fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

DKPP Janji Segera Operasikan Pabrik ES

Taliwang, KOBAR – Keberadaan pabrik pembuat es batu di kecamatan Poto Tano belum memberikan kontribusi bagi daerah, bahkan belum bisa berproduksi hingga saat ini, ditambah lagi mesin yang dimiliki itu sedang dalam masalah.

Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP), Ir H Abbas yang dikonfirmasi media ini tidak membantah jika pabrik es belum bisa beroperasi, namun dijanjikan dalam waktu dekat pihaknya akan memperbaiki mesin yang menjadi kendala, termasuk sarana pendukung lainnya.

“Akhir tahun 2014 ini mesin pabrik es harus sudah baik dan akan langsung uji coba produksi, karena DKPP Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) telah mendapat suport anggaran sebesar Rp. 150 juta dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2014 ini,” tandas H Abbas.

Diakui H Abbas, sebenarnya pabrik es pernah dioperasikan pada beberapa waktu lalu, namun kekuatan mesin belum maksimal atau membutuhkan waktu kisaran 12 jam untuk membekukan es, sehingga dianggap tidak bisa maksimal dalam produksi, bahkan pihak pengelola akan rugi jika limit waktu cukup panjang, sehingga diambil keputusan untuk dihentikan sambil memperbaiki mesin yang dimiliki saat ini. “Mesin yang kita miliki itu mesin bekas, jadi butuh perbaikan bertahap,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu H Abbas juga mengaku bahwa pihaknya cukup serius untuk segera mengoptimalkan fungsi pabrik es, apalagi keberadaan pabrik es akan mendukung masyarakat nelayan, termasuk PT. Bumi Harapan Jaya (BHJ) yang saat ini beroperasi membudidaya udang di tambak sari Poto Tano. “Saya sudah komunikasikan dengan pihak BHJ, agar perusahaan memanfaatkan pabrik es tano untuk pemenuhan es batu bagi perusahaan,” terang H Abbas.

Diakui juga H Abbas bahwa pengelolaan pabrik es setelah beroperasi dengan baik harus diberikan kepada pihak ketiga dengan harapan bisa lebih maksimal hasil dan produksinya, tinggal sistem dan cara penetapan pihak swasta selaku pengelola yang akan diatur. “Saya akan mengusulkan pengelolaan bukan dinas, tetapi pihak swasta yang berpengalaman dan profesional, sementara pemerintah tinggal menerima hasil dalam bentuk PAD,” timpal H Abbas.

H Abbas juga mengakui bahwa sudah ada pihak swasta yang memiliki keinginan untuk menjadi pengelola, apalagi mereka juga membutuhkan es setiap hari, namun dirinya belum bisa memberikan keputusan, karena masih harus dievaluasi dan mengajukan telaan kepada pimpinan dengan sistem pengelolaan yang akan dilakukan itu. (kimt)

Don`t copy text!