fbpx
Jalan Berliku Proyek Bendungan Bintang Bano di Sumbawa Barat

Jalan Berliku Proyek Bendungan Bintang Bano di Sumbawa Barat

– Catatan Kecil Tentang Sebuah Asa –

Tak lama lagi, Bendungan Bintang Bano yang berlokasi di Desa Bangkat Monteh, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), akan segera rampung dibangun. Namun banyak orang tidak tahu atau ada yang tahu tapi lupa, bahwa untuk mewujudkan sebuah bendungan terbesar di NTB ini tidaklah mudah. Penuh liku-liku, dan butuh waktu bertahun-tahun.

Untuk menyegarkan ingatan kita kembali, tim redaksi media ini akan mengulas perjalanan Proyek Bendungan Bintang Bano hingga sekarang, disusun berdasarkan arsip yang tersimpan di Dapur Redaksi Media KOBAR. Hal ini kami anggap perlu, agar generasi kini dan mendatang dapat mengetahui sejarah pembangunan bendungan multifungsi ini. Dengan demikian, buah karya para pendahulu mereka akan terus dirawat dan dijaga.

Peletakan Batu Pertama Proyek Bendungan Bintang Bano Pada Tahun 2010
Peletakan Batu Pertama Proyek Bendungan Bintang Bano Pada Tahun 2010

Kami di sini ingin mengisahkan sejarah awal Bendungan Bintang Bano dibangun, berikut liku-liku perjalanannya selama dalam proses pembangunan, serta kenapa dan untuk apa bendungan ini dibangun di Sumbawa Barat.

Bendungan Bintang Bano pada awalnya adalah merupakan salah satu dari 7 mega proyek Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, pada masa kepemimpinan Bupati KH Zulkifli Muhadli, Bupati Sumbawa Barat 2 periode. Yaitu, periode tahun 2005 – 2010 dan periode tahun 2010 – 2015.

7 proyek mercusuar itu adalah; Proyek Bendungan Bintang Bano senilai Rp 400 miliar, Proyek Fasilitas Kemutar Telu Centre (KTC), Perumahan dan Sarana Olahraga Rp 77,5 miliar, Proyek Jaringan Air Bersih Rp 30,5 miliar, Proyek Dermaga Labuhan Lalar Rp 50 miliar, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rp 62.5 miliar, Proyek Danau Lebo Taliwang Rp 29,5 miliar, dan Proyek Terminal dan Pasar Sentral Taliwang senilai Rp 50 miliar. Keseluruhan proyek tersebut dikerjakan dengan sistem tahun jamak atau multiyears selama 7 tahun, dari tahun 2008 hingga tahun 2014, dengan rencana anggaran Rp 700 miliar.

7 Mega Proyek Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat KSB Berdasarkan Peraturan Daerah Perda Nomor 34 Tahun 2007
7 Mega Proyek Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Menurut Peraturan Daerah (Perda) Nomor 34 Tahun 2007, Tentang Pengikatan Pengalokasian Anggaran dalam Rangka Pembiayaan Penyediaan Pelayanan Publik Melalui Kerjasama Pemerintah Daerah dengan Pihak Ketiga di Kabupaten Sumbawa Barat.

Sebagai payung hukum atas ketujuh proyek itu, maka diterbitkanlah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 34 Tahun 2007, tentang pengikatan pengalokasian anggaran dalam rangka pembiayaan penyediaan pelayanan publik melalui kerjasama pemerintah daerah dengan pihak ketiga di Kabupaten Sumbawa Barat. Perda tersebut ditetapkan pada tanggal 11 Desember 2007 oleh Bupati Sumbawa Barat, Zulkifli Muhadli. Adapun pembiayaan untuk 7 mega proyek tersebut, semuanya bersumber dari APBD KSB secara multi tahun, yaitu, dari tahun 2008 hingga tahun 2014. 

