fbpx
Berdialog Sendiri Di Atas Gurun

Berdialog Sendiri Di Atas Gurun

Catatan: Hasanain Juaini

Memperhatikan professionalitas dan tidak lelah-lelahnya para pramugari dan pramugara Singapore Airlines sungguh membuat decak kagum para penumpang.Limajam penerbangan Singapura-Dubai sekan mesin diesel mereka bekerja yang tiada hentinya plus senyum yang terkadang terasa sangat berat di pelupuk ata mereka yang penat.

Don’t you feel tired? Tanya saya pada salah seorang pramugari muslimah. Dalilah menjawab: Inilah pekerjaan paling menyedangkan Pak Cik, tad ade lelahpun. Demikian jawabnya yang saya tahu ia paksakan. Itulah professionalitas.

Ting nong….diatas bumi Uni Emirat Arab yang ditunjukkan oleh layar LCD di depan kursi saya membuat saya melongok keluar jendela,….maka terlihatlah hamparan pasir tiada ujung, batu dan gunung-gunung terjal sambung bersambung. Sesekali ada sebatang pohon nampak sangat merana diataspadangpasir berkili-kilo meter jarak antara satu dan yang lainnya. Tanduuuuuus abiiiis. Saya mulai bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan itu sebab dua kursi disampig saya tidak terisi.

Aku 1 : Begini tandus tempat mereka tinggal mengapa mereka bisa lebih m akmur dari bangsaIndonesia?

Aku 2 : Ah sebetulnya Bangsa Indoesia memiliki lebih dari ini, tapi kita menyerahkan hasil tambang kita kepada asing sepenuhnya, sementaqra mereka masih bisa merebut sebagian besarnya. Ini masalah percaya diri saja.

Aku 1 : Dibawah gurun tandus, gunung batu dan gejolak patamorgana ini mereka menyimpan mineral yang luar bisa banyaknya yang kelak mereka tabung untuk anak cucu mereka. Maka kini mereka mengirim anak-anak cucu mereka untuk bersekolah;

Aku 2 : Ya nanti bangsaIndonesiajuga kalau punya ilmu pengetahuan akan mengesplorasi barang tambangnya untuk kemakmuran sendiri;

Aku 1 dan 2 sepakat : Nanti itu adalah zaman yang perubahannya tidak kita tahu juntrungannya. Kalau dari sekarang kita tidak merebutnya dengan semangat juang dan IPTEK maka akan sama saja, Coba lihat mereka saat ini sudah menguasai tambang-tambang, sekolah-sekolah bahkan isi fikiran kita.

Di Bandara Dubai yang gagah dan cantik itu saya mendapat konfirmasi tentang kebenaran fikiran yaitu dengan m,enyaksikan berseliwerannya manusia-manusia barat dan manusia terbaratkan yang sedang menikmati hidup sembari melupakan kepapaan saudara-saudara mereka dibelahan benua-benua miskin. Termasuk bangsaIndonesiayang memiskinkan dirinya sendiri dengan kemalasannya.

Dubai- Jeddah kami lalui dengan pesawat Saudia yang dilayani oleh pramugari dan pramugara yang menunjukkan style lain: mereka tersenyum manis dan mulai menegur dengan ramah. bahkan co. pilot Syeikh Ahmad mundur dari dalam kockpit dan berdialog bahasa Indonesia dengan penumpang. Teruna dan gadis Saudia seperti melebur dengan penumpang umroh dan membentuk kampung dadakan yang ramaindengan tukar menukar mufrodat bagai di dalam beranda rumah sendiri. Ini sih tidak professional TAPI MEMBAHAGIAKAN. Aku lebih suka yang begini. swear!!!

Wassalam
Hotel Al-Azhar, Jeddah

Maret 08, 2012

Don`t copy text!