fbpx
Tidak Peduli Protes Masyarakat, Ritel Modern Merajalela di Sumbawa Barat

Tidak Peduli Protes Masyarakat, Ritel Modern Merajalela di Sumbawa Barat

“Wakil Rakyat Jangan Diam Saja!”

Taliwang, KOBAR – Ritel modern yang berderet di hampir setiap ruas jalan dan tersebar di setiap Kecamatan, sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Bagi sebagian orang, mungkin cukup membantu. Tapi tentu juga ada sebagian masyarakat lagi yang merasa terganggu. Terutama para pemilik toko dan kios yang dihimpit oleh para raksasa ritel tersebut.

Sejak awal masuk ke Sumbawa Barat, keberadaan ritel modern tersebut telah menuai polemik. Sejumlah masyarakat, terutama para pedagang kecil berteriak dan menjerit mengajukan protes kepada Pemerintah setempat. Tapi apa hendak dikata, sepertinya pemerintah menganggap mereka hanya angin lalu saja. 

Ujung-ujungnya, kehadiran ritel modern sudah tidak lagi dapat dibendung. 2 raja ritel modern, yaitu Indomaret dan Alfamart merajalela dan menjamur di seantero Sumbawa Barat. Buntutnya, sejumlah toko-toko kecil yang ada di sekitar 2 raja ritel itu terpaksa gulung tikar.

“Saya kecewa dengan pemerintah! Harusnya ada aturan khusus atau Perda yang mengatur tentang regulasi jarak antara ritel modern dan kios tradisional. Agar tidak berdiri ritel yang saling berdekatan. Apalagi menghimpit kios tradisional,” keluh Evi Sri Rahayu, Warga Kelurahan Menala, Kecamatan Taliwang, kepada awak media ini, Selasa, (16/2).

Dengan nada geram, ia pun mempertanyakan kepedulian para wakil rakyat yang ada gedung DPRD terhadap kondisi yang terjadi. Semestinya, kata Evi, protes masyarakat mereka serap untuk kemudian dicarikan solusi terbaik. Tidak malah dibiarkan menguap begitu saja.

“Para wakil rakyat di Bertong mestinya tidak berdiam diri. Protes warga terhadap keberadaan ritel modern itu harusnya diserap, kemudian digodok khusus sebuah Perda yang mengatur tentang ritel modern di KSB. Jangan diam saja!,” cetusnya.

Jika kondisi ini dibiarkan berlarut, lanjutnya, maka perekonomian masyarakat akan terpuruk. Kesenjangan sosial semakin menganga, inflasi dan resesi ekonomi tak bisa lagi ditangkis. Apalagi pandemi Covid-19 tak kunjung berakhir, dan lapangan pekerjaan di KSB yang kian sempit.

“Dengan pandemi yang kita tidak tahu kapan akan berakhir, membuat seretnya putaran uang di KSB begitu terasa. Banyak kios-kios kecil gulung tikar, karena sepi pembeli. KSB ini tidak sedang baik-baik saja!,” pungkas Evi Sri Rahayu. (kdon)

Don`t copy text!