Kendati ketujuh mega proyek tersebut merupakan harga mati bagi Pemerintah KSB saat itu. Namun payung hukum dari proyek yang dinilai ambisius oleh sejumlah kalangan itu tidak lepas dari pro dan kontra, serta berbagai aksi unjuk rasa.  

Acara Peletakan Batu Pertama Proyek Bendungan Bintang Bano Pada Tahun 2010
Acara Peletakan Batu Pertama Proyek Bendungan Bintang Bano Pada Tahun 2010

Bahkan beberapa anggota DPRD KSB periode 2009-2014 kembali mempersoalkan proyek raksasa itu. Tercatat ada 7 orang anggota DPRD KSB pada tahun 2012 yang mengajukan hak interpelasi terhadap mega proyek tersebut, termasuk Perda 34 Tahun 2007, yang menjadi payung hukumnya.

Namun Bupati yang menjabat tidak pernah bergeming. Pemerintah sangat yakin bahwa aturan hukum yang menjadi senjata untuk ketujuh mega proyek itu sah dan benar adanya. Argumen beberapa anggota dewan itu dinilai tidak beralasan dan dituding beraroma politik.

Akhirnya, Perda itu pun gagal diubah dan dibatalkan, serta mega proyek itu pun terus berjalan. Namun seiring waktu, keuangan daerah pun ngos-ngosan. Untuk mewujudkan Bendungan Bintang Bano di akhir masa jabatan Bupati Zulkifli Muhadli pun gagal total. APBD yang sedianya akan dikucurkan sebanyak Rp 400 miliar, hanya mampu dicairkan sebesar Rp 115 miliar saja.

Kondisi Proyek Bendungan Bintang Bano Tahun 2013
Kondisi Proyek Bendungan Bintang Bano Tahun 2013

Namun Bupati Zulkifli Muhadli tidak mau kehilangan akal. Lobi-lobi pun digencarkan. Sehingga pada masa-masa akhir jabatannya, proyek Bendungan Bintang Bano kemudian dihibahkan ke pemerintah pusat untuk minta dilanjutkan pembangunannya.

Gayung bersambut. Pada tahun 2014, berkat Nawacita Jokowi, yang saat itu baru saja dilantik sebagai Presiden Indonesia Ke-7 untuk periode pertama. Proyek Bendungan Bintang Bano pun akhirnya mau diambil alih pemerintah pusat. Bendungan Bintang Bano kemudian termasuk dalam 61 bendungan di Indonesia yang menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN).

Kunjungan Kerja Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Proyek Bendungan Bintang Bano Pada Tahun 2017 8
Kunjungan Kerja Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, di Proyek Bendungan Bintang Bano Pada Tahun 2017.

Setelah proses take over dari Pemerintah KSB ke Pemerintah Pusat clear and clean. Maka pada tahun 2015 proyek pembangunan Bendungan Bintang Bano pun dilelang oleh Kementerian PUPR. Dan terpilihlah PT Brantas Abipraya (Persero) dan PT Bahagia Bangun Nusa (KSO) sebagai kontraktor pelaksana proyek Bendungan Bintang Bano tahap pertama.

Proyek Bendungan Bintang Bano yang bernilai Rp 1,4 Triliun ini dikerjakan dalam 2 tahap. Dimana pada tahap I dilaksanakan pada tahun 2015 hingga tahun 2019, dengan anggaran Rp 996,7 miliar. Sedangkan tahap II dilaksanakan pada tahun 2020 hingga 2021. Tahap I dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero) dan PT Bahagia Bangun Nusa (KSO). Sedangkan tahap II dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero), PT Hutama Karya (Persero), dan PT Bahagia Bangun Nusa (KSO), dengan anggaran Rp 441,4 miliar. Hingga bulan Agustus 2021, progres fisik pembangunan Bendungan Bintang Bano dilaporkan telah mencapai 95,80 persen, dan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2021.

