fbpx
Vaksinasi Covid-19 di Indonesia Tembus 10 Juta Dosis

Vaksinasi Covid-19 di Indonesia Tembus 10 Juta Dosis

Jakarta, KOBAR – Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan, bahwa hingga hari Jumat, (26/3), pihaknya telah melakukan penyuntikan vaksin Covid-19 di seluruh Indonesia sebanyak 10 juta dosis lebih.

“Saat ini, laju penyuntikan vaksin kita telah mencapai 500 ribu suntikan per hari, dan kita sudah tembus 10 juta penyuntikan Jumat lalu. Dengan capaian ini, Indonesia masuk dalam posisi 4 besar negara di dunia yang bukan produsen vaksin, tapi tertinggi dalam melakukan penyuntikan,” tutur Budi Gunadi, dalam siaran pers, Senin, (29/3).

Indonesia, jelasnya, hanya berada di bawah Jerman, Turki, dan Brasil. Dan berhasil melampaui Israel dan Prancis. 

“Ini sebuah kabar gembira,” ujar Menkes.

Lebih lanjut, ia mengatakan, bahwa vaksin Covid-19 sudah menjadi isu geopolitik. Dimana, negara-negara di seluruh dunia saling berebut untuk mendapatkan vaksin. Oleh sebab itu, vaksin yang tersedia adalah vaksin yang terbaik untuk digunakan.

“Indonesia beruntung, karena sudah menjalin kerja sama dengan 4 produsen vaksin. Yaitu; Sinovac, Astrazeneca, Novavax, dan Pfizer. Ketersediaan vaksin menjadi sangat penting dalam menjaga kelancaran program vaksinasi pemerintah,” jelasnya.

Pemerintah, terangnya, harus mengkombinasikan penggunaan berbagai macam merk vaksin Covid-19, dalam rangka memenuhi kebutuhan vaksin untuk seluruh populasi sasaran. Tidak ada satupun produsen vaksin di dunia ini yang dapat memenuhi seluruh permintaan negara-negara besar seperti Indonesia.

Di sisi lain, ia juga menyampaikan, bahwa saat ini, di sejumlah negara di Eropa dan Asia kembali terjadi lonjakan kasus Covid-19. Penyebabnya adalah karena adanya jenis virus mutasi baru, yang juga sudah masuk ke Indonesia sejak awal tahun ini, serta mobilitas yang tinggi.

“Terkait lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara. Saya ingin sampaikan bahwa meski kita sudah mengalami percepatan dalam vaksinasi, kita perlu berhati-hati mengatur laju penyuntikan, karena adanya potensi embargo dari negara produsen vaksin yang mengalami lonjakan kasus di negaranya. Kita perlu mengatur ritme vaksinasi, agar tidak ada kekosongan vaksin nantinya,” bebernya.

Lonjakan kasus di negara lain juga, terangnya, mengingatkan kita untuk senantiasa waspada. Yakni, dengan menahan mobilitas dan mematuhi disiplin protokol kesehatan. Apalagi jenis mutasi varian baru Covid-19 sangat cepat menyebar.

“Hindari bepergian, paling tidak sampai pandemi benar-benar terkontrol. Kalau nanti terjadi lonjakan kasus, kasihan tenaga kesehatan kita akan kelelahan,” pesannya.

Ia mengajak segenap masyarakat untuk ikut mensosialisasikan pentingnya vaksinasi Covid-19. Khususnya kepada kelompok masyarakat lanjut usia di atas 60 tahun. Dari kelompok prioritas kedua, jelasnya, lansia masih rendah tingkat partisipasinya. Padahal kelompok ini paling rentan, dibanding kelompok prioritas lain. Karena mereka mudah sakit, serta tingkat kematiannya tinggi.

“Mari kita upayakan bersama bagaimana bisa mendorong lansia bisa lebih cepat disuntik, agar kita dapat melindungi orang tua kita. Semakin cepat vaksinasi dilakukan, semakin cepat kita mencapai kekebalan komunal,” demikian Menteri Kesehatan. (knda)

Don`t copy text!