% saja. Maka dapat kita bayangkan, bahwa kebijakan-kebijakan yang diproduksi oleh mereka tidak selalu berpihak pada kepentingan rakyat, dan hanya mementingkan kepentingan pribadi mereka dan kelompoknya, yang pada akhirnya akan melahirkan sentimen rakyat pada wakilnya.

Di tempat yang berbeda, Suhardinata SE, salah seorang tokoh muda asal Kelurahan Kuang, menegaskan, ketika mereka yang disumpah di gedung bertong sana mengatas namakan diri mengemban amanah rakyat, lalu mereka ingkar atas janji itu, maka sudah sepatutnya mereka menjadi musuh rakyat.

“Sehingga wajar-wajar saja, apabila ada rakyat yang tidak mengenal wakilnya. Karena memang wakil rakyat sudah mulai lupa pada rakyat dan tak pernah berjuang untuk rakyat,” tandasnya.

Dengan demikian, tambah Suhardinata, sosok wakil rakyat yang menjadi dambaan dituntut untuk benar-benar merakyat. (kdon)

Don`t copy text!