Kunjungan Kerja Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin di Proyek Bendungan Bintang Bano Pada Tahun 2017
Kunjungan Kerja Wakil Gubernur NTB, Muhammad Amin, di Proyek Bendungan Bintang Bano Pada Tahun 2017.

Bendungan Bintang Bano, menurut data Kementerian PUPR, merupakan bendungan terbesar di NTB. Bendungan Bintang Bano merupakan salah satu dari 61 bendungan yang menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN). Selain Bendungan Bintang Bano, juga terdapat 5 bendungan PSN lain di NTB. Yaitu, Bendungan Tanju dan Bendungan Mila, yang sudah selesai pembangunannya. Kemudian Bendungan Meninting, Bendungan Beringin Sila, dan Bendungan Tiu Suntuk, yang masih dalam tahap pengerjaan. 

Bendungan Bintang Bano membendung aliran Sungai Brang Rea dengan total kapasitas tampung 65,84 juta m3 dan luas genangan 277,52 ha. Konstruksi bendungan didesain dengan tinggi 72 meter, panjang bendungan 497,25 meter, lebar puncak 12 meter, dan elevasi puncak bendungan +120 meter.

Kondisi Proyek Bendungan Bintang Bano Tahun 2016
Kondisi Proyek Bendungan Bintang Bano Tahun 2016

Setelah beroperasi nantinya, bendungan ini akan menghasilkan air baku sebesar 555 liter/detik, serta mampu mengairi lahan seluas 6.695 ha untuk mendukung pertanian di Sumbawa Barat. Disamping itu, kehadiran bendungan ini akan memberi manfaat untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) sebesar 8,8 megawatt. 

Selain untuk irigasi dan penyediaan air baku, pembangunan bendungan ini sangat diperlukan untuk pengendali banjir ulangan periode 25 tahun di Taliwang dengan mereduksi 22 persen atau setara 647 m3/detik.

Kondisi Proyek Bendungan Bintang Bano Tahun 2019
Kondisi Proyek Bendungan Bintang Bano Tahun 2019

Bendungan ini berada di ketinggian 152 mdpl, sehingga memiliki panorama yang sangat indah. Oleh karena itu, Bendungan Bintang Bano juga memiliki potensi pariwisata, karena lokasinya memiliki pemandangan alam yang bagus dengan kondisi hutan di sekitarnya yang masih terjaga.

Untuk bisa terwujud seperti yang diharapkan, maka harus ada kesadaran masyarakat setempat dan semua pemangku kepentingan untuk menjaga kawasan hutan di sekitar bendungan. Karena keberadaan hutan, sangat penting untuk bendungan, sebagai sumber air dan menjaga agar tidak terjadi pendangkalan akibat sedimen yang dibawa erosi.

Kondisi Proyek Bendungan Bintang Bano Tahun 2021
Kondisi Proyek Bendungan Bintang Bano Tahun 2021

Jika demikian, maka manfaat bendungan bisa dirasakan lebih lama. Meski dalam perencanaannya, umur kemanfaatan Bendungan Bintang Bano ditaksir berusia 50 tahun. Tetapi jika kawasan hutan, pola pemakaian air diatur dengan baik, dan infrastruktur serta fasilitas penunjangnya dijaga dengan baik, maka umur pemanfaatannya bisa jauh lebih lama.

Demikian sekelumit ulasan dari kami tentang perjalanan panjang pembangunan Bendungan Bintang Bano di Sumbawa Barat. Jika tidak ada aral melintang, bendungan terbesar di NTB ini akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2021. Harapannya, semoga dengan keberadaan bendungan multifungsi ini, maka ketersediaan air untuk lahan pertanian di Sumbawa Barat dapat terpenuhi sepanjang tahun. Dengan demikian, maka sektor pertanian di KSB terdongkrak dan menjadi sektor unggulan. Termasuk ketahanan pangannya tetap terjaga, serta kesejahteraan masyarakat setempat bisa meningkat. **

Don`t copy text!