fbpx
Alfamart: Produk UMKM KSB Belum Bisa Bersaing

Alfamart: Produk UMKM KSB Belum Bisa Bersaing

Taliwang, KOBAR – Tak bisa disangkal bahwa Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) memiliki puluhan pelaku UMKM yang memproduksi aneka produk. Namun rata-rata produk yang dihasilkan belum memiliki kelebihan dan keunikan. Bahkan hampir bisa dikatakan masih monoton. Padahal produk yang berkualitas saja tidak cukup, produk juga harus bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Terlebih seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, tentunya kebutuhan konsumen pun ikut berubah, jika produk yang dihasilkan lambat berinovasi maka akan tertinggal dengan produk pesaing.

“Sebetulnya, pasokan dari UMKM ke toko-toko modern (ritel) bisa digenjot asal pelaku bisa memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Utamanya membenahi unsur kemasan dan kontinuitas produksi agar bisa menjadi pemasok ke toko-toko modern, sehingga pemasaran produk mereka terjamin,” kata Dwi Pramesti, Koordinator  Coorporation Communication, Alfamart, Wilayah Bali dan NTB, di sela-sela pelatihan manajemen ritel bagi Usaha Mikro Kecil dan Minengah (UMKM) di aula Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan UMKM, Sumbawa Barat, belum lama ini.

Kata dia, kebanyakan pelaku UMKM masih berfikir bahwa kualitas sebuah produk dan cara pemasaran jauh lebih diutamakan untuk meningkatkan penjualan, dibandingkan fokus pada kemasan produk. Padahal beberapa unsur yang mempengaruhi penjualan produk seperti kualitas produk, pelayanan, pemasaran, dan kemasan juga saling mendukung satu sama lain.

“Jadi, belum tentu juga jika produk dengan kualitas yang bagus maka akan banyak peminatnya, kecuali bila konsumen tersebut benar-benar membutuhkannya. Kemasan suatu produk inilah yang mungkin perlu dipikirkan sebagai bagian dari strategi pemasaran,” jelasnya.

Menurutnya, bahwa hal yang terpenting juga di kemasan makanan harus ada logo sertifikat halal. Ini karena di negara kita mayoritas penduduknya muslim. Adanya logo sertifikat halal sudah menjadi poin wajib yang harus ada di setiap kemasan makanan atau minuman. Pihaknya, tambahnya, sebetulnya sudah membuka tangan untuk UMKM lokal, tetapi seringkali tidak bisa memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan.

“Salah satu modal utama UMKM agar sukses di pasar yang kompetitif adalah kreativitas. Selain kreatif dalam strategi, pelaku UMKM harus kreatif juga dalam mengemas produk yang dijual dan dipasarkan. Manajemen produk yang kreatif bakal memberi nilai tambah ketika ditawarkan kepada konsumen,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peridagkop dan UMKM, Ir Amin Sudiono, mengatakan, kegiatan pelatihan dan pembinaan pelaku UMKM yang dilaksanakan pihaknya dengan melibatkan salah satu pelaku toko modern, merupakan upaya untuk membangun sinergi antara pelaku UMKM lokal dengan pengusaha ritel modern.

“Tujuan diselenggarakannya pelatihan ini tak lain agar para pelaku UMKM memahami manajemen ritel modern. UMKM sudah saatnya tumbuh pesat pada saat sekarang ini,” ujarnya.

Ia mengaku, bahwa dalam pelatihan itu dilibatkan sedikitnya 25 pelaku UMKM. Sementara materi yang diberikan meliputi  tata cara penataan barang, pengaturan persediaan barang, manajemen keuangan (cash flow), serta tips mengamati tren pasar terkait produk yang sedang diminati.

“Melalui pelatihan ini, sinergi yang baik diharapkan dapat memberi dampak positif bagi berbagai pihak. Pemerintah mendukung aksi perusahaan swasta dalam mengakomodasi UMKM untuk lebih berkembang. Namun yang terpenting adalah kesadaran dan keinginan pelaku usaha itu sendiri,” demikian Amin Sudiono. (ktas)

Don`t copy text!