fbpx

KOBARKSB.com

News & Artikel Terkini

Kambing Naik Bus Malam

Puluhan Ekor Kambing Ditahan Polisi, Karena Naik Bus Malam dari Bima Untuk Nyebrang Ke Lombok

Puluhan Ekor Kambing Ditahan Polisi, Karena Naik Bus Malam dari Bima Untuk Nyebrang Ke Lombok

Poto Tano, KOBAR – Nasib naas menimpa 45 ekor ekor kambing asal Bima. Mereka terpaksa gagal nyebrang ke Lombok, karena kepergok petugas pelabuhan penyeberangan Poto Tano menumpang bus malam, ketika akan naik kapal ferry di dermaga Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Puluhan ekor kambing tersebut kemudian ditahan aparat Kepolisian Kesatuan Pengamanan Pelabuhan (KP3) Poto Tano bersama pejabat Karantina Pertanian Sumbawa, Wilker Pelabuhan Poto Tano, Rabu, (16/6).

45 Ekor Kambing dari Bima yang Naik Bus Malam

Penangkapan tersebut, kata Husni, Pejabat Karantina Pertanian Sumbawa, bermula saat pihaknya melakukan pengawasan rutin di pintu masuk dermaga Pelabuhan Poto Tano, bersama dengan aparat kepolisian dari KP3 Poto Tano.

“Kami curiga karena bus itu sepi penumpang, tirai jendela tertutup rapat dan lampu di kabin tidak dinyalakan untuk memberi kesempatan penumpang turun. Benar saja, kecurigaan kami terbukti saat dilakukan pemeriksaan, meskipun kernetnya sempat mengelak. Bangku urutan lima ke belakang telah dilepas, untuk mengikat 45 ekor kambing tersebut,” tutur Husni, Sabtu, (19/6).

Tempat Persembunyian Kambing di dalam Bus yang Ditutup Tirai

Oleh karena itu, pihaknya lanjut Husni, langsung meminta pengemudi bus untuk keluar dari parkiran dermaga menuju kantor karantina untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan kemudian dilakukan penahanan. 

“Selain tidak dilaporkan kepada pejabat Karantina di tempat pengeluaran, kambing tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen karantina dan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal,” jelasnya.

Sopir Bus Diperiksa Petugas

Hingga batas waktu 3 hari penahanan, terangnya, pemilik ternak tidak dapat melengkapi dokumen yang disyaratkan dan mengakui kesalahan mereka. Sehingga diambil keputusan untuk dilakukan tindakan penolakan ke daerah asal, sesuai Pasal 21 ayat 3, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000.

“Kepada pengemudi selaku penanggung jawab alat angkut, telah dilakukan pembinaan mengenai prosedur lalu lintas hewan. Dan ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya kembali. Selanjutnya, setelah surat perintah penolakan (KH-9A) dan berita acara penolakan (KH-9B) selesai dibuat, akhirnya puluhan kambing tersebut dikembalikan ke daerah asal,” pungkasnya. (klar)

Don`t copy